Menilai Maqom Keimanan Kita

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya yang sangat fenomenal, Ihya’ Ulumiddin mengemukakan bahwa ada 3 tingkatan iman bagi orang yang beriman. Tentu saja tingkatan ini bukan untuk menghakimi orang lain, tapi lebih untuk mengukur seberapa dalam kadar keimanan yang kita miliki, atau sampai manakah ketahanan iman kita sebagai kaum mukminin.

Dalam Ihya’ juz 3 halaman 21 (Cetakan DKI), disebutkan oleh Al-Ghazali bahwa 3 tingkatan iman itu adalah, imannya orang awam, imannya ahli kalam, dan yang tertinggi adalah imannya para ‘arifin. Ketiga tingkatan ini berurutan mulai level yang paling bawah yaitu imannya orang awam, hingga puncaknya adalah imannya para ‘arifin, yaitu level iman para nabi dan auliya (para wali Allah).

Image by David Monje
3 Maqom Iman

Iman Orang Awam adalah imannya para muqollid. Pada maqom ini orang mengimani Allah dengan cara yang sangat simpel, yaitu ikut-ikutan. Sebagaimana dicontohkan, seseorang akan mempercayai bahwa Zaid ada di dalam rumahnya karena ada orang membawakan kabar itu (tentunya orang awam ini mempercayai si pembawa kabar itu).

Iman Ahli Kalam adalah imannya para ahlul ‘ilm. Mereka mengimani Allah karena memiliki berbagai macam petunjuk dan argumen bahwa memang hanya Allah sajalah yang patut diimani.

Jika pada kabar pertama tadi orang awam langsung percaya bahwa Zaid ada di dalam rumahnya, maka orang pada level ahli kalam ini pasti akan mengecek tanda-tanda kebenaran bahwa Zaid benar-benar ada di dalam rumah. Bagaimana? beragam cara, bisa karena melihat ada sandal Zaid di teras rumahnya, atau bahkan mendengar suara Zaid dari dalam, atau melihat kendaraan yang biasa dikendarai Zaid terparkir rapi di depan rumahnya, dan lain sebagainya.

Model iman seperti inilah yang kemudian oleh imam ahlussunnah, Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dianggap sebagai iman yang ideal. Seorang mukmin haruslah memiliki argumentasi logis dan ilmiah tentang keimanannya, meskipun itu hanya mengikuti bermacam bukti atau petunjuk yang sudah ada.

Iman Para ‘Arifin adalah level imannya para nabi dan auliya. Bagaimana tidak, para ‘Arifin ini sudah benar-benar membuktikan bahwa memang hanya Allah saja lah yang layak diimani. Mereka telah melihat Allah dengan nur yaqin.

Jika disambungkan dengan proses pembuktian bahwa Zaid ada dirumahnya, orang pada maqom ini sudah membuktikan secara nyata bahwa Zaid memang ada di dalam rumahnya. Orang ini mengalami pengalaman nyata dengan melihat Zahid dan mungkin sampai bersalaman dan mengobrol dengannya.

Menakar Ketahanan Iman

Jika diurutkan ulang, imannya orang awam ini adalah level iman yang paling mudah diraih tapi juga paling mudah hilang. Semua tergantung lagi pada siapa orang ini bergaul, karena memang iman pada maqom ini sangat mengikuti orang yang dipercayainya.

Bagaimana dengan iman para ahli kalam? Orang pada maqom ini akan butuh waktu lebih lama untuk percaya, tapi sekali ia mendapatkan petunjuk/argumen, ia akan mempertahankannya hingga ada petunjuk lain yang membuktikan sebaliknya.

Lalu apa yang akan terjadi dengan orang pada maqom ‘arifin? Apakah mungkin orang ini akan mengalami naik-turunnya iman? Tidak. Orang seperti ini sudah benar-benar membuktikan dan mengalami wahdatu asy-syuhud, sebuah fenomena penyaksian spiritual yang benar-benar membuktikan bahwa sesungguhnya hanya Allah yang penting, selainnya bukanlah apa-apa.

Fenomena spiritual inilah yang kadang menjadi kontroversi saat mulai diucapkan atau dituliskan dengan kata-kata. Karena memang tidak ada kata-kata yang mampu menceritakan peristiwa batin seseorang sesuai dengan kejadian sebenarnya. Kemudian muncullah beberapa auliya yang sampai mengatakan kata-kata kontroversi seperti Abu Mansur al-Hallaj, Abu Yazid Busthomi, dll.

Bagaimana dengan kita yang amatiran ini? Setidaknya ingat selalu doa yang diajarkan kanjeng nabi pada kita, “Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbiy ‘ala diinik”. Wallahu a’lam.

