Saya masih ingin bercerita tentang makanan. Beberapa tahun terakhir, saya dan istri punya kecenderungan untuk makan sepiring berdua. Maksud saya bukan makna harfiahnya, tapi satu menu makanan untuk berdua. Keputusan ini lebih sering terjadi ketika kami membeli makanan di sebuah warung makan atau resto. Sepertinya ini akan menjadi sebuah tradisi panjang bagi keluarga kecil kami.
Kemarin malam, kami kembali mempraktikkan tradisi ini. Pada momen itu, kami memesan satu sop iga, satu telur dadar, dan satu nasi. Biasanya, kami hanya memesan satu porsi nasi plus satu porsi sop iga. Entah kenapa, kemarin malam istri saya bilang kalau sedang ingin makan telur dadar, yasudah kami pun memesannya.
Saking familiarnya dengan kami, pemilik warung biasanya sudah menyediakan satu piring tambahan beserta sendok dan garpunya. Kami pun mulai memakan hidangan yang telah tersaji dengan lahap. Sampai di satu momen, saya kepikiran tentang apa yang sedang kami lakukan. “Sepertinya, ndak semua orang punya keberanian memesan satu porsi makanan untuk dimakan dua orang,” gumam batin saya.
Langsung saja saya membuka obrolan mengenai hal ini, “Yang, kenapa ya kok kita bisa pede pesen satu makanan, padahal kita kan makannya berdua?” Tanya saya kepada istri. “Lha emangnya kenapa?” Istri saya malah bertanya balik. Saya pun menjelaskan asumsi-asumsi yang ada dalam pikiran, “Kayanya aku di jaman dulu ngