Penyaksian Hati: Sebuah Pengalaman Ruhani

Dalam dunia pesantren Indonesia, al-Ghazali adalah sosok yang sangat populer. Barangkali santri pesantren bisa menyebutkan lebih dari lima kitab karya al-Ghazali. Beliau adalah tokoh yang dijadikan sebagai rujukan pandangan tasawuf di Indonesia, setidaknya untuk kalangan Nahdhatul Ulama’. Dalam beberapa pandangan mistiknya, beliau menguraikan cara untuk memahami fenomena-fenomena ruhani secara gamblang dan jelas dalam kitab-kitabnya seperti Ihya’ Ulum al-Din, al-Arbain fi Ushul al-Din, Minhaj al-Abidin, al-Munqidz, dll.

Dalam memahami fenomena ruhani ini, al-Ghazali menyatakan bahwa perangkat paling vital untuk merasakan fenomena dahsyat ini adalah qalbu. Qalbu dalam pandangan al-Ghazali bukanlah hati sebagai segumpal darah yang terletak pada dada kiri bagian bawah di tubuh manusia, ia adalah “sesuatu” dalam diri manusia yang mampu menjangkau daya rohaniah ketuhanan. Dengan qalbu ini pulalah seluruh anggota tubuh manusia akan tunduk dan mengikutinya.

Qalbu bagi al-Ghazali juga seperti cermin, sedangkan ilmu merupakan pantulan gambar realitas yang termuat di dalamnya. Jika cermin ini tidak dalam kondisi bening dan tertutup kotoran-kotoran, maka cermin ini tidak akan bisa memantulkan realitas-realitas ilmu secara hakiki. Cara pembersihan hati inilah yang kemudian banyak dibahas al-Ghazali dalam teori tasawufnya. Sehingga, qalbu mampu merasakan ma’rifat dengan Allah melalui proses fana’ dengan musyahadahnya.

Photo by Alexander Acea
Fana’ dalam Perspektif al-Ghazali

Al-Ghazali secara eksplisit menyatakan bahwa Allah swt itu satu, yaitu satu bermakna tunggal. Allah bukanlah fisik yang dapat dibayangkan, serta bukan wujud yang dapat diukur. Allah tidak menyerupai bentuk fisik, baik kriterianya maupun keragamannya. Dia bukan atom dan tidak ditempati atom, bukan materi dan tidak ditempati materi. Bahkan Allah tidak serupa dengan maujud, dan sebaliknya. Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupainya, dan tidak ada sekutu baginya.

Bagi al-Ghazali, seorang arif tidak melihat apapun kecuali Allah swt. Ia tidak mengetahui apa saja selain-Nya. Tentu saja bukan dalam bentuk wujud-Nya, akan tetapi pada sisi ciptaan-Nya dan perbuatan-Nya. Dalam konteks ini, seorang arif tidak melihat dalam suatu af’al (hasil perbuatan), kecuali ada fa’il (pelaku perbuatan). Kemudian seorang arif yang sudah pada tahap ini akan melebur pengetahuannya tentang langit, bumi, hewan-hewan, tanaman, bahkan dirinya sendiri dan melihat dari sisi manapun bahwa semua ini adalah af’al-nya Allah swt. Sehingga apapun yang ada dalam dunia ini termasuk bentuk af’al Allah. Bentuk penyaksian ini adalah puncak syuhud kaum mutashowwifah yang disebut sebagai maqom fana’ dalam tauhid, karena ia melebur dan tenggelam bersama dirinya sendiri dalam ketauhidannya.

Fana’, diawali dengan proses wahdatu asy-syuhud. Hal ini berbeda total dengan konsep wahdatu al-wujud (pada masa itu) yang lebih dekat dengan praktek hulul dan ittihad. Terlihat dari bagaimana al-Ghazali menggambarkan fana’ dan syuhud ini secara rasional, yaitu bahwa seseorang tidak menyaksikan dalam wujud ini kecuali hanya Satu, dan ia tahu bahwa sesungguhnya yang hakikatnya Ada itu adalah Satu.

Al-Ghazali kemudian menjelaskan bahwa ketercampuran dan banyaknya yang ada, sebenarnya hanyalah karena keterpecahan penglihatan saja. Misalnya ketika melihat sosok orang hanya dari kakinya saja, kemudian tangannya, kemudian wajahnya, kemudian kepalanya, sehingga menjadi (seakan-akan) tampak banyak. Berbeda jika ia melihatnya secara utuh sebagai satu kesatuan dan menyeluruh, tentu dalam qalbu-nya tidak akan terbesit  banyaknya variabel yang ada tersebut. Ia seakan-akan menyaksikan sesuatu yang tunggal (wahdatu asy-syuhud).

Fenomena wahdatu asy-syuhud ini adalah pengalaman ruhani yang dirasakan oleh qalbu. Sayangnya, banyak kesalahpahaman terjadi karena pengalaman dahsyat ini dituliskan atau diucapkan dengan kata-kata. Contoh saja yang pernah dilakukan Husein bin Mansur al-Hallaj dan Abu Yazid Busthomi. Keduanya sama-sama pernah mengalami fenomena ruhani yang dahsyat ini, namun banyak kalangan yang menolaknya. Kenapa? karena semua rasa dan penyaksian di hati tidak akan pernah mampu terungkapkan secara nyata (100% sama). Sebagus apapun kata-kata dirangkai, seindah apapun tulisan dibuat, tidak akan pernah bisa mengungkapkan pengalaman musyahadah yang terjadi antara manusia dan penciptanya.

Wallahu a’lam

*Disarikan dari Kitab Ihya’ Ulumiddin Juz 3 Bab Min Ajaib al-Qalb dan Juz 4 Bab Tawakkal & Tauhid.

Tabik,

Ibnu Masud

Ajaran Tasawuf yang Membumi adalah Puncak Peradaban Islam

Siapa yang tidak kenal dengan Umar bin Abdul Aziz? Beliau adalah satu-satunya khalifah yang diakui oleh para sejarawan sebagai khalifah kelima setelah sayyidina Ali karramAllahu wajhah. Beliau juga dikenang sebagai khalifah yang disayang rakyatnya, yang menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk mencapai kemajuan bersama. Selain itu, beliau juga tergolong orang yang mempraktikkan ajaran zuhud, inti dari maqamat (tangga-tangga spiritual) tasawuf.

Umar bin Abdul Aziz atau yang juga disebut sebagai Umar tsani (kedua) memimpin umat Islam hanya sebentar saja, kurang lebih selama 3 tahun. Beliau juga tergolong masih muda -34 tahun- saat ditunjuk sebagai khalifah oleh pendahulunya, Sulayman bin Abd al-Malik. Dalam masa kepemimpinan yang sesaat itu, beliau mampu mempersatukan umat Islam dan menanamkan nilai-nilai inti dari ajaran tasawuf hingga menjadi ruh yang mewarnai kehidupan bermasyarakat penduduk Dinasti Umayyah saat itu.

Photo by Anna K on Unsplash

Sebagai pemimpin, beliau memberikan contoh secara nyata kepada masyarakatnya dengan mempraktikkan ajaran utama tasawuf, yaitu zuhud. Beliau sadar betul bahwa sejak dilahirkan, manusia sudah berpotensi mati. Sebagaimana dalam sebuah hadits diterangkan:

“Banyak-banyaklah kalian mengingat kematian! Sebab mengingat mati bisa membersihkan dosa-dosa dan bisa membuat kalian hidup zuhud di dunia. Jika kalian mengingat mati di saat kalian sedang kaya, niscaya (kalian sadar bahwa) kematian itu bisa memporak-porandakan kekayaan kalian. Dan jika kalian mengingat mati saat kalian hidup miskin, maka yang demikian itu bisa membuat kalian ridha dengan kehidupan kalian.”
– HR. Ibnu Abi al-Dunya dari Anas bin Malik

Manusia yang paripurna seharusnya sudah sangat sadar bahwa status-status keduniaan tidak ada yang pernah abadi. Saat seseorang kaya, kematian akan merenggut statusnya sebagai orang kaya. Sedangkan saat seseorang miskin, maka kematian pula lah yang akan melepas dan menghapuskan status kemiskinannya.

Dengan memberikan contoh yang nyata pada masyarakatnya tentang kezuhudan, beliau menjadi pemimpin yang sangat dicintai umatnya. Bahkan sangat masyhur terdengar cerita bahwa tidak ada seorangpun yang mau menerima zakat di seantero negeri yang beliau pimpin. Apakah karena semua penduduknya kaya? Tentu saja tidak. Mereka hanya merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Sekiranya hari itu masih bisa makan dan memenuhi kebutuhan keluarganya, mereka tidak mau menerima zakat dari pemerintah.

Istimewanya, mereka yang menolak pemberian zakat itu akan menyarankan petugas zakat untuk mencari orang lain yang lebih membutuhkannya. Saat petugas zakat berkunjung ke kediaman orang lain, penolakan serupa juga dialami. Bahkan mereka menyarankan hal yang sama. Kejadian ini berulang terus hingga seluruh penjuru negeri disambangi, dan tidak ada seorang pun yang tidak berkata demikian.

Hal ini lagi-lagi tidak lepas dari peran ajaran tasawuf yang membumi, sehingga semua orang merasa tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari orang lain. Zuhud dalam praktik kehidupan secara otomatis akan mengikis sedikit demi sedikit sifat ananiyah (egois/aku-sentris) seorang pelaku zuhud, sehingga seseorang akan lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri.

