Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Kategori: tafsir

  • Siapa yang Diberi Hikmah, Ia Telah Diberi Kebaikan yang Banyak

    Allah ta‘ālā berfirman, وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا “Dan siapa yang diberi hikmah, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah [2]: 269) Kata ḥikmah sendiri hadir di banyak tempat dalam al-Qur’an, dan di setiap tempat itu, ia memunculkan makna yang berbeda-beda. Penelusuran terhadap penggunaan kata ini di berbagai konteks ayat menghasilkan setidaknya empat makna yang…

  • Tiga Lapis Belenggu Syahwat

    Setiap manusia yang pernah mencoba menahan diri dari sesuatu yang ia inginkan tentu tahu tentang betapa sulitnya perjuangan itu. Seseorang yang sedang berdiet dan melewati restoran favoritnya tidak hanya berhadapan dengan rasa lapar, tetapi juga dengan ingatan tentang betapa nikmatnya makanan di tempat itu, dan lebih dari itu, ia juga memiliki keyakinan bahwa menikmati makanan yang enak adalah hal yang…

  • Ibadah Karena Takut dan Harap, Memangnya Kenapa?

    Kita mungkin pernah mendengar ungkapan bahwa beribadah karena mengharap surga atau takut neraka adalah ibadah level bawah, ibadah para pedagang yang memperhitungkan untung-rugi, dan bahwa ibadah yang sesungguhnya adalah ibadah tanpa pamrih apa pun selain karena Allah semata. Ungkapan semacam ini tersebar luas di berbagai majlis dan buku-buku keagamaan, dan tidak jarang pula disampaikan dengan nada yang merendahkan orang-orang yang…

  • Tiga Perkara yang Harus Diketahui oleh Setiap Orang Berakal

    Telinga kita mungkin sudah sangat familiar dengan rangkaian kalimat subḥāna rabbika rabbi al-‘izzati ‘ammā yashifūn, wa salāmun ‘alā al-mursalīn, wa al-ḥamdu lillāhi rabb al-‘ālamīn, terutama dalam penutup doa-doa yang dibaca secara berjamaah. Saya sendiri melazimkan untuk menutup doa dengan membaca kalimat-kalimat ini, yang semulanya berasal dari tiga ayat penutup QS. Al-Shāffāt, سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ۝ وَسَلَامٌ عَلَى…

  • Bagaikan Api yang Menyala di Kepala Nabi Zakariyya

    Bahasa punya banyak cara untuk menyampaikan satu hal yang sama. Kita bisa mengatakan “saya haus” dan semua orang akan paham maksudnya. Kalimat itu lugas, to the point, dan tidak bertele-tele. Tapi kalimat seperti itu hanya menyampaikan informasi, tanpa membawa serta suasana hati orang yang mengucapkannya. Ia sebatas memberitahu, tanpa menghadirkan perasaan apa pun. Kalau konteksnya obrolan biasa di warung kopi,…

  • Negeri Keselamatan

    Surga memiliki beberapa nama, dan salah satunya adalah Dār al-Salām. Nama ini sendiri diperkenalkan oleh Allah Swt melalui firman-Nya, salah duanya terdapat dalam QS. Al-An‘ām [6]: 127 dan QS. Yūnus [10]: 25. Penamaan ini, jika ditinjau lagi, rasanya cukup menarik karena dari sekian banyak sifat yang bisa digunakan untuk menggambarkan surga, seperti kenikmatan, keindahan, atau keagungan, Allah Swt justru memilih…

  • Pembentukan Watak

    Kita acapkali tertegun menyaksikan bagaimana seorang kawan yang dulu kita kenal santun, bicaranya lirih, dan tak pernah absen melangkahkan kaki ke surau, di kemudian hari kita dengar kabar ia melakukan perbuatan yang membuat kita sampai perlu mengelus dada. Kita pun lantas sibuk mereka-reka sebab musababnya, membayangkan perubahannya itu terjadi dalam semalam seperti lakon-lakon di panggung sandiwara. Di dunia yang fana…

  • Jimat itu Bernama Istighfar

    Berbagai azab langsung dari Allah telah ditimpakan pada umat-umat terdahulu. Kaum Nuh ditenggelamkan banjir besar yang meluluhlantakkan seluruh peradaban mereka, kaum ‘Ad dihajar angin yang menerbangkan tubuh-tubuh mereka seperti pelepah kurma kering, kaum Tsamud digoncang gempa dahsyat yang meratakan tempat tinggal mereka dalam sekejap, dan kaum Luth dijungkirbalikkan tanahnya hingga bagian atasnya menjadi bawah dan sebaliknya. Allah “turun tangan” langsung…

  • Modal yang Terus Meleleh

    Seorang ulama salaf pernah bercerita bahwa ia bisa memahami makna surat al-‘Asr lantaran seorang penjual es. Pedagang itu berteriak merayu pembeli dengan kalimat yang menyentuh hati: “Kasihanilah orang yang modalnya terus meleleh, kasihanilah orang yang modalnya terus meleleh.” Seketika itu, sang ulama salaf itu langsung tersadar. Inilah makna dari inna al-insāna lafī khusr—sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Waktu terus…

  • Wajahnya Menjadi Suram

    Suatu hari, Abū ‘Amr bin ‘Ulwān keluar rumah menuju Sūq al-Raḥbah (pasar al-Rahbah) untuk suatu keperluan. Di jalan, ia melihat jenazah lewat dan memutuskan untuk mengikutinya agar bisa menyalatkan mayit. Ia menunggu hingga jenazah dimakamkan. Saat itulah, tanpa sengaja, matanya jatuh pada seorang perempuan yang kebetulan tidak menutup wajahnya. Pandangannya tertahan sejenak, lebih lama dari yang seharusnya. Begitu sadar, ia…