Pada suatu ketika, saya pernah berdiskusi dengan seorang kawan tentang sesuatu yang disebut dengan bejo atau keberuntungan. Ungkapan bejo biasanya dinisbatkan pada sebuah hasil yang menyenangkan bagi seseorang.Lebih seringnya, kata ini muncul dari sudut pandang rasan-rasan pihak kedua atau ketiga. Asumsi saya, pihak pertama yang menyebut dirinya bejo jauh lebih sedikit dari pihak lainnya.
Mulanya, saya menyatakan bahwa bejo itu sebenarnya tidak bisa serta merta disebut dengan keberuntungan. Bejo adalah bahasa yang menggambarkan sisi ndak terimo orang lain terhadap keberhasilan atau kesuksesan seseorang. Bahasa simpelnya ya sirik atau iri lah. Sehingga, munculnya ungkapan ini memiliki kecenderungan mendiskreditkan berbagai faktor tidak terlihat yang mempengaruhi sebuah kesuksesan.
Dalam diskusi tersebut, saya memposisikan diri sebagai seorang yang meniadakan bejo. Sedangkan kawan saya berpendapat bahwa keberuntungan itu ada dan nyata. Gambarannya seperti seseorang yang tiba-tiba menang lotere, terhindar dari kecelakaan, sampai penjual yang dagangannya laku keras, padahal barangnya biasa saja. Kita mungkin juga bisa menambahkan contoh-contoh lainnya yang serupa.
Tapi, setiap bejo dalam contoh-contoh itu pasti ada sebabnya, entah disadari atau tidak. Menurut saya, ada berbagai faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam satu hal tertentu. Bisa jadi faktor itu bersifat internal seperti usaha dan kerja keras. Bisa juga faktor itu bersifat eksternal seperti lingkungan dan kondisi tertentu, atau bahkan bagian yang sangat kecil dari lingkungan dan kondisi itu. Mungkin juga, faktor itu adalah kombinasi keduanya. Jelasnya, ada serangkaian proses sebab-musabab yang memiliki peran penting disini.
“Nah, itulah yang disebut bejo!” seloroh kawan saya. Pada titik inilah saya mulai bisa memahaminya. Mungkin kesulitan seseorang untuk mengidentifikasi faktor yang menjadi sebab keberhasilan tersebut memunculkan sebuah istilah yang disebut bejo. Karena faktor tersebut tidak diketahui, maka hampir mustahil juga untuk mengulangi keberhasilan yang sama pada skenario yang berbeda. Ada benarnya juga ungkapan rejeki iku ora biso ditiru, senajan podo lakumu (rezeki tidak bisa ditiru, meskipun kamu melakukan usaha yang sama (dengan orang lain)).
Obrolan seperti ini yang kemudian sering membuat saya overthinking. Jangan-jangan apa yang sudah saya capai dari pekerjaan saya termasuk salah satu varian bejo? Meskipun overthinking sering diasosiasikan dengan sesuatu yang berbau negatif, tapi saya justru menyukai momen-momen gelisah seperti ini. Entah mengapa, ada tuntutan untuk lebih aware dalam melihat setiap proses yang mengantarkan saya pada kondisi hari ini, terutama terkait pekerjaan.
Walaupun saya juga masih bingung bagaimana cara ngudari hal-hal ini, tapi saya merasa lebih pede dalam mengambil keputusan terkait pekerjaan. Semua ini adalah proses, dan proses itu akan terus berlangsung. Mungkin ini adalah sebuah iterative process yang perlu ada modifikasi berkelanjutan dalam setiap detailnya.
Pola pikir ini berdampak secara langsung pada berbagai aspek pekerjaan saya. Jika dihubungkan dengan goals misalnya, saya kini cenderung memilih learning goals daripada performance goals. Contoh simpelnya begini, bayangkan kita adalah seorang siswa sekolah yang belajar Bahasa Inggris. Maka opsi goals-nya bisa jadi learning goals, seperti mampu berkomunikasi dengan baik menggunakan Bahasa Inggris, atau performance goals, seperti mendapat nilai 100 dalam ujian Bahasa Inggris.
Saya tidak mengatakan nilai 100 itu buruk. Maksud saya, jika sudah mendapatkan nilai 100, lalu mau apa dan bagaimana lagi? Saya hanya merasa bahwa menjadikan angka sebagai tujuan, meskipun mudah dievaluasi, justru akan menghambat perkembangan diri saya. Sebaliknya, dengan tidak memberikan batasan khusus terhadap capaian hasil, sepertinya lebih mendorong saya untuk better than before.
Oleh karena itu, saya lebih memilih pendekatan ini untuk menjajaki setiap proses pekerjaan saya. Apapun hasilnya, saya sedang berusaha untuk merangkai faktor-faktor penentu ke-bejo-an saya. Lagipula, kegagalan dalam sebuah proses juga bisa menghadirkan aspek-aspek pembelajaran. Jika demikian, apakah membatasi hubungan bejo hanya dengan keberhasilan masih relevan? Entahlah. Bejo-nya, saya masih berproses. Kadang ya (sedikit) berhasil, kadang ya (sering) gagal.

Tinggalkan komentar