Peradaban seperti inilah yang menurut para mutashawwifah menjadi puncak peradaban Islam. Besarnya peradaban bukan hanya dinilai dari luasnya kekuasaan, bukan pula pada besarnya perpustakaan dan jutaan kitab yang diproduksi oleh para ulama, namun puncak peradaban Islam adalah ketika nilai-nilai inti ajaran Islam sudah membumi dan sulit dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat.

Wallahu a’lam

Menjadi Wali di Zaman Edan

Wali sering diceritakan sebagai tokoh-tokoh relijius yang punya berbagai macam karamah dan kesaktian. Ini tidak salah, memang kebanyakan cerita yang beredar di masyarakat kita seperti itu. Hingga kemudian banyak orang menganggap bahwa menjadi wali di era ini adalah suatu hal yang mustahil.

Model wali jalur karamah ini memang sudah tidak laku lagi saat ini. Bukan karena susah, saya yakin banyak wali yang punya karamah-karamah istimewa di luar sana. Tapi saya juga yakin, para wali itu menyembunyikan kewaliannya dengan sangat rapi. Disisi lain, masyarakat juga mungkin trauma dengan wali-wali palsu yang seakan-akan punya karomah luar biasa, jebul mblenjani. Seperti kasus di Probolinggo dulu.

Apakah seorang wali selalu identik dengan karamah-karamah yang aneh? Tidak juga. Setidaknya dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa “Alaa inna auliya Allahi laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanun”. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut bagi mereka, dan tidak pula mereka bersedih. Ayat ini menunjukkan bahwa ciri utama seorang wali adalah tidak ada rasa takut/khawatir akan masa depan, juga tidak merasa sedih atas apa yang sudah berlalu.

Ketika dua hal ini menyatu dan terealisasikan dalam hati seseorang secara kontinyu, sudah pasti ia akan menjadi wali. Maka tidak salah juga ungkapan para ahli hikmah, “Istiqamah khairun min alfi karamah”. Bahwasanya istiqamah itu lebih baik dibandingkan dengan 1000 karomah.

Menjadi Wali Jalur Fans MU, AC Milan, dan Arsenal

Photo by Denilo Vieira on Unsplash

Menjadi wali itu banyak jalurnya, inilah yang disepakati oleh para ulama. Ada yang jalur rajin dzikir, ada jalur sadaqah, ada jalur syukur, ada jalur menjaga nafsu, dll. Jalur-jalur ini, dalam kitab-kitab tasawuf biasa disebut sebagai maqamat.

Maqamat ini bisa dilakukan semuanya, tapi biasanya seseorang yang menapaki tangga-tangga maqomat ini akan menonjol di satu maqam tertentu saja. Kenapa? Ya karena dalam kehidupannya banyak mengalami sesuatu yang sama, hingga akhirnya secara otomatis ilmu tentang maqamat para wali ini teraplikasikan dengan apik.

Contoh saja para fans MU, AC Milan, dan Arsenal. Cobaan dalam hidupnya selalu datang bertubi-tubi. Meskipun tidak melulu kalah, kejadian-kejadian gagal menang inilah yang membuat para fansnya mak deg mak ser. Tentu lebih menyedihkan lagi kalo tim jagoannya kalah. Tapi bagaimana cara mengelola dan menangani kesedihan dan kekecewaan itu adalah kunci menjadi wali.

Menjadi fans dari sebuah klub besar yang sering gagal menang adalah sebuah riyadhah (latihan jiwa) tersendiri. Banyak aspek ilmu hati digunakan, sebut saja sabar, syukur, iman terhadap takdir, dll. Ketika kalah berarti harus sabar, saat imbang berarti saatnya untuk bersyukur, jika menang harus percaya bahwa ini adalah takdir dan karunia Tuhan. Sampai pada level ini, seorang fans sudah pasti sadar betul bahwa pemain-pemain dan pelatih klub kesayangannya benar-benar tidak memiliki kuasa dan tidak bisa diandalkan laiknya Tuhan. Sudah pasti para fans ini tidak pernah menggantungkan harapan pada makhluk yang lemah.

Gonta-ganti pemain dan pelatih berkualitas ternyata juga bukan jaminan bahwa sebuah tim bola akan mudah melaju dan meraih kemenangan demi kemenangan. Sesuatu yang terlihat siap, ketika diuji dengan ujian sebenarnya ternyata masih bisa gagal. Ujungnya tentu kembali pada kehidupan manusia, banyak pelajaran yang bisa diambil dari fans-fans setrong ini.

Jika poin-poin kesalehan dan pola-pola pikir ruhaniyah ini semakin dipraktikkan, sudah pasti peluang menjadi wali semakin besar. Melihat banyaknya jumlah fans dari tiga klub ini, jika separuhnya saja sukses jadi wali, insyaAllah kiamat masih lama. Apalagi kalo ketiga tim itu istiqomah dalam kondisi seperti ini, mungkin wali-wali jalur fans ketiga klub ini akan semakin membeludak.

Wallahu a’lam