Belajar Menjadi Biasa Saja

Beberapa waktu terakhir, netizen diramaikan dengan hal-hal yang lumayan kontroversial. Mulai dari ustadz Abdul Somad yang berpendapat bahwa permainan catur itu haram, reuni 212, komparasi Presiden Sukarno dengan Nabi oleh bu Sukmawati, hingga ceramah Gus Muwafiq yang lumayan ”seram” tentang kondisi kelahiran dan masa kecil kanjeng Nabi SAW.

Pro-kontra seperti ini sebenarnya wajar terjadi di ranah keilmuan agama (kecuali pertanyaan aneh bu Sukmawati), bukan tentang siapa yang mengatakannya, tapi tentang seberapa ilmiah pendapat itu bisa dipertanggung jawabkan. Anehnya, beberapa hal ini ramai karena menjadi perbincangan netizen yang cenderung fanatik buta dan terkesan melihat siapa yang berbicara. Jika yang berbicara adalah kelompoknya, mereka akan membela mati-matian. Tapi jika yang berbicara adalah kubu sebelah, mereka akan membullynya habis-habisan.

Dalam pepatah arab dikatakan, “Perhatikanlah apa yang diucapkan, jangan melihat siapa yang mengucapkan”. Maka jika ada seorang penceramah mengatakan sesuatu yang salah, lawan dengan ilmu. Jika apa yang dikatakannya salah menurut kita, tapi punya landasan ilmiah yang kuat, maka yang diutamakan adalah akhlak dan kelapangan dada dalam menerima perbedaan.

Contoh saja apa yang dikatakan ustad Abdul Somad tentang keharaman catur, referensi ilmiahnya kuat, mayoritas pandangan ulama’ Syafiiyyah yang mu’tabar memang juga demikian. Namun karena pandangan politik beliau berbeda, pendapat ini bisa menjadi bahan bulan-bulanan untuk waktu yang panjang. Bahkan mungkin sampai jadi meme di Twitter. Begitupula sebaliknya, kubu sebelahnya juga suka mencari-cari kesalahan Gus Muwafiq, Kiai Said, dll untuk menjustifikasi kubu lainnya.

Tradisi keilmuan yang menurun, gampang emosian, malas tabayun, merasa paling benar dan mudah mencap orang lain yang bukan kelompoknya adalah salah merupakan beberapa pangkal masalahnya. Hal-hal ini kemudian akan membentuk fanatisme sosok atau kelompok secara berlebihan. Akhirnya, fanatisme kelompok hanya akan menimbulkan perpecahan bila tidak didasari akhlak yang baik dan sikap lapang dada.

Pesantren Sidogiri adalah salah satu contoh pesantren yang sangat saya kagumi, sebagaimana mereka merespon ketidak-cocokan pandangan dengan Kiai Said Aqil dengan mengeluarkan sebuah buku yang khusus untuk menolak beberapa pemikirannya. Disisi lain Kiai Said juga terbuka mendapat kritikan ilmiah, bahkan sering mampir ke Sidogiri untuk menghadiri beberapa acara diskusi disana. Pada dasarnya, mereka yang ‘alim memang lebih mudah untuk menundukkan kepala dan mengutamakan akhlak serta kelapangan dada, sedangkan para pengikutnya yang fanatik, tidak bisa bersikap biasa saja.

Untuk menutup, Imam Syahid Said Ramadan al-Buthi dalam kitabnya Fiqh as-Sirah menyebutkan bahwa perbedaan pendapat yang bertumpu pada fanatisme adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Perbedaan pendapat antara dua orang(kelompok) seharusnya memiliki dalil ilmu yang logis.

Lha terus kudu piye? Yo ora pie-pie, biasa wae. Wallahu a’lam.

Aku Mencintaimu

Imam al-Qusyairi menuliskan salah satu riwayat dalam kitabnya, Risalah al-Qusyairiyyah yang bersumber dari Anas bin Malik bahwa beliau SAW dawuh, “Kapan aku akan bertemu para kekasihku?”.

Sontak para sahabat bertanya, “Bukankah kami ini adalah para kekasihmu ya nabi?” Nabi menjawab,”Kalian adalah para sahabatku, para kekasihku adalah mereka yang tak pernah melihatku, tetapi mereka percaya kepadaku. Dan kerinduanku kepada mereka lebih besar.”


Bagaimana mungkin kami tak rindu padamu, sedangkan engkau lebih dulu merindukan kami berabad-abad yang lalu.
Bagaimana mungkin kami tak cinta padamu, sedangkan engkau sudah mencintai kami jauh sebelum kami mengenal kata dan istilah cinta itu.


Selamat merayakan maulid Nabi Muhammad Saw.
Allahumma shalli wa sallim wa baarik ‘ala nabiyyika Muhammad 🙏🏼

Cinta, Siapa yang Tahu?

Beberapa waktu yang lalu, pengajian kitab Mukhtar al-Ahadits an-Nabawiyyah di kantor sampai pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi yang bunyinya :

أحبب حبيبك هوناما، عسى أن يكون بغيضك يوماما, وابغض بغيضك هوناما، عسى أن يكون حبيبك يوماما

Artinya: Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, bisa jadi ia akan menjadi musuhmu suatu hari nanti. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, boleh jadi ia akan menjadi kekasihmu suatu saat nanti.

fabrizio-verrecchia-bQxGg8Vx1Vc-unsplash

Hadits ini memang banyak diperdebatkan tingkat keshahihannya oleh para ahli hadits, ada yang menyebutnya gharib, ada yang mengatakan statusnya marfu’, ada juga yang men-shahih-kannya, bahkan tidak sedikit yang menyebutnya dhoif atau lemah. Perbedaan pendapat seperti ini sebenarnya sudah biasa di kalangan ahli hadits, karena sejatinya status level hadits adalah salah satu bentuk ijtihad para ahli hadits.

Terlepas dari itu semua, kita boleh saja mengambil manfaat dari hadits ini karena tidak terpaut dengah dalil hukum fiqih. Sebagaimana pendapat ulama Syafiiyah yang menyatakan bahwa menggunakan hadits dhoif pun boleh saja sebagai fadhail al-amal asalkan tidak bertentangan dengan Qur’an dan hadits sahih.

Kata ‘Asaa dalam Ranah Kehidupan Sosial

Dalam kitab suci, beberapa ditemukan kata ‘asaa (terj: bisa jadi) di beberapa surat yang berbeda. Beberapa ayat itu antara lain:

Wa ‘asaa an takrohu syai’an wahuwa khoirun lakum, wa ‘asaa an tuhibbu syai’an wahuwa syarrun lakum (Al-Baqoroh).

Artinya: “Dan boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik untuk kalian. Bisa jadi juga kalian sangan mencintai sesuatu, padahal itu buruk untuk kalian.”

Adapun di juz 28 dalam surat Al-Mumtahanah juga akan ditemui, ‘Asaa Allahu an yaj’ala baynakum wa bayna alladzina ‘adaytum minhum mawaddah. 

Artinya: “Bisa saja Allah menjadikan rasa kasih sayang diantara kalian dan orang-orang yang kalian musuhi”

Beberapa ayat diatas adalah contoh nyata bahwa manusia itu memang makhluk yang sangat dinamis, pagi sayang, malamnya sudah perang. Bagaimana mungkin? ya mungkin saja, namanya juga makhluk.

Maka akan banyak sekali dijumpai dalam kehidupan ini, awalnya cinta berubah jadi kecewa, bermula benci tapi rindu juga, dan seterusnya. Itulah kenapa mayoritas kaum sufi lebih memilih meletakkan rasa suka dan cinta pada tempat yang tepat, yaitu cinta pada rabbul ‘alamin. Karena Allah adalah dzat yang absolut dan pasti, sedangkan makhluk hanya akan selalu diliputi dengan segala ke-bisa jadi-annya dan semua ketidak pastiannya.

Lalu? simpulkan saja sendiri 🤭.
Wallahu a’lam.

Kita Seharusnya Tahu Kalau Kita Tidak Tahu (Bag 1)

Kanjeng Nabi bersabda, “Barang siapa yang dihendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya (menjadikannya ahli) dalam urusan Agama”. Hadits ini sangat terkenal, utamanya jika kita membuka kitab-kitab fiqih karya para ulama salaf, teks hadits ini biasanya diletakkan di atas bagian pembukaan kitab.

Penyebutan istilah fiqih sendiri memang berasal dari hadits ini, karena sebenarnya fiqih adalah pemahaman tentang hukum islam. Kasarnya, fiqih mengungkap pemahaman-pemahaman para ulama’ (yang sesuai persyaratan tentunya) tentang pola hukum ibadah dan muamalah berdasarkan teks induk (al-qur’an dan hadits). Fiqih kemudian dikemas secara sistematis, terstruktur dan siap saji, sehingga seorang awam pun akan dengan sangat mudah memahaminya untuk kemudian mempraktikkannya.

Image result for kitab kuning
Source: Wikipedia

Fiqih merupakan produk hukum siap saji ini dikembangkan melalui metodologi khusus, sistemik, dan konsisten yang pertama kali dirancang prosedurnya oleh Imam Syafi’i dalam kitab Ar-Risalah, kitab ushul fiqih pertama. Metode ini dibukukan disaat-saat akhir setelah produk hukum fiqih madzhab Syafi’i sudah banyak beredar, sebagai sebuah metode yang ditawarkan Imam Syafi’i kepada Abdurrahman bin Mahdi yang kala itu berada di Makkah untuk melakukan ijtihad dalam beberapa hal khusus.

Beliau (as-Syafi’i) menyebutkan 4 dasar istinbath hukum, yaitu al-qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas. Sampai beliau berpendapat dalam kitab ini bahwa “Tidak boleh bagi seseorang mengatakan suatu masalah dengan kata -ini halal dan ini haram- kecuali sudah memiliki pengetahuan (ahli) tentang hal itu. Pengetahuan tersebut adalah Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.”

Ketika seseorang menghafal hadits atau ayat al-qur’an tidak serta merta membuat orang itu bisa melakukan istinbath hukum dan menelurkan satu produk hukum terhadap masalah tertentu. Ibnul Qayyim dalam pembukaan salah satu kitabnya yang berjudul I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-‘Alamin menukil sebuah kisah yang sangat menarik, disadurnya dari riwayat Muhammad bin Abdullah bin Al-Munadi. Muhammad adalah salah satu perawi hadits yang beberapa kali menjadi “perantara sanad” bagi para Imam hadits. Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya, Al-Jami’ mengkategorikannya sebagai perawi yang tsiqah (kredibel).

Suatu ketika, Muhammad mendengar seseorang sedang bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal (Pemimpin madzhab Hanbali),

“Wahai Imam, Jika ada seseorang yang sudah hafal 100 ribu hadits, apakah ia sudah dikatakan faqih(Ahli fikih)?”
“Belum” jawab Imam Ahmad.

Kemudian orang ini bertanya lagi, “Seandainya hafal 200 ribu hadits?”,
Imam Ahmad lagi-lagi menjawab “belum”.

Sekali lagi, orang itu bertanya “Kalau hafal 300 ribu hadits?”, Imam Ahmad menanggapi lagi, “Tentu belum”.

Kemudian orang itu bertanya lagi, “Jika hafal 400 ribu hadits?”, Imam Ahmad menjawab, “Mungkin bisa.” sambil mengisyaratkan gerak tangan yang terombang-ambing.

Kemudian dari sumber yang lain Abul Husain pernah bertanya pada kakeknya tentang jumlah hafalan hadits Imam Ahmad bin Hanbal, hingga sang kakek menjawab “Sekitar 600 ribu hadits”. Sedangkan ada beberapa pendapat lain dari Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar al-‘Alam an-Nubalaa sebagaimana diriwayatkan dari Abu Zur’ah ketika berbicara dengan Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan “Bapakmu (Ahmad bin Hanbal) itu hafal satu juta hadits”.

Selain terkenal sebagai seorang mujtahid fiqih, Imam Ahmad juga merupakan salah satu imam hadits. Ada satu kitab hadits yang pernah ditulisnya berjudul Musnad Imam Ahmad, di dalamnya ‘hanya’ terdapat sekitar 27 ribu hadits yang sempat beliau tuliskan.

