Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Apakah Nabi Harun As Bukan Seorang Rasul? Tanggapan Terhadap Pernyataan Ustadz Felix Siauw

Saat scrolling Reels di Instagram, saya sempat tertegun ketika mendengar ucapan ustadz Felix Siauw –dalam sebuah potongan video– yang menyatakan bahwa Nabi Harun As “hanyalah” seorang Nabi, bukan Rasul. Ungkapan ini muncul ketika beliau menjawab pertanyaan tentang kemungkinan adanya Nabi di Indonesia. Mula-mula, beliau menjelaskan dengan statemen bahwa Nabi berjumlah 124 ribu, dan diantaranya terdapat 313 rasul. Beliau menerangkan juga bahwa nabi dan rasul merupakan dua istilah berbeda. Sampai sini, saya rasa jawaban beliau tidak ada masalah.

Sayangnya, ketika menjelaskan lebih jauh, beliau memberikan contoh yang terasa tidak relevan. Alih-alih menggunakan contoh Nabi Musa dan Khidir, beliau justru menyebut Musa dan Harun. Dalam penjelasannya, Musa disebut sebagai nabi sekaligus rasul karena membawa risalah dan kitab baru, sedangkan Harun, katanya, “hanyalah” seorang nabi karena tidak memiliki risalah atau kitab baru.

Pernyataan ini tentu saja mengagetkan saya. Bagaimana tidak? Sejak kecil, kita umumnya sudah menghafal 25 nama nabi dan rasul. Nama-nama tersebut secara ṣarīḥ termaktub di dalam al-Qur’an. Dalam hafalan saya, nama-nama tersebut diurutkan secara historis, mulai Adam, Idris, Nuh, Hud, hingga Muhammad Saw. Nah, salah satu nabi yang juga rasul dalam deretan nama-nama tersebut adalah Harun. Seandainya nama Harun dieliminasi, maka hanya tersisa 24 rasul. Pertanyaannya, yang satu lagi ini siapa?

Harun As, Nabi atau Rasul?

Permasalahan ini penting bagi saya karena menyangkut aqīdah yang berkaitan dengan nubuwwāt. Dalam kitab Aqīdah Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah, Syaikh ‘Alī Jum‘ah menerangkan bahwa yang disebut nabi adalah seorang manusia yang sempurna tabiatnya, yang diturunkan kepadanya sebuah syariat untuk diamalkan. Namun, tidak diperintahkan untuk menyampaikan. Adapun yang diperintahkan secara khusus untuk menyampaikan syariat itu disebut sebagai rasul. Sehingga, antara nabi dan rasul memiliki hubungan umum-khusus: setiap rasul sudah pasti nabi, tetapi tidak semua nabi adalah rasul. Al-Qur’an telah menyebutkan ada 25 nama nabi dan rasul yang harus diyakini kenabiannya secara tafṣīlī (terperinci). Dengan demikian, tidak boleh ada seorang muslim yang tidak mengetahuinya atau tidak mengetahui status kenabiannya.

Dari keterangan tersebut dapat dipahami bahwa 25 nama tersebut (termasuk Harun As) adalah nama-nama nabi yang sekaligus rasul. Kita sebagai mukallaf wajib meyakini seluruhnya tanpa terkecuali. Tidak boleh juga mendegradasi statusnya ke level bawahnya, misalnya sosok yang sudah ma‘lūm sebagai seorang rasul, lalu dianggap hanya sebagai nabi saja.

Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Qaṣaṣ (28): 34,

وَاَخِيْ هٰرُوْنُ هُوَ اَفْصَحُ مِنِّيْ لِسَانًا فَاَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُّصَدِّقُنِيْٓۖ اِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ

Artinya: “Adapun saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku. Maka, utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)-ku. Sesungguhnya aku takut mereka akan mendustakanku.”

Ayat tersebut mengisahkan permohonan Nabi Musa As agar Allah Swt mengutus saudaranya, Nabi Harun As, sebagai seorang rasul. Dalam tafsirnya, Syaikh Ibn Kaṡīr menyebutkan bahwa sebagian ulama salaf mengatakan tidak ada seorang yang lebih berutang budi kepada saudaranya selain Harun kepada Musa. Nabi Musa mendoakannya, hingga Allah Swt mengangkat Harun menjadi nabi dan rasul bersama Musa untuk menyampaikan risalah kepada Fir‘aun dan kroni-kroninya.

Jadi jelas bahwa Nabi Harun As juga menyampaikan risalah Allah Swt. Artinya, beliau telah memenuhi kriteria sebagai seorang rasul. Mengenai kitab yang disebut oleh Ustadz Felix, biarlah al-Qur’an yang menjelaskannya. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Anbiyā’ (21): 48,

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسٰى وَهٰرُوْنَ الْفُرْقَانَ وَضِيَاۤءً وَّذِكْرًا لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

Artinya: “Sungguh, Kami telah menganugerahkan kepada Musa dan Harun Al-Furqan (Kitab Taurat), sinar (kehidupan), dan peringatan bagi orang-orang yang bertakwa.”

Selain itu, dalam QS. Al-Ṣaffāt (37): 117 juga disebutkan,

وَاٰتَيْنٰهُمَا الْكِتٰبَ الْمُسْتَبِيْنَۚ

Artinya: “Kami telah menganugerahkan kepada keduanya Kitab yang sangat jelas (Taurat).”

Dua ayat ini, menurut saya, cukup menjadi bukti bahwa pernyataan Ustadz Felix tidak tepat dan menyelisihi dalil-dalil yang jelas. Ḥusn al-ẓann saya, beliau sedang sabq al-lisān (kepleset lidah), dan mungkin saja yang dimaksud adalah hubungan antara Nabi Musa As dan Nabi Khidir As. Sekali lagi, karena rekaman tersebut sudah kadung terpublikasi dan berpotensi menimbulkan kebingungan, penting untuk meluruskannya agar tidak menyelisihi keyakinan Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah. Allāhu a‘lam.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts