Empat puluh hari yang lalu, saya berencana membagikan beberapa hal tentang perjalanan hidup sepanjang tahun ini. Ternyata saya hanya berhasil mencatat dengan sporadis seperti tahun-tahun sebelumnya, sehingga apa yang awalnya direncanakan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bukan masalah besar, tapi lumayan mengecewakan. Rencana kini tinggal wacana yang tidak benar-benar terlaksana.
Secara tidak terprediksi, 40 hari terakhir di tahun ini menjadi hari-hari tersibuk saya sepanjang tahun. Berbagai kegiatan seputar pendidikan, pekerjaan, sampai hobi silih berganti menuntut untuk dilakukan. Membaca dan menulis, meskipun juga termasuk hobi saya, agak tersisihkan akhir-akhir ini. Jika sebelumnya saya bisa menyelesaikan membaca beberapa buku dalam rentang satu bulan, maka bulan ini menjadi yang terburuk. Saya tidak membaca apapun kecuali hanya beberapa lembar saja.
Tapi memang beginilah hidup yang saya jalani. Banyak hal yang mendadak terjadi karena tidak pernah terencana sebelumnya. Jujur saja, saya tidak pernah membuat rencana dalam menjalani hidup kedepan. Let it flow, itulah kalimat yang sepertinya tepat menggambarkan bagaimana saya menjalani hidup, mengalir saja. Bukankah seninya hidup itu adalah kemampuan untuk menghadapi the most unpredictable and unexpected things happened to life?
Ketika memulai 2024, saya ndak reko-reko. Saya tidak punya ambisi untuk ini dan itu sepanjang tahun ini. Bagi saya, bisa menjalani hari-hari tanpa beban dan minum kopi yang enak, sudah lebih dari cukup. Pada penutupan akhir tahun lalu, saya menulis ini:
“Lalu, apa rencana di 2024? Tidak ada rencana spesifik, hanya ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Dan mungkin segera menyelesaikan sekolah yang tertunda terus-menerus. 2024, please be kind to me.”
Meskipun menjadi pribadi yang lebih baik tidak akan bisa dikatakan tuntas, setidaknya saya sudah memulai kembali usaha untuk menyelesaikan sekolah yang tertunda. Jika semuanya berjalan lancar, insya Allah tahun depan sekolah saya akan selesai. Let if flow lah.
2024 Tidak sepenuhnya membahagiakan saya, meskipun tidak ada hal yang benar-benar buruk terjadi pada saya. Ada beberapa kejadian yang selama beberapa waktu melelahkan kondisi fisik dan mental, tapi overall semuanya bisa saya tangani dengan baik sejauh ini.
2024 Juga bukan tahun dimana saya merasa banyak mendapatkan pencapaian atas berbagai hal. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya menghabiskan banyak waktu untuk ngopi, bekerja, dan membaca buku. Terkait hal terakhir, saya sangat senang karena tahun ini istri saya bisa tuntas membaca satu novel dan menceritakannya kepada saya. Kini, Ia sudah setengah jalan membaca novel keduanya. Saya menganggapnya sebagai sebuah prestasi yang luar biasa, dan sangat menyenangkan.
2024 Membuat saya sedikit lebih sporty. Tahun ini saya mencoba berbagai aktivitas olahraga yang ternyata cukup menyenangkan bagi saya. Gym, sepakbola, badminton, dan bersepeda. Semuanya cukup rutin saya lakukan di tahun ini kecuali gym yang hanya berjalan tiga bulanan.
2024 Menjadi tahun dimana saya “melambatkan” pace untuk bekerja. Saya dan teman-teman di studio menginisiasi program kerja four day work-week, sehingga Jum’at menjadi hari libur tambahan selain Sabtu dan Minggu. Kami berusaha untuk melakukan satu langkah mundur, agar masing-masing dari kami punya cukup waktu bersama keluarga, hobi, dan kehidupannya masing-masing. It works!
2024 Adalah tahun terbanyak saya menghabiskan buku secara utuh. Saya tidak menghitung jumlah pastinya, tapi tumpukan buku dan catatan-catatan saya atas pembacaan buku-buku itu lebih tebal dari sebelumnya. Mungkin ini terjadi karena saya banyak membaca “kitab putih” di tahun ini. Sehingga terkesan banyak buku yang berhasil selesai dibaca. Beberapa buku favorit saya tahun ini: Men’s Search for Meaning karya Viktor E. Frankl, Days at the Morisaki Bookshop karya Satoshi Yagisawa, Range karya David Epstein, The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway, dan The Power of Regret serta Drive yang keduanya adalah karya dari Daniel H. Pink.
Sedangkan untuk kitab-kitab kuning, saya tidak menyelesaikan membaca satu kitab pun secara tuntas di tahun ini. Saya hanya membaca sesuai kebutuhan penelitian. Berdasarkan jumlah “daftar pustaka” di berbagai artikel yang saya tulis, kurang lebih ada sekitar 300an judul berbeda yang sempat saya buka. Alhamdulillah tradisi baik ini masih berlanjut.
Lalu, 2025 mau ngapain? Saya akan berusaha menjadi versi manusia yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, menyelesaikan sekolah, dan semoga bisa lebih fokus pada kesehatan serta kebahagiaan diri dan orang-orang tercinta di sekitar saya. Oh iya, satu lagi, saya ingin tahun depan lebih rutin menulis lagi. Mungkin saya perlu men-challenge diri sendiri untuk menulis tanpa putus selama satu bulan atau lebih. Entah kenapa, saya merasa perlu lebih banyak untuk mendokumentasikan kepingan-kepingan hidup saya dengan lebih baik ketika menginjak usia 30 tahun.
Semoga harapan-harapan baik kami diijabah oleh Allah Swt, dan jalan yang kami tempuh senantiasa dalam lingkupan ridha-Nya. Amin.

Tinggalkan komentar