Istimewa

NgajiDesain #2: Esensi Estetika di Era Digital

Pada tulisan sebelumnya di Ngaji Desain #1, saya menukil pendapat dari Ibnu Rusyd bahwa pada hakikatnya keindahan itu bersifat kodrati, yaitu berasal dari dalam dirinya sendiri. Pendapat seperti ini setidaknya juga diamini oleh pemikiran beberapa ulama’ yang membahas tentang estetika seperti al-Kindi, Ibnu Sina, al-Ghazali, hingga Suhrawardi. Jika pada pembahasan yang sebelumnya saya menitik beratkan pada pengalaman pribadi saya tentang kesepakatan-kesepakatan terhadap nilai estetika dalam sebuah komunitas, maka pada tulisan ini akan saya perjelas tentang hakikat estetika dilihat dari sisi Product Design secara umum dan bagaimana saya menilai keindahan sebuah desain.

Di era digital ini khususnya dalam bidang yang saya geluti, estetika dikecilkan sebagai sebuah tampilan visual dari sebuah produk. Beberapa orang yang saya temui bahkan memandang estetika hanya sebatas warna, bentuk, dan tatanan. Sebagian besar mereka memandang bahwa estetika suatu produk atau benda adalah sesuatu yang hanya bisa ditangkap dan dirasakan dengan oleh indera, khususnya mata.

Photo by Jonathan Farber on Unsplash

Ibnu Sina (980-1037 M) dalam dua kitabnya al-Shifa dan Kitab al-Najat, menerangkan pemikiran-pemikirannya tentang estetika yang menunjukkan bahwa pada hakikatnya keindahan suatu hal terletak pada kesesuaiannya dengan hal itu secara semestinya. Dalam bahasa jawa, “apike pancen kudune ngono”. Sehingga nilai estetika dalam sesuatu, bergantung pada “keumuman” sesuatu itu. Baik meliputi sifat-sifat dan tujuan dari diciptakannya sesuatu itu. Contoh mudahnya, gelas yang baik adalah gelas yang didesain dengan keumumannya, sesuai dengan fungsinya sebagai alat untuk wadah air yang bisa dipegang dengan ukuran tangan manusia, dan lain sebagainya, baik fungsi primer maupun sekunder. Maka sudah pasti sesuatu yang disebut estetis adalah sesuatu yang mengikuti fungsi dan tujuan keberadaan sesuatu itu.

Pemahaman fundamental terhadap hal ini setidaknya memberikan kesadaran terhadap desainer, bahwa sebuah karya yang pernah dibuat akan selalu memberikan efek terhadap karya lainnya. Jika karya itu adalah gelas, maka akan ada karya-karya lain yang menyesuaikan dengan gelas, seperti tutup gelas, wadah gelas, tempat cucian gelas, pompa air galon, dll.

Estetika dalam Product Design

Sejak mendesain produk sekitar 4-5 tahun yang lalu, saya telah melewati beberapa fase yang pada hari ini saya sebut sebagai pengalaman. Apa yang saya lalui, sedikit banyak mengindikasikan ketepatan beberapa hal yang saya paparkan diatas, seperti keumuman tampilan/bentuk dan fungsinya.

Contoh saja tombol home (atau menu utama lainnya) dalam sebuah aplikasi di smartphone, memang idealnya diletakkan di bawah dan paling kiri. Kenapa? Umumnya orang menggunakan tangan kanan saat mengoperasikan smartphone. Mengingat jempol kanan adalah senjata utama seseorang ketika memainkan smartphonenya, maka posisi terbaik yang “nyaman” dijangkau oleh jempol adalah sisi kiri bawah. Ilustrasi yang saya utarakan diatas adalah contoh simpel tentang bagaimana “kebiasaan umum” sekelompok orang akan mempengaruhi sebuah fungsi dalam satu bagian produk yang ditawarkan oleh seorang desainer.

Orang yang menggunakan produk tentu tidak mau tahu alasan-alasan seperti ini. Mereka hanya mau tahu bahwa produk aplikasi ini mampu memenuhi sesuatu yang menjadi kepentingannya. Maka sudah seharusnya nilai estetika yang bersifat esensi terlihat ketika seseorang merasa tenang, nyaman, dan tidak emosional saat berinteraksi dengan sebuah produk melalui tampilan mukanya.

Jika dikembalikan pada 3 unsur yang dikemukakan Ibnu Rusyd (tartib, tanasub, dan nidzam), maka unsur-unsur ini seharusnya tidak hanya berlaku pada satu wajah tampilan saja (seperti beberapa shot di dribbble). Keterkaitan dan keterikatan antara satu bagian dengan bagian lainnya bukan hanya menimbulkan kenyamanan mata dalam menerima pancaran visual saja. Lebih dari itu, keterkaitan fungsi dan visual pasti mengarahkan seseorang yang berinteraksi dengannya merasakan ketenangan dan kestabilan perasaan.

Produk-produk digital dibuat dengan tujuan-tujuan tertentu. Di dalamnya terdapat berbagai macam kepentingan. Desain muka hanyalah sebuah pengantar, bukanlah tujuan akhir. Maka tugas desainer yang sebenarnya tidak hanya memproduksi tampilan yang baik dan memenuhi syarat-syarat estetika dalam satu bagian tampilan muka saja, tapi juga menghubungkannya pada bagian-bagian lain yang mendukung tercapainya segala kepentingan yang ditujukan untuk semua pihak yang terlibat dalam sebuah produk.

Photo by Anthony DELANOIX on Unsplash

Saya memahami estetika sebagai sebuah kamar yang di dalamnya terdapat berbagai macam benda. Jika semua benda di dalamnya mempunyai fungsi yang jelas dan tertata rapi, maka kamar ini sudah memenuhi syarat estetis. Sehingga ketika saya punya tamu dan menunjukkan kamar ini, ia langsung tahu bahwa kamar ini untuk tidur, sebelahnya lagi untuk ibadah, dll. Ruang-ruang estetika ini bisa diperbesar maupun diperkecil. Boleh jadi cakupannya menjadi sebuah rumah yang memiliki beberapa ruang lagi, atau mungkin diperluas menjadi sebuah desa yang di dalamnya ada rumah-rumah, jalan, sungai, dan lainnya.

Ketika mendesain sebuah screen untuk aplikasi, saya akan membayangkan bahwa satu screen ini sama dengan satu kamar. Di dalamnya ada macam-macam benda yang harus ditata sesuai dengan keumuman fungsinya. Ketika berada di dalam kamar ini, orang lain (tamu) akan langsung paham dan tahu tujuan dibuatnya kamar ini. Kamar ini akan berkaitan dengan ruang tamu, kamar lainnya, bahkan hingga kamar mandi, yang masing-masingnya memiliki ruang estetika sendiri. Ruang-ruang lain ini adalah screen-screen lain yang akan ditemui juga oleh seorang tamu. Jika aplikasi ini adalah sebuah rumah, maka estetika mulai dinilai dari batas depan rumah itu hingga batas belakangnya.

Akhirnya, estetika yang diciptakan manusia hanya bisa dinilai dengan ungkapan tepat atau tidak tepat, ia tidak akan pernah bisa dinilai benar dan salahnya. Kesadaran akan estetika dan subyektifitas manusia dalam meresponnya, akan membuka cakrawala pengetahuan manusia tentang betapa besarnya karunia Tuhan beserta segala kesempurnaan-Nya.

Kesadaran akan estetika dan subyektifitas manusia dalam meresponnya, akan membuka cakrawala pengetahuan manusia tentang betapa besarnya karunia Tuhan beserta segala kesempurnaan-Nya.

Kesimpulan

Produk-produk digital hari ini semakin berkembang, sehingga memungkinkan manusia untuk berinteraksi dengan berbagai macam produk untuk berbagai macam kebutuhan. Perkembangan ini tidak lain disebabkan oleh mayoritas kepentingan manusia untuk memenuhi berbagai macam kebutuhannya secara instan. Dari situlah kemudian dapat dipahami bahwa pola-pola ketertarikan dan kecenderungan manusia terhadap sesuatu sangat terlihat dan bisa dibaca. Sehingga nantinya muncul keumuman-keumuman perilaku manusia saat berinteraksi dengan produk digital.

Secara kodrati manusia adalah makhluk yang tertarik dengan sesuatu yang estetis, yaitu sesuatu yang memiliki keteraturan dan fungsi yang jelas dan sesuai dengan tujuan penciptaan sesuatu itu. Ketika berinteraksi dengan sesuatu yang estetis, manusia akan merasakan ketenangan dan cenderung tidak emosional. Contoh gampangnya adalah ketika manusia dihadapkan dengan hal-hal yang teratur dan yang terkait satu sama lain seperti keindahan alam, ketenangan akan otomatis muncul. Estetika pada hakikatnya terletak pada kodrat benda/sesuatu. Sehingga nilai estetika dalam sebuah produk sangat bisa diciptakan dengan mengetahui fungsi dan kegunaan suatu produk serta kemauan untuk memahami siapa yang akan menggunakan produk tersebut.

Estetika menurut saya memiliki ruang-ruang yang memiliki dimensi tertentu. Menilai estetika sebuah ruangan tanpa tahu apa yang berada di dalamnya adalah sesuatu yang tidak bijaksana. Lebih-lebih ruangan ini dinilai dari wilayah yang berbeda, desa sebelah misalnya. Sungguh sangat tidak bijaksana.

Manusia bukanlah Tuhan yang Maha Sempurna. Proses pembacaan pola kebutuhan dan perilaku manusia akan terus berkembang. Maka sudah pasti proses penciptaan dan pengembangan estetika dalam sebuah produk tidak akan pernah sekali jadi dan tidak akan pernah pula menemui titik final. Perubahan demi perubahan perlu dilakukan agar desain sebuah produk selalu relevan dengan tafsir estetika di masa depan.

Wallahu a’lam

Ketaatan, Sebuah Amanah Besar untuk Manusia

Ada sebuah kisah menarik tentang sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. Ketika waktu shalat tiba, tubuhnya bergetar hebat, sedang wajahnya-pun menjadi pucat. Kemudian ada seorang yang mengetahui kejadian itu dan bertanya kepada Sayyidina Ali, “Apa yang terjadi denganmu wahai Amir al-Mu’minin?” 

Lantas beliau menjawab, “Telah datang waktu penunaian amanah yang dulu pernah ditawarkan Allah swt kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Mereka semua tidak mampu mengemban amanah itu dan takut memikulnya.”

man in blue t-shirt sitting on brown wooden bench during daytime
Image by engin akyurt

Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra adalah salah satu sosok sahabat Nabi papan atas, baik kedekatannya dengan Nabi, maupun level ketakwaannya. Beliau mengatakan hal yang demikian bukan tanpa dasar. Kisah penawaran amanat Allah swt kepada langit, bumi, dan gunung-gunung ini nyata sebagaimana termaktub dalam surah al-Ahzab ayat 72.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Sahabat Ibnu Abbas mengatakan:

Yang dimaksud dengan amanah adalah ketaatan. Allah menawarkan amanah itu kepada langit, bumi, dan gunung-gunung sebelum menawarkannya kepada manusia. Nayatanya, mereka menolak karena tidak sanggup memikul beban yang amat berat itu. 

Kemudian Allah berfirman kepada Nabi Adam as, “Sesungguhnya aku telah menawarkan amanah ini kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Namun mereka tidak mampu mengemban amanah ini. Apakah kau mau untuk mengembannya, beserta segala konsekuensinya?” 

Kemudian Nabi Adam as berkata, “Apa saja konsekuensinya, wahai Tuhanku?”

Allah swt menjawab, “Jika kamu berbuat baik, maka kamu diganjar pahala. Tapi jika kamu berbuat keburukan, kamu akan mendapat hukumannya.”

Kemudian Nabi Adam as mengambil amanah ini beserta segala konsekuensinya.

Maka akhir ayat ini dituntaskan dengan kalimat, “dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Mari mengemban amanah besar ini dengan penuh suka cita 🙂

Wallahu a’lam

  • Kisah Sayyiduna Ali bin Abi Thalib saya sadur dari kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam al-Ghazali.
  • Kisah yang diceritakan sahabat Ibnu Abbas saya nukil dari kitab Tafsir Ibnu Katsir juz 3.

An-Nawawi, Sang Wali dan Karya-Karyanya

Saya rasa semua orang tahu siapa Imam Nawawi, khususnya para santri. Dalam dunia pesantren, kitab-kitab beliau menjadi salah satu rujukan paling otoritatif dalam madzhab Syafi’i. Terbukti jika ada permasalahan-permasalahan fikih, para santri akan berusaha mencari jawabannya dalam karya-karya masterpiece yang beliau tinggalkan. Bahkan beberapa karya beliau seperti Riyadh al-Salihin dan al-Arbain sangat sering dikaji dalam majelis-majelis luar pesantren yang bukan hanya kelompok dalam madzhab Syafi’i saja.

Pengetahuan saya tentang Imam Nawawi mungkin sangat sedikit. Kepingan cerita tentang sang Imami biasanya saya dapatkan dengan membaca ringkasan biografi yang tercantum dalam kitab-kitab karya beliau. Diantara kisahnya yang paling populer adalah perjumpaannya dengan Syaikh Yasin al-Marrakasyi saat Imam Nawawi masih kecil. Diceritakan bahwa saat itu Syaikh Yasin sedang melewati daerah Nawa, kampung asal Imam Nawawi. Dalam perjalanannya, beliau berpapasan dengan sekelompok anak kecil yang mengajak Imam Nawawi untuk bermain, namun ia lebih memilih untuk mengaji. Teman-temannya tidak menyerah, mereka memaksa Imam Nawawi kecil untuk bermain bersama. Karena paksaan itu, Imam Nawawi kecil menangis dan langsung memilih untuk mengaji dalam keadaan hati yang tidak nyaman itu. Syaikh Yasin yang berjumpa dengan Imam Nawawi kecil sangat kagum melihat kejadian itu, sontak saja beliau mendapatkan firasat bahwa suatu saat anak ini (Imam Nawawi) akan menjadi pemimpin para ulama’ di masanya.

Apa yang diperkirakan oleh Syaikh Yasin memang benar-benar terjadi di kemudian hari. Beliau pergi ke Damaskus untuk mondok saat berusia 18 tahun. Dalam satu hari saja, beliau mempelajari 12 fan keilmuan yang berbeda. Fakta ini menunjukkan kesungguhan belajarnya, belum lagi jumlah kitab-kitab yang dihafalnya. Hingga akhirnya Imam Nawawi benar-benar muncul sebagai seorang pakar dalam berbagai bidang keilmuan, yang paling menonjol adalah Ushul Fikih, Fikih, dan Hadits. Imam Nawawi adalah seorang wali besar, ini adalah sebuah fakta yang sama sekali tidak bisa diragukan.

Seminggu terakhir Ramadhan yang lalu, saya membaca buku yang berjudul “An-Nawawi, Sang Wali dan Karya-Karyanya” karya Ustadz Muafa. Buku ini membahas segala hal tentang Imam Nawawi, mulai dari sosoknya, keluarganya, perawakannya, pengakuan ulama’ terhadap kapasitas keilmuan dan kewaliannya, aqidahnya, keadaan politik yang tidak stabil di zamannya, gambaran proses kerja beliau sebagai muharrir madzhab Syafii, hingga resensi karya-karya beliau yang seabrek itu. Hal-hal yang saya sebutkan diatas dibahas bukan hanya berdasar qila wa qola saja. Ada sekitar 90-an kitab yang dijadikan referensi untuk “mengkisahkan” Imam Nawawi dalam 920 halaman, hingga beliau wafat di usia yang masih relatif muda, 45 tahun. Keberkahan usia Imam Nawawi terbukti dari banyaknya karya-karya yang sempat beliau tulis dalam masa waktu yang singkat. Keikhlasan beliau dalam menyebarkan ilmu lebih terbukti lagi, hampir semua karyanya masih dibaca dan dikaji hingga saat ini, beratus-ratus tahun setelah wafatnya sang Imam.

Ngomong-ngomong tentang karya-karya ilmiahnya yang banyak sekali itu, pernah ada seseorang yang menghitung jumlah lembaran kitab-kitabnya untuk kemudian dibagi dengan masa hidupnya. Lalu bagaimana hasilnya? Jika digambarkan dengan bahasa intelektual zaman sekarang, ternyata Imam Nawawi mampu menghasilkan karya tulis yang setara dengan dua jurnal ilmiah level internasional setiap hari! Per hari!

Memang benar kata Syaikh Said Kamali yang pengajiannya saya dengar beberapa waktu lalu via YouTube. Beliau mengatakan, “Seandainya ulama-ulama zaman dulu hidup di masa sekarang, mereka pasti sekolahnya di Harvard, MIT, Cambridge, dll.” aw kama qool.

Wallahu a’lam.

Penyaksian Hati: Sebuah Pengalaman Ruhani

Dalam dunia pesantren Indonesia, al-Ghazali adalah sosok yang sangat populer. Barangkali santri pesantren bisa menyebutkan lebih dari lima kitab karya al-Ghazali. Beliau adalah tokoh yang dijadikan sebagai rujukan pandangan tasawuf di Indonesia, setidaknya untuk kalangan Nahdhatul Ulama’. Dalam beberapa pandangan mistiknya, beliau menguraikan cara untuk memahami fenomena-fenomena ruhani secara gamblang dan jelas dalam kitab-kitabnya seperti Ihya’ Ulum al-Din, al-Arbain fi Ushul al-Din, Minhaj al-Abidin, al-Munqidz, dll.

Dalam memahami fenomena ruhani ini, al-Ghazali menyatakan bahwa perangkat paling vital untuk merasakan fenomena dahsyat ini adalah qalbu. Qalbu dalam pandangan al-Ghazali bukanlah hati sebagai segumpal darah yang terletak pada dada kiri bagian bawah di tubuh manusia, ia adalah “sesuatu” dalam diri manusia yang mampu menjangkau daya rohaniah ketuhanan. Dengan qalbu ini pulalah seluruh anggota tubuh manusia akan tunduk dan mengikutinya.

Qalbu bagi al-Ghazali juga seperti cermin, sedangkan ilmu merupakan pantulan gambar realitas yang termuat di dalamnya. Jika cermin ini tidak dalam kondisi bening dan tertutup kotoran-kotoran, maka cermin ini tidak akan bisa memantulkan realitas-realitas ilmu secara hakiki. Cara pembersihan hati inilah yang kemudian banyak dibahas al-Ghazali dalam teori tasawufnya. Sehingga, qalbu mampu merasakan ma’rifat dengan Allah melalui proses fana’ dengan musyahadahnya.

Photo by Alexander Acea
Fana’ dalam Perspektif al-Ghazali

Al-Ghazali secara eksplisit menyatakan bahwa Allah swt itu satu, yaitu satu bermakna tunggal. Allah bukanlah fisik yang dapat dibayangkan, serta bukan wujud yang dapat diukur. Allah tidak menyerupai bentuk fisik, baik kriterianya maupun keragamannya. Dia bukan atom dan tidak ditempati atom, bukan materi dan tidak ditempati materi. Bahkan Allah tidak serupa dengan maujud, dan sebaliknya. Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupainya, dan tidak ada sekutu baginya.

Bagi al-Ghazali, seorang arif tidak melihat apapun kecuali Allah swt. Ia tidak mengetahui apa saja selain-Nya. Tentu saja bukan dalam bentuk wujud-Nya, akan tetapi pada sisi ciptaan-Nya dan perbuatan-Nya. Dalam konteks ini, seorang arif tidak melihat dalam suatu af’al (hasil perbuatan), kecuali ada fa’il (pelaku perbuatan). Kemudian seorang arif yang sudah pada tahap ini akan melebur pengetahuannya tentang langit, bumi, hewan-hewan, tanaman, bahkan dirinya sendiri dan melihat dari sisi manapun bahwa semua ini adalah af’al-nya Allah swt. Sehingga apapun yang ada dalam dunia ini termasuk bentuk af’al Allah. Bentuk penyaksian ini adalah puncak syuhud kaum sufi yang disebut sebagai maqom fana’ dalam tauhid, karena ia melebur dan tenggelam bersama dirinya sendiri dalam ketauhidannya.

Fana’, diawali dengan proses wahdatu asy-syuhud. Hal ini berbeda total dengan konsep wahdatu al-wujud (pada masa itu) yang lebih dekat dengan praktek hulul dan ittihad. Terlihat dari bagaimana al-Ghazali menggambarkan fana’ dan syuhud ini secara rasional, yaitu bahwa seseorang tidak menyaksikan dalam wujud ini kecuali hanya Satu, dan ia tahu bahwa sesungguhnya yang hakikatnya Ada itu adalah Satu.

Al-Ghazali kemudian menjelaskan bahwa ketercampuran dan banyaknya yang ada, sebenarnya hanyalah karena keterpecahan penglihatan saja. Misalnya ketika melihat sosok orang hanya dari kakinya saja, kemudian tangannya, kemudian wajahnya, kemudian kepalanya, sehingga menjadi (seakan-akan) tampak banyak. Berbeda jika ia melihatnya secara utuh sebagai satu kesatuan dan menyeluruh, tentu dalam qalbu-nya tidak akan terbesit  banyaknya variabel yang ada tersebut. Ia seakan-akan menyaksikan sesuatu yang tunggal (wahdatu asy-syuhud).

Fenomena wahdatu asy-syuhud ini adalah pengalaman ruhani yang dirasakan oleh qalbu. Sayangnya, banyak kesalahpahaman terjadi karena pengalaman dahsyat ini dituliskan atau diucapkan dengan kata-kata. Contoh saja yang pernah dilakukan Husein bin Mansur al-Hallaj dan Abu Yazid Busthomi. Keduanya sama-sama pernah mengalami fenomena ruhani yang dahsyat ini, namun banyak kalangan yang menolaknya. Kenapa? karena semua rasa dan penyaksian di hati tidak akan pernah mampu terungkapkan secara nyata (100% sama). Sebagus apapun kata-kata dirangkai, seindah apapun tulisan dibuat, tidak akan pernah bisa mengungkapkan pengalaman musyahadah yang terjadi antara manusia dan penciptanya.

Wallahu a’lam

*Disarikan dari Kitab Ihya’ Ulumiddin Juz 3 Bab Min Ajaib al-Qalb dan Juz 4 Bab Tawakkal & Tauhid.

Tabik,

Ibnu Masud

Membela Orang-Orang yang Memilih Fakir

Mlarat, sebuah status yang mungkin sangat dihindari oleh orang-orang zaman sekarang. Menjadi seorang fakir di zaman yang seba cepat ini sangat melelahkan. Selain sulit untuk mengejar kecepatan orang-orang yang lebih mampu, kadang statusnya ya cuma jadi bahan gojlokan teman-temannya. Iya to?

Nyatanya, sebagian orang juga menunjukkan bahwa kemlaratan itu bukanlah sebuah masalah yang serius. Selain karena sudah terbiasa mlarat dan susah, toh ini juga masalah status saja. Berapa banyak diantara kita yang sok merasa kasihan melihat temannya yang nganggur? Wong kadang rasa kasihan itu yang seakan menunjukkan kita lebih “mapan” daripada orang lain yang secara kasat mata “kurang mampu”. Padahal kadang orang yang kita kasihani itu ya tenang-tenang saja. Koyok yak-yak o ae hehe.

Terlepas dari baiknya rasa peduli dan keinginan untuk membantu orang lain, kadang kita juga perlu paham bahwa apa yang menurut kita baik dan ideal belum tentu cocok dengan orang lain. Ya, masalah status saja. Padahal, hakekatnya status dan nisbat itu tidak pernah benar-benar nyata kan?

Image by Larm Rmah
Orang-Orang Fakir dan Pilihannya

Orang-orang fakir jalur independen (mlarat karepe dewe) ini kadang-kadang susah ditebak. Pola pikirnya pasti banyak menyalahi pola pikir linear manusia. Ketika teman-temannya sudah membahas investasi, perencanaan hidup jangka panjang, dll. Orang-orang ini paling cuma ngomong, “Alhamdulillah masih ada pekerjaan”. Potensinya memang dua, sudah terlanjur ikhlas dan ridho, atau malah putus asa. Hehe.

Tapi jangan salah, salah satu tanda kewalian itu ya pikiran yang kurang membumi. Bisa jadi orang-orang mlarat yang telaten dengan ikhlas dan ridho ini malah populer di alam langit. Sufyan ats-Tsauri (w. 161 H) yang dijuluki pemimpinnya para ulama di zamannya, pernah ngendikan begini:

اختار الفقراء خمسا واختار الأغنياء خمسا. واختار الفقراء راحة النفس، وفراغة القلب، وعبودية الرب، وخفة الحساب، والدرجة العليا. واختار الأغنياء تعب النفس، و شغل القلب، وعبودية الدنيا، وشدة الحساب، والدرجة السفلى

Orang-orang fakir yang ridha dengan kefakirannya akan memilih lima hal, sedangkan orang-orang kaya yang cinta hartanya juga akan memilih lima hal.

Orang-orang fakir memilih ketenangan jiwa, ketentraman hati, penghambaan kepada Allah, ringannya hisab, derajat yang tinggi di surga.

Sedangkan orang-orang kaya yang bangga dengan kekayaannya akan memilih lima hal lain, beban jiwa, sibuknya hati, pengabdian kepada dunia, beratnya hisab, dan derajat yang rendah.

Sufyan ats-Tsauri

Berdasarkan penjelasan yang ditulis oleh Syaikh Nawawi al-Bantani terhadap quote ini dalam kitab Nashaihul Ibad, orang-orang yang memilih untuk mempunyai mental fakir ini adalah orang yang memilih untuk mengistirahatkan jiwanya, serta menentramkan hatinya dari rasa kemrungsung terhadap beban-beban keduniaan. Selain itu kelompok ini juga memfokuskan diri pada tujuan awal penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada Allah. Mereka mengharapkan kefakiran ini menjadi penyebab ringannya hisab di akhirat kelak, serta derajat yang mulia karena menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan yang sejati.

Orang-orang kaya yang cinta dunia, sudah barang tentu akan merasakan beban berat di jiwanya karena seluruh waktunya digunakan untuk berkhidmah pada harta. Mereka juga secara tidak sadar memilih sumpek dan sibuknya hati karena selalu memikirkan harta dunia.

Kemudian, mereka juga memilih untuk mengabdi (menjadi budak) pada dunia. Sebagaimana dikatakan pepatah arab, “Barang siapa mencintai sesuatu, maka ia akan menjadi budaknya”. Banyaknya harta yang dikumpulkan juga menjadi penyebab beratnya hisab di akhirat. Tanpa sadar pula mereka memilih derajat yang rendah, karena menjadikan dunia sebagai tujuan tanpa mempertimbangkan kepentingan akhiratnya.

Dunia itu sifatnya hanya dua: Halalnya akan jadi beban hisab, haramnya sudah tentu jadi adzab.

Sayyidana Ali bin Abi Thalib
Potensi Menjadi Wali dengan Mental Fakir

Fakir dan Kaya sebenarnya tidak melulu tentang sesuatu yang tampak dalam ukuran dunia. Kadangkala ada orang yang secara dzahir tampak kaya dan berkecukupan, tapi sangat memiliki mental fakir sebagaimana disebutkan Imam Sufyan ats-Tsauri. Para sahabat kanjeng Nabi banyak sekali yang bermental fakir meskipun secara materiilnya sangat kaya raya. Sebaliknya, kadang juga ada orang yang secara dzahirnya kurang-kurang, tapi mentalnya adalah mental orang-orang kaya seperti diatas.

Para sufi juga banyak menuliskan dalam kitab mereka tentang pujian dan keutamaan menjadi fakir, tapi sama sekali tidak menyacat orang-orang kaya. Mereka lebih mengkritisi keburukan sifat “Hubb ad-Dunya”, atau cinta dunia dan sibuk dengannya. Karenanya, kesadaran tentang hakikat dan tujuan awal penciptaan manusia adalah obat dari segala penyakit hati. Ketika seseorang sadar bahwa tujuan hidup adalah untuk menghamba Allah, untuk apa menghamba pada dunia?

Nasihat Imam ats-Tsauri untuk menanamkan mental miskin inilah yang sebaiknya diamalkan. Sehingga, dalam kondisi apapun kita akan siap dengan konsekuensi kehidupan dunia dan sadar betul bahwa semua yang kita lakukan bertujuan untuk menghamba pada-Nya. Kalo sudah begini, insyaAllah wali lah. Hehehe

Tabik,

Ibnu Masud

Aku Mencintainya

Saat aku mulai bicara padanya, ia menjawabnya,
Seketika itu juga langit mendung menurunkan hujannya,
Bunga-bunga indah bermekaran secara tiba-tiba di sekitarnya.

Aku bicara padanya dan ia menampakkan senyuman,
Seakan gemuruh perang baru saja digaungkan,
Bahkan kobaran api yang sangat besar seakan dinyalakan,
Namun pesonanya sungguh-sungguh memadamkan.

Aku berbicara padanya dengan penuh kehati-hatian,
Dengan begitu banyak rintangan, dengan kegagapan,
Juga dengan rasa takut yang amat menyeramkan.

Aku hanya bisa menggumam dan terus bergumam,
Seakan hatiku benar-benar bicara dan air mataku bercucuran,
Namun kesedihan demi kesedihanku mulai tersingkirkan.

Saat Aku berbicara padanya, 
Rangkaian hurufku seakan tak pernah tercipta,
Untaian kata-kataku seperti dicuri dan hilang entah kemana,
Leherku seakan tercekik dan suaraku hampa.

Aku bicara padanya, aku mencintainya, aku candu padanya, 
dan Aku sungguh tergila-gila padanya, sungguh tergila-gila padanya, 
Namun aku juga benci padanya.

Aku mencintainya, 
Sebagai seorang teman, sebagai seorang kekasih, 
Sebagai seorang ratu, sebagai seseorang yang bahagia, 
sebagai seorang pecinta, sebagai seseorang yang terluka.

Aku mencintainya…

Aku mencintainya,
Dengan sifat kekanak-kanakanku, dengan segala kebodohanku,
Dengan segala kehangatan, kepahitan, kesucian, dan keagungan,

Aku mencintainya
Aku mencintainya
Aku mencintainya…

*Dipotong dan diterjemahkan secara anarkis, dari syair Muhammad Makmun yang berjudul Dhulm al-Hawa. 😂

Selamat ulang tahun istriku, Yaqut Jihada Wafiqoh.

Ajaran Tasawuf yang Membumi adalah Puncak Peradaban Islam

Siapa yang tidak kenal dengan Umar bin Abdul Aziz? Beliau adalah satu-satunya khalifah yang diakui oleh para sejarawan sebagai khalifah kelima setelah sayyidina Ali karramAllahu wajhah. Beliau juga dikenang sebagai khalifah yang disayang rakyatnya, yang menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk mencapai kemajuan bersama. Selain itu, beliau juga tergolong orang yang mempraktikkan ajaran zuhud, inti dari maqamat (tangga-tangga spiritual) tasawuf.

Umar bin Abdul Aziz atau yang juga disebut sebagai Umar tsani (kedua) memimpin umat Islam hanya sebentar saja, kurang lebih selama 3 tahun. Beliau juga tergolong masih muda -34 tahun- saat ditunjuk sebagai khalifah oleh pendahulunya, Sulayman bin Abd al-Malik. Dalam masa kepemimpinan yang sesaat itu, beliau mampu mempersatukan umat Islam dan menanamkan nilai-nilai inti dari ajaran tasawuf hingga menjadi ruh yang mewarnai kehidupan bermasyarakat penduduk Dinasti Umayyah saat itu.

Photo by Anna K on Unsplash

Sebagai pemimpin, beliau memberikan contoh secara nyata kepada masyarakatnya dengan mempraktikkan ajaran utama tasawuf, yaitu zuhud. Beliau sadar betul bahwa sejak dilahirkan, manusia sudah berpotensi mati. Sebagaimana dalam sebuah hadits diterangkan:

“Banyak-banyaklah kalian mengingat kematian! Sebab mengingat mati bisa membersihkan dosa-dosa dan bisa membuat kalian hidup zuhud di dunia. Jika kalian mengingat mati di saat kalian sedang kaya, niscaya (kalian sadar bahwa) kematian itu bisa memporak-porandakan kekayaan kalian. Dan jika kalian mengingat mati saat kalian hidup miskin, maka yang demikian itu bisa membuat kalian ridha dengan kehidupan kalian.”
– HR. Ibnu Abi al-Dunya dari Anas bin Malik

Manusia yang paripurna seharusnya sudah sangat sadar bahwa status-status keduniaan tidak ada yang pernah abadi. Saat seseorang kaya, kematian akan merenggut statusnya sebagai orang kaya. Sedangkan saat seseorang miskin, maka kematian pula lah yang akan melepas dan menghapuskan status kemiskinannya.

Dengan memberikan contoh yang nyata pada masyarakatnya tentang kezuhudan, beliau menjadi pemimpin yang sangat dicintai umatnya. Bahkan sangat masyhur terdengar cerita bahwa tidak ada seorangpun yang mau menerima zakat di seantero negeri yang beliau pimpin. Apakah karena semua penduduknya kaya? Tentu saja tidak. Mereka hanya merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Sekiranya hari itu masih bisa makan dan memenuhi kebutuhan keluarganya, mereka tidak mau menerima zakat dari pemerintah.

Istimewanya, mereka yang menolak pemberian zakat itu akan menyarankan petugas zakat untuk mencari orang lain yang lebih membutuhkannya. Saat petugas zakat berkunjung ke kediaman orang lain, penolakan serupa juga dialami. Bahkan mereka menyarankan hal yang sama. Kejadian ini berulang terus hingga seluruh penjuru negeri disambangi, dan tidak ada seorang pun yang tidak berkata demikian.

Hal ini lagi-lagi tidak lepas dari peran ajaran tasawuf yang membumi, sehingga semua orang merasa tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari orang lain. Zuhud dalam praktik kehidupan secara otomatis akan mengikis sedikit demi sedikit sifat ananiyah (egois/aku-sentris) seorang pelaku zuhud, sehingga seseorang akan lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri.

Peradaban seperti inilah yang menurut para sufi menjadi puncak peradaban Islam. Besarnya peradaban bukan hanya dinilai dari luasnya kekuasaan, bukan pula pada besarnya perpustakaan dan jutaan kitab yang diproduksi oleh para ulama, namun puncak peradaban Islam adalah ketika nilai-nilai inti ajaran Islam sudah membumi dan sulit dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat.

Wallahu a’lam

Menjadi Wali di Zaman Edan

Wali sering diceritakan sebagai tokoh-tokoh relijius yang punya berbagai macam karamah dan kesaktian. Ini tidak salah, memang kebanyakan cerita yang beredar di masyarakat kita seperti itu. Hingga kemudian banyak orang menganggap bahwa menjadi wali di era ini adalah suatu hal yang mustahil.

Model wali jalur karamah ini memang sudah tidak laku lagi saat ini. Bukan karena susah, saya yakin banyak wali yang punya karamah-karamah istimewa di luar sana. Tapi saya juga yakin, para wali itu menyembunyikan kewaliannya dengan sangat rapi. Disisi lain, masyarakat juga mungkin trauma dengan wali-wali palsu yang seakan-akan punya karomah luar biasa, jebul mblenjani. Seperti kasus di Probolinggo dulu.

Apakah seorang wali selalu identik dengan karamah-karamah yang aneh? Tidak juga. Setidaknya dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa “Alaa inna auliya Allahi laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanun”. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut bagi mereka, dan tidak pula mereka bersedih. Ayat ini menunjukkan bahwa ciri utama seorang wali adalah tidak ada rasa takut/khawatir akan masa depan, juga tidak merasa sedih atas apa yang sudah berlalu.

Ketika dua hal ini menyatu dan terealisasikan dalam hati seseorang secara kontinyu, sudah pasti ia akan menjadi wali. Maka tidak salah juga ungkapan para ahli hikmah, “Istiqamah khairun min alfi karamah”. Bahwasanya istiqamah itu lebih baik dibandingkan dengan 1000 karomah.

Menjadi Wali Jalur Fans MU, AC Milan, dan Arsenal

Photo by Denilo Vieira on Unsplash

Menjadi wali itu banyak jalurnya, inilah yang disepakati oleh para ulama. Ada yang jalur rajin dzikir, ada jalur sadaqah, ada jalur syukur, ada jalur menjaga nafsu, dll. Jalur-jalur ini, dalam kitab-kitab tasawuf biasa disebut sebagai maqamat.

Maqamat ini bisa dilakukan semuanya, tapi biasanya seseorang yang menapaki tangga-tangga maqomat ini akan menonjol di satu maqam tertentu saja. Kenapa? Ya karena dalam kehidupannya banyak mengalami sesuatu yang sama, hingga akhirnya secara otomatis ilmu tentang maqamat para wali ini teraplikasikan dengan apik.

Contoh saja para fans MU, AC Milan, dan Arsenal. Cobaan dalam hidupnya selalu datang bertubi-tubi. Meskipun tidak melulu kalah, kejadian-kejadian gagal menang inilah yang membuat para fansnya mak deg mak ser. Tentu lebih menyedihkan lagi kalo tim jagoannya kalah. Tapi bagaimana cara mengelola dan menangani kesedihan dan kekecewaan itu adalah kunci menjadi wali.

Menjadi fans dari sebuah klub besar yang sering gagal menang adalah sebuah riyadhah (latihan jiwa) tersendiri. Banyak aspek ilmu hati digunakan, sebut saja sabar, syukur, iman terhadap takdir, dll. Ketika kalah berarti harus sabar, saat imbang berarti saatnya untuk bersyukur, jika menang harus percaya bahwa ini adalah takdir dan karunia Tuhan. Sampai pada level ini, seorang fans sudah pasti sadar betul bahwa pemain-pemain dan pelatih klub kesayangannya benar-benar tidak memiliki kuasa dan tidak bisa diandalkan laiknya Tuhan. Sudah pasti para fans ini tidak pernah menggantungkan harapan pada makhluk yang lemah.

Gonta-ganti pemain dan pelatih berkualitas ternyata juga bukan jaminan bahwa sebuah tim bola akan mudah melaju dan meraih kemenangan demi kemenangan. Sesuatu yang terlihat siap, ketika diuji dengan ujian sebenarnya ternyata masih bisa gagal. Ujungnya tentu kembali pada kehidupan manusia, banyak pelajaran yang bisa diambil dari fans-fans setrong ini.

Jika poin-poin kesalehan dan pola-pola pikir ruhaniyah ini semakin dipraktikkan, sudah pasti peluang menjadi wali semakin besar. Melihat banyaknya jumlah fans dari tiga klub ini, jika separuhnya saja sukses jadi wali, insyaAllah kiamat masih lama. Apalagi kalo ketiga tim itu istiqomah dalam kondisi seperti ini, mungkin wali-wali jalur fans ketiga klub ini akan semakin membeludak.

Wallahu a’lam

NgajiDesain #1: Dribbble dan Estetika Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd (1126–1198 M), seorang filosof asal Spanyol berpendapat bahwa keindahan selalu ditentukan oleh tiga aspek kenyataan fisik, yakni tartib (tatanan), tanasub (proporsi), dan nidzam (harmoni). Sesuatu akan disebut indah apabila hal itu tertata, mengandung stuktur yang padu, dan memiliki harmoni antar-bagiannya. Maka, ajaran estetika ala Ibnu Rusyd sudah pasti memiliki dua ciri pokok, kognitif dan rasional.

Konsep ajaran estetika Ibnu Rusyd sampai hari ini masih sangat teraplikasikan dalam praktik-praktik seni maupun desain. Dalam keseharian saya sebagai Product Designer di Sebo Studio, teori-teori estetika dan etika — saya akan membahasnya dalam artikel yang berbeda —  yang dikemukakan oleh para filosof abad pertengahan seolah menjadi ruh dalam setiap proses pekerjaan saya. Pengaplikasian pandangan estetika ini bisa diterapkan sejak proses marketing (mencari klien) melalui media sosialnya para desainer seperti Dribbble, hingga proses pemecahan masalah dalam projek-projek yang kami kerjakan.

Pada kenyataannya, persepsi manusia terhadap apa yang dimaksud dengan indah tidak akan pernah sama. Inilah kenapa keindahan dikaitkan dengan sisi kognitif yang berkaitan dengan knowledge (pengetahuan), comprehention (pemahaman), application (penerapan), analysis (analisa), synthesis (sintesa), dan evaluation (evaluasi). Sehingga keindahan bisa saja bersifat lokal, tidak global. Kenapa? Tentu karena faktor-faktor kognitif itu sendiri. Contoh, warna merah identik dengan peringatan dan pentunjuk terhadap sesuatu yang berbahaya. Tapi dalam komunitas tertentu, warna merah bisa berarti warna keberuntungan dan puncak keindahan.

Saya memandang Dribbble sebagai suatu kelompok masyarakat besar yang didalamnya banyak terdapat desainer-desainer hebat. Karya-karya yang populer di platform ini sudah pasti memenuhi kualifikasi estetis sebagaimana dituturkan Ibnu Rusyd, yaitu tartib, tanasub, dan nizham. Tingkat pemahaman dan pengetahuan terhadap 3 prinsip ini bisa sama ketika masyarakat Dribbble aktif mengikuti perkembangan komunitas bertahun-tahun lamanya. Dengan kata lain, “selera” yang muncul dan menjadi kesepakatan secara tidak langsung dalam sebuah komunitas bisa saja tidak cocok dengan komunitas lain. Kesepakatan-kesepakatan atas penerimaan dan pemahaman terhadap 3 prinsip estetika ini kemudian dikenal dengan isitilah “design trend”.

Maka dapat disimpulkan bahwa dalam sebuah komunitas desainer, akan ada keumuman-keumuman yang akhirnya bisa dianggap sebagai sebuah kelaziman. Tentu ini didasari atas penerimaan kognitif dan rasional suatu kelompok desainer terhadap rumusan tartib, tanasub, dan nizham. Kemudian, penerimaan atas kesepakatan ini memunculkan sebuah trend yang akan terikat dengan dimensi ruang dan waktu. Sehingga dapat dipastikan bahwa tidak ada tren desain yang abadi.

Mengenal Market dan Audiens Sebuah Produk

Setiap tren desain yang diikuti pasti memiliki ruang-ruang market dan audiens (user) secara spesifik. Dalam konteks product design, bisa jadi audiensnya adalah sesama desainer, penikmat desain, hingga seorang pengguna desain. Sejatinya apa yang disebut market dan audiens tidak selalu sama, meskipun dalam beberapa hal bisa saja sama persis. Contoh simpelnya, saya mendesain produk mainan untuk anak-anak. Maka jelas, audiens atau penggunanya adalah anak-anak, sedangkan marketnya adalah orang tua mereka.

Estetika, sebagaimana pendapat Ibnu Rusyd diatas menunjukkan bahwa keindahan itu sesuatu yang kodrati, artinya berasal dari dalam dirinya sendiri. Maka seharusnya tidak ada kata-kata komentar sinis ketika mengapresiasi keindahan suatu karya seperti, “bagus sih, tapi kebanyakan rounded”, atau “ini visualnya bagus sih, tapi fungsinya ngga jelas”. Mungkin ini bisa sama dengan seorang Ibu yang melihat mainan yang ia sendiri tidak paham cara menggunakannya, tidak jelas untuk apa, padahal anaknya ingin mainan itu. Maka dapat dikatakan bahwa ketidak-sepakatan terhadap suatu nilai estetika juga merupakan kewajaran.

Desain tidak harus cocok dengan apa yang diinginkan oleh semua orang. Fokus terhadap audiens akan jauh lebih penting untuk menyampaikan value dan solusi yang diciptakan.

Boleh jadi pemahaman orang terhadap sebuah karya masih bersifat parsial dan belum comprehent. Sebagaimana dalam konteks komunitas Dribbble, desain yang baik hari ini adalah desain yang bisa diterima oleh komunitas. Penerimaan komunitas terhadap karya desain itu sudah pasti akan membuka pintu market yang lebih besar.

Ciri Khas dan Identitas

Identik bukan berarti sama. Kualitas desain secara estetis pasti akan kembali pada 3 prinsip yang diterangkan diawal. Semakin diulang-ulang, prinsip-prinsip itu akan menelurkan “tren lokal” atau ciri khas. Teman-teman desainer di tempat saya bekerja menyebutnya dengan design style. Tren lokal ini jika mendapatkan penerimaan akhirnya bisa menjadi tren global, baik itu dari sisi visual saja, ataupun solusi yang ditawarkan.

Dalam menghadapi audiens yang serupa, seorang desainer akan dihadapkan dengan pilihan estetis yang sudah ada dan terbukti berhasil. Pembeda dasarnya hanyalah identitas. Maka akan sangat sering kita temui desain-desain yang secara penataan layout, cara kerja, dan lain sebagainya mirip. Apakah ini salah? Sama sekali tidak. Kemiripan desain A dengan desain B adalah bukti bahwa desain tersebut bisa diterima oleh audiens yang serupa.

Saya percaya bahwa setiap desain dari sebuah produk memiliki tujuan-tujuan tertentu, idealnya selalu terkait dengan entitas bisnis serta untuk kepentingan audiens mereka. Maka sudah bisa dipastikan bahwa desain produk (misalnya dalam bentuk website/app) sebuah bisnis automobile tidak bisa sama dengan bisnis fashion, meskipun sama-sama jualan. Artinya, desainer tidak bisa memaksakan persepsinya terhadap estetika kepada semua orang.

Namun perlu dicatat bahwa dalam konteks komunitas seperti Dribbble, jualan estetika ini kebanyakan ditujukan kepada sesama desainer. Ya, desainer sebagai audiens. Maka menurut saya, mengikuti tren adalah hal yang baik. Lebih-lebih bisa memberikan nilai dan warna baru terhadap pemahaman estetika yang mengarahkan pada pembaruan tren.

Pada kenyataannya, pekerjaan seorang desainer akan menjadi lebih berat ketika berada di dalam tim yang sudah mature. Selain karena orientasi terhadap bisnis dan audiens lebih besar, hal ini juga tidak terlepas dari kematangan identitas sebuah produk yang memiliki ciri khas tertentu. Bagaimanapun melukis diatas kanvas kosong akan lebih mudah menghasilkan ketertataan, kepaduan, dan harmoni. Lalu bagaimana kita akan menghasilkan karya yang estetis jika kita melukis diatas kanvas yang sudah ada lukisannya?

Kesimpulan

Desain memang seperti itu, kadang ya boleh sama, kadang ya boleh tidak. Tergantung kebijaksanaan seorang desainer. Hanya saja, perlu dipahami bahwa estetika bukan hanya sesuatu yang tampak oleh mata saja. Tartib, tanasub, dan nizham bukan hanya berpacu pada realitas inderawi. Lebih dari itu, estetika juga menyangkut beberapa aspek non-inderawi seperti pengalaman, pengetahuan, pemahaman, dan lain sebagainya.

Dalam konteks Dribbble, tren adalah sebuah hasil kesepakatan bersama (mayoritas) yang tidak disadari. Tren tidak bersifat abadi dan relatif cepat berganti, sedangkan prinsip-prinsip kunci estetika sebagaimana diungkapkan Ibnu Rusyd akan jauh lebih langgeng untuk memicu perubahan-perubahan tren di masa depan.

Wallahu a’lam


InsyaAllah saya akan melanjutkan NgajiDesain berikutnya dengan tema Estetika dan Fungsi Desain (kurang lebih) atas pemahaman saya terhadap konsep-konsep yang ditawarkan oleh Ulama’ abad pertengahan 🙏🏼

Persahabatan ala Sufi

Imam al-Ghazali merumuskan bahwa setidaknya ada 4 hal yang membuat kenapa seseorang suka bersama dengan orang lain. Pertama, karena adanya kesamaan dalam diri orang itu yang sesuai dengan seleranya, entah itu hal-hal baik ataupun buruk. Kedua, orang lain itu bisa menjadi perantara untuk urusan duniawinya. Ketiga, orang itu bisa menjadi perantara tercapainya urusan non-dunia, seperti ilmu agama. Keempat, ia mencintainya karena Allah, bukan karena kepentingan apapun yang ada dalam dirinya.

Semua faktor yang menjadikan adanya ikatan “pertemanan” antara satu orang dengan orang lain bisa menjadi perantara al-hubb fillah (persahabatan yang didasari keikhlasan kepada Allah), kecuali alasan kedua. Hubb fillah inilah yang menjadi inti dari persahabatan cara sufi, yaitu persahabatan yang tidak didorong oleh faktor kepentingan apapun, hanya karena Allah dan dalam urusan yang Allah ridha.

Photo by Aman

Bersahabat dengan cara sufi ini tidak repot dan ruwet, tanpa perlu atribut dan beban-beban moral yang biasa terjadi dalam hubungan antara seseorang dengan orang lain. Hubungan persahabatan ini mengalir begitu saja, alami dan apa adanya. Persahabatan model ini tidak pernah terikat dengan makhluk dan hawa nafsu, karena ikatan dan pedoman satu-satunya adalah Allah SWT.

Imam Junayd al-Baghdadi, tokoh sufi yang ajarannya paling masyhur di dunia berkata, “Jika ada dua orang bersahabat dalam urusan Allah, lalu salah satunya merasa risih atau merasa segan kepada yang lain, maka ada yang bermasalah pada salah satunya”. Sayyidina Jakfar Shadiq mejelaskan pula bahwa teman yang paling berkesan di hatinya adalah yang tidak mendatangkan beban apa-apa. Saat bersama dengan dia tak ubahnya saat sendiri mengalir apa adanya, tak ada yang disembunyikan, tak ada yang dibuat-buat, tidak malu, tidak risih, tidak perlu bermanis muka, basa-basi dan lain sebagainya.

Syaikh Abdussalam bin Masyisy suatu ketika berpesan kepada muridnya, Imam asy-Syadzili,

“Janganlah kamu berteman dengan orang yang terbiasa mendahulukan dirinya daripada kamu, yang seperti itu adalah kekikiran. Jangan juga kamu berteman dengan orang yang terbiasa mendahulukan kamu daripada dirinya, biasanya yang seperti itu hanya teman sesaat. Bertemanlah dengan orang yang jika dilihat, membuatmu ingat pada Allah SWT.”

Jika dipahami, Syaikh Abdussalam berpesan pada muridnya, Imam Syadzili untuk menunjukkan bahwa inti dari persahabatan dengan orang lain itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu perangkatnya yaitu adalah kejujuran, tidak diruwetkan dengan upaya-upaya penyesuaian, tidak ada beban dan keterpaksaan diantara keduanya selama proses persahabatan berlangsung. Dengan demikian, persahabatan model ini berjalan murni, tidak dibangun dengan riya’, berat hati, ketidak jujuran, yang tujuannya hanya untuk menyesuaikan diri dengan selera atau status temannya.

Hal-hal seperti disebutkan diatas kemudian juga diperkuat oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya’. Beliau menyatakan bahwa salah satu cara bersahabat ala sufi adalah tidak terbebani oleh temannya, atau membebani temannya. Cara bersahabat seperti ini sudah pada maqam ‘arifin. Beberapa sufi juga menyatakan, “Jika kamu menemani ahli dunia, maka pakailah etika sosial (adab). Jika kamu menemani ahli akhirat, maka pakailah ilmu. Jika kamu menemani ‘arifin, maka lakukanlah sesuka hatimu.

Jika term persahabatan membutuhkan approval dari orang lain untuk melakukan hal yang sama, setidaknya kulo njenengan bisa mencoba menerapkan cara bersahabat ala sufi ini untuk berteman dengan orang lain. Jangan-jangan sudah diterapkan? Ya mungkin saja, wong kita memang suka loss dan gass.

Wallahu a’lam