Sudah Seharusnya Kita Menjadi Umat Paling Bahagia di Dunia

Sebagai seorang yang memiliki iman dan mengaku muslim, kita seharusnya menjadi umat paling bahagia di dunia ini. Setidaknya atas dasar keimanan itu, kita memiliki gusti Allah dan kanjeng nabi Muhammad di dalam hati kita. Bukan main-main, nikmat mana yang lebih istimewa dari ini?

Melihat sekitar, baik di dunia nyata maupun maya, beberapa gambaran laku saudara kita akhir-akhir ini sangat menunjukkan kesan tidak bahagia dalam menjalani tugas hidupnya, ada yang selalu terlihat susah, ada yang setiap hari bingung, dan tidak sedikit juga yang kerjaannya marah-marah lho. Beberapa gambaran laku ini tentu saja sangat berbalik dengan definisi kata bahagia. Jadi, apa yang bisa membuat orang-orang itu menampilkan aura bahagia? Kalo pilihan politiknya menang? Sepertinya iya.

Tertawa gampang to? Hehe

Dalam surah Yunus ayat 57-58 disebutkan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ (57) قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ (58

57. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
58. Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

Di ayat pertama Gusti Allah mengajak dialog umat manusia dengan memberitahukan informasi tentang apa yang telah dikirimkannya kepada umat manusia, yaitu Al-Qur’an yang didalamnya terdapat 4 intisari, mauizhah, syifa’, huda, dan rahmat. Dalam tafsirnya, Al-Qurtuby memberi sedikit informasi mengenai 4 hal ini,

Terjemah bebasnya:

Wahai manusia! Sungguh telah datang mauizhah, yaitu pelajaran/nasehat dari Tuhanmu (Al-Qur’an) yang didalamnya terdapat pelajaran dan hikmah dari kisah umat terdahulu. Di dalamnya juga terdapat syifa’/obat untuk segala penyakit yang ada di dalam dada, seperti keraguan, kemunafikan, perseteruan dan perpecahan. Di dalamnya juga ada huda, yaitu petunjuk bagi yang mengikutinya, serta rahmat, yang dimaknai sebagai nikmat khusus bagi orang beriman, karena mereka mendapat kenikmatan itu karena imannya. Sedangkan yang tidak beriman tidak akan mengambil pelajaran, obat, petunjuk, dan rahmat ini dari al qur’an.

Pelajaran sederhananya, ketika seorang mukmin mau mengambil hikmah yang terkandung dalam kitabullah, pelajaran-pelajaran itu akan menjadi obat dan jalan keluar bagi segala sumpeg yang ada di dalam dada, setiap orang yang bersih dari penyakit hati, maka bashirah-nya akan merespon pada petunjuk yang diberikan Allah, yang dengan mengikuti petunjuk itu, Allah akan memberikan rahmat baginya.

Selanjutnya di ayat kedua lebih ditegaskan melalui pemberian mandat kepada kanjeng nabi Muhammad untuk menyeru kepada umatnya agar berbahagia, karena adanya fadhal dan rahmat Allah. Dalam kitab yang sama, Al-Qurtuby menjelaskan lagi tentang maksud fadhal dan rahmat Allah. Dikutip dari pendapat Abu Said Al-Khudriy dan Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa yang dimaksud fadhal adalah Al-Qur’an, dan rahmat yaitu agama Islam.

Kebahagiaan munculnya dari dalam hati, dengan menyadari apa yang membuatnya bahagia, sehingga pada puncaknya akan tampak aura kebahagiaan dalam hidup kita. Walaupun, ada bahagia yang memang Tuhan tidak menghendaki, sebagaimana terdapat di Al-Qur’an surah Al-Qasas, “Laa tafrah, innallaha laa yuhibbul farihin”. Tapi dengan nikmat Islam serta Al-Quran yang kita miliki, kebahagiaan macam apa lagi yang bisa melampauinya? Westo, Ndak ada! Maka itu, ayat ini ditutup dengan statemen bahwa apapun yang kita kumpulkan di dunia, baik harta, jabatan, dan lainnya tidak akan lebih baik dari fadhal dan rahmat Allah.

Kalo mereka yang tidak diberi nikmat iman saja bisa bermaksiat dengan sangat santai dan bahagia, tidak bisakah kita merasa happy dengan status ‘abid yang ada di pundak kita? Kenapa pula harus marah-marah saat memiliki nikmat terbesar di dunia ini? Dan apakah dalam tradisi kita, menunjukkan kebahagiaan atas nikmat kepada orang lain yang belum mendapatkannya adalah dengan cara membentak, mengumpat, dan melecehkan orang itu? Wallahu a’lam.

Tabik,

Ibnu Masud