Maka kita sebagai orang awam hendaklah cukup berpegang pada ayat Allah,

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

Bertanyalah kepada Ahli Dzikir (orang yang mengetahui/ulama) jika kalian tidak mengetahui“. (QS An-Nahl: 34)

Wafatnya Seorang Alim adalah Musibah Terbesar Dunia

Pada suatu kesempatan KH Ma’ruf Amin dawuh “mautul ‘alim mautul ‘alam”. Meninggalnya seorang alim seperti matinya dunia. Pagi ini ada kabar yang sangat menghentak, seorang ‘alim besar Indonesia yang telah terbukti mencetak puluhan ribu kader ulama nusantara meninggal dunia. Hadratu as-Syaikh Maimoen Zubair namanya, bukan saja ‘alim, juga ‘allamah dan faqih. Pengasuh pondok pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Beliau meninggal dalam rangkaian prosesi persiapan haji, di Makkah al-Mukarramah.

Dalam surah Ar-Ra’d ayat 41 Allah berfirman,

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا ۚ وَاللَّهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ ۚ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami mendatangi daerah-daerah (orang yang ingkar kepada Allah), lalu Kami kurangi (daerah-daerah) itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; Dia Mahacepat perhitungan-Nya.

Sedikit penjelasan dalam kitab tafsir Ibnu Katsir yang dinukil dari perkataan Ibnu Abbas dan Mujahid. Berikut adalah kutipannya,

وقال ابن عباس في رواية : خرابها بموت فقهائها وعلمائها وأهل الخير منها . وكذا قال مجاهد أيضا : هو موت العلماء

“Berkata Ibnu Abbas dalam satu riwayat: Berkurangnya bumi adalah dengan kematian fuqaha dan ulama’-nya, serta para ahlul khair darinya. Demikian pula Imam Mujahid mengatakan juga: Berkurangnya bumi adalah kematian ulama’.”

Dalam suatu hadits yang mulia juga Nabi bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Namun, Ia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Ia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinanpimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Saat ini dunia sedang diguncang salah satu bencana terbesarnya, yaitu mautu al-‘alim, sebaik-baik manusia ketika datang kepadanya suatu musibah adalah mereka yang mengatakan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”. Dan sebagaimana dawuh Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin, generasi penerus ulama’ harus tetap meletakkan harapan setinggi-tingginya sehingga mampu menambal lubang di dalam agama ini.

إذا مات العالم ثلم في الإسلام ثلمة لا يسدها الا خلف منه

“Jika satu ulama wafat, maka ada sebuah lubang dalam Islam yang tak dapat ditambal kecuali oleh generasi penerusnya.”

Wallahu A’lam

*Mohon do’a dan fatihah sebanyak-banyaknya untuk Hadratu as-Syaikh Maimoen Zubair

Menilai Maqom Keimanan Kita

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya yang sangat fenomenal, Ihya’ Ulumiddin mengemukakan bahwa ada 3 tingkatan iman bagi orang yang beriman. Tentu saja tingkatan ini bukan untuk menghakimi orang lain, tapi lebih untuk mengukur seberapa dalam kadar keimanan yang kita miliki, atau sampai manakah ketahanan iman kita sebagai kaum mukminin.

Dalam Ihya’ juz 3 halaman 21 (Cetakan DKI), disebutkan oleh Al-Ghazali bahwa 3 tingkatan iman itu adalah, imannya orang awam, imannya ahli kalam, dan yang tertinggi adalah imannya para ‘arifin. Ketiga tingkatan ini berurutan mulai level yang paling bawah yaitu imannya orang awam, hingga puncaknya adalah imannya para ‘arifin, yaitu level iman para nabi dan auliya (para wali Allah).

Image by David Monje
3 Maqom Iman

Iman Orang Awam adalah imannya para muqollid. Pada maqom ini orang mengimani Allah dengan cara yang sangat simpel, yaitu ikut-ikutan. Sebagaimana dicontohkan, seseorang akan mempercayai bahwa Zaid ada di dalam rumahnya karena ada orang membawakan kabar itu (tentunya orang awam ini mempercayai si pembawa kabar itu).

Iman Ahli Kalam adalah imannya para ahlul ‘ilm. Mereka mengimani Allah karena memiliki berbagai macam petunjuk dan argumen bahwa memang hanya Allah sajalah yang patut diimani.

Jika pada kabar pertama tadi orang awam langsung percaya bahwa Zaid ada di dalam rumahnya, maka orang pada level ahli kalam ini pasti akan mengecek tanda-tanda kebenaran bahwa Zaid benar-benar ada di dalam rumah. Bagaimana? beragam cara, bisa karena melihat ada sandal Zaid di teras rumahnya, atau bahkan mendengar suara Zaid dari dalam, atau melihat kendaraan yang biasa dikendarai Zaid terparkir rapi di depan rumahnya, dan lain sebagainya.

Model iman seperti inilah yang kemudian oleh imam ahlussunnah, Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dianggap sebagai iman yang ideal. Seorang mukmin haruslah memiliki argumentasi logis dan ilmiah tentang keimanannya, meskipun itu hanya mengikuti bermacam bukti atau petunjuk yang sudah ada.

Iman Para ‘Arifin adalah level imannya para nabi dan auliya. Bagaimana tidak, para ‘Arifin ini sudah benar-benar membuktikan bahwa memang hanya Allah saja lah yang layak diimani. Mereka telah melihat Allah dengan nur yaqin.

Jika disambungkan dengan proses pembuktian bahwa Zaid ada dirumahnya, orang pada maqom ini sudah membuktikan secara nyata bahwa Zaid memang ada di dalam rumahnya. Orang ini mengalami pengalaman nyata dengan melihat Zahid dan mungkin sampai bersalaman dan mengobrol dengannya.

Menakar Ketahanan Iman

Jika diurutkan ulang, imannya orang awam ini adalah level iman yang paling mudah diraih tapi juga paling mudah hilang. Semua tergantung lagi pada siapa orang ini bergaul, karena memang iman pada maqom ini sangat mengikuti orang yang dipercayainya.

Bagaimana dengan iman para ahli kalam? Orang pada maqom ini akan butuh waktu lebih lama untuk percaya, tapi sekali ia mendapatkan petunjuk/argumen, ia akan mempertahankannya hingga ada petunjuk lain yang membuktikan sebaliknya.

Lalu apa yang akan terjadi dengan orang pada maqom ‘arifin? Apakah mungkin orang ini akan mengalami naik-turunnya iman? Tidak. Orang seperti ini sudah benar-benar membuktikan dan mengalami wahdatu asy-syuhud, sebuah fenomena penyaksian spiritual yang benar-benar membuktikan bahwa sesungguhnya hanya Allah yang penting, selainnya bukanlah apa-apa.

Fenomena spiritual inilah yang kadang menjadi kontroversi saat mulai diucapkan atau dituliskan dengan kata-kata. Karena memang tidak ada kata-kata yang mampu menceritakan peristiwa batin seseorang sesuai dengan kejadian sebenarnya. Kemudian muncullah beberapa auliya yang sampai mengatakan kata-kata kontroversi seperti Abu Mansur al-Hallaj, Abu Yazid Busthomi, dll.

Bagaimana dengan kita yang amatiran ini? Setidaknya ingat selalu doa yang diajarkan kanjeng nabi pada kita, “Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbiy ‘ala diinik”. Wallahu a’lam.

Menghijrahkan Hijrah, Lahiriyah Menuju Batiniyah

Ada sebuah kisah menarik yang sangat bisa kita ambil hikmahnya, mengingat fenomena hijrah hari ini juga semakin digandrungi masyarakat kita. Kisah ini terdokumentasi dalam kitab berjudul Hayat al-Salaf baina al-Qaul wa l-‘Amal yang ditulis oleh Ahmad Nasir Tayyar, yaitu tentang hijrahnya seorang Syaqiq bin Ibrahim dari hiruk pikuk ramainya dunia menuju jalan sunyi para sufi.

Foto oleh Nathan McBride

Syaqiq berujar, “Dahulu aku adalah seorang penyair yang bergelimang harta, kemudian Allah memberikan padaku rizki yang lebih besar, taubat. Dan aku melepaskan diri dari kehidupan mewahku, kurelakan 300 ribu dirham demi untuk berpakaian shuf (pakaian lusuh dari wol) selama 20 tahun. Sungguh, aku tidak pernah merasa setertipu ini hingga aku bertemu dengan Abdul Aziz bin Abi Rawwad.”

Kemudian Abdul Aziz berkata pada Syaqiq, “Tidak penting, jika kamu hanya menyibukkan diri dengan memakan jerawut dan memakai pakaian shuf. Hal yang seharusnya penting adalah saat engkau mengenal Allah dalam dadamu dan tidak menyekutukannya dengan suatu apapun, dan hendaknya kamu ridho dengan segala ketentuan-Nya, hingga engkau lebih yakin dengan apa yang datang dari Allah daripada apa yang datang dari tangan manusia”

Tampaknya kisah ini cukup relevan di zaman sekarang, tentu saja meskipun saat ini jalur hijrah yang ditempuh bukan jalur sufi seperti yang dilakukan Syaqiq. Tapi jika ditarik benang merah, Syaqiq meninggalkan dunianya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sayangnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk fokus pada pakaiannya, apa yang sepertinya terlihat oleh manusia.

Nyatanya beberapa tahun kebelakang juga terjadi fenomena seperti kisah diatas, bahkan dalam konteks masyarakat luas. Bagaimana banyak artis, tokoh masyarakat, hingga orang awam melakukan hijrah, sampai-sampai muncul komunitas hijrah dan semacamnya. Jika mau ditarik lebih dalam lagi, hijrah sebagai sebuah komoditas pun sudah memiliki nilai yang sangat besar.

Bukankah ini sebuah pertanda bahwa islam semakin mudah diterima sebagai pilihan jalan hidup manusia? Betul sekali, setidaknya kesadaran beragama semakin hidup di tengah masyarakat kita. Bukankah ini hal yang selalu diinginkan oleh para ulama’ nusantara terdahulu? Dimana agama bisa mewarnai seluruh sendi-sendi kehidupan manusia, sebagai apapun dia.

Sayangnya, ada setitik tinta di kain putih suci ini. Seperti beberapa laku sebagian kaum “muhajirin” yang merasa bahwa jalannya adalah satu-satunya jalan kebenaran. Sebagian lain yang sangat bersemangat mulai menyeru ke “jalan Allah” dengan modal ilmu yang sangat sedikit.

Jika kembali ke kisah diatas, masa-masa seperti ini akan habis dengan sendirinya, dan mereka mau mengambil pelajaran dari semua yang dilaluinya. Sehingga, alangkah baiknya langkah awal kehidupan pasca hijrah juga diimbangi dengan banyak-banyak mengambil ilmu dari ulama’, agar hasilnya bukan tampilan lahir semata. Tapi juga pensucian ruhani, sehingga tumbuh keyakinan bahwa Allah adalah rabb semesta alam, tidak ada sekutu bagiNya. Hingga puncaknya, tumbuh keyakinan seyakin-yakinnya bahwa Tuhan maha mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia.

Saat keyakinan itu tumbuh, pastilah ia tidak akan memikirkan apa yang datang dari manusia, baik itu penglihatannya, maupun pujian-pujiannya. Sehingga muncul keridhaan atas apa yang telah ditetapkan Tuhan. Jika seorang Syaqiq bin Ibrahim yang terkenal dengan kesufiannya saja pernah terjebak di fase ruwet selama 20 tahun, lalu bagaimana dengan manusia zaman sekarang? Sebelum semuanya ruwet, mari segera kita hijrahkan hijrah kita. Wallahu a’lam.

Tabik,

Ibnu Masud

Sudah Seharusnya Kita Menjadi Umat Paling Bahagia di Dunia

Sebagai seorang yang memiliki iman dan mengaku muslim, kita seharusnya menjadi umat paling bahagia di dunia ini. Setidaknya atas dasar keimanan itu, kita memiliki gusti Allah dan kanjeng nabi Muhammad di dalam hati kita. Bukan main-main, nikmat mana yang lebih istimewa dari ini?

Melihat sekitar, baik di dunia nyata maupun maya, beberapa gambaran laku saudara kita akhir-akhir ini sangat menunjukkan kesan tidak bahagia dalam menjalani tugas hidupnya, ada yang selalu terlihat susah, ada yang setiap hari bingung, dan tidak sedikit juga yang kerjaannya marah-marah lho. Beberapa gambaran laku ini tentu saja sangat berbalik dengan definisi kata bahagia. Jadi, apa yang bisa membuat orang-orang itu menampilkan aura bahagia? Kalo pilihan politiknya menang? Sepertinya iya.

Tertawa gampang to? Hehe

Dalam surah Yunus ayat 57-58 disebutkan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ (57) قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ (58

57. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
58. Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

Di ayat pertama Gusti Allah mengajak dialog umat manusia dengan memberitahukan informasi tentang apa yang telah dikirimkannya kepada umat manusia, yaitu Al-Qur’an yang didalamnya terdapat 4 intisari, mauizhah, syifa’, huda, dan rahmat. Dalam tafsirnya, Al-Qurtuby memberi sedikit informasi mengenai 4 hal ini,

Terjemah bebasnya:

Wahai manusia! Sungguh telah datang mauizhah, yaitu pelajaran/nasehat dari Tuhanmu (Al-Qur’an) yang didalamnya terdapat pelajaran dan hikmah dari kisah umat terdahulu. Di dalamnya juga terdapat syifa’/obat untuk segala penyakit yang ada di dalam dada, seperti keraguan, kemunafikan, perseteruan dan perpecahan. Di dalamnya juga ada huda, yaitu petunjuk bagi yang mengikutinya, serta rahmat, yang dimaknai sebagai nikmat khusus bagi orang beriman, karena mereka mendapat kenikmatan itu karena imannya. Sedangkan yang tidak beriman tidak akan mengambil pelajaran, obat, petunjuk, dan rahmat ini dari al qur’an.

Pelajaran sederhananya, ketika seorang mukmin mau mengambil hikmah yang terkandung dalam kitabullah, pelajaran-pelajaran itu akan menjadi obat dan jalan keluar bagi segala sumpeg yang ada di dalam dada, setiap orang yang bersih dari penyakit hati, maka bashirah-nya akan merespon pada petunjuk yang diberikan Allah, yang dengan mengikuti petunjuk itu, Allah akan memberikan rahmat baginya.

Selanjutnya di ayat kedua lebih ditegaskan melalui pemberian mandat kepada kanjeng nabi Muhammad untuk menyeru kepada umatnya agar berbahagia, karena adanya fadhal dan rahmat Allah. Dalam kitab yang sama, Al-Qurtuby menjelaskan lagi tentang maksud fadhal dan rahmat Allah. Dikutip dari pendapat Abu Said Al-Khudriy dan Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa yang dimaksud fadhal adalah Al-Qur’an, dan rahmat yaitu agama Islam.

Kebahagiaan munculnya dari dalam hati, dengan menyadari apa yang membuatnya bahagia, sehingga pada puncaknya akan tampak aura kebahagiaan dalam hidup kita. Walaupun, ada bahagia yang memang Tuhan tidak menghendaki, sebagaimana terdapat di Al-Qur’an surah Al-Qasas, “Laa tafrah, innallaha laa yuhibbul farihin”. Tapi dengan nikmat Islam serta Al-Quran yang kita miliki, kebahagiaan macam apa lagi yang bisa melampauinya? Westo, Ndak ada! Maka itu, ayat ini ditutup dengan statemen bahwa apapun yang kita kumpulkan di dunia, baik harta, jabatan, dan lainnya tidak akan lebih baik dari fadhal dan rahmat Allah.

Kalo mereka yang tidak diberi nikmat iman saja bisa bermaksiat dengan sangat santai dan bahagia, tidak bisakah kita merasa happy dengan status ‘abid yang ada di pundak kita? Kenapa pula harus marah-marah saat memiliki nikmat terbesar di dunia ini? Dan apakah dalam tradisi kita, menunjukkan kebahagiaan atas nikmat kepada orang lain yang belum mendapatkannya adalah dengan cara membentak, mengumpat, dan melecehkan orang itu? Wallahu a’lam.

Tabik,

Ibnu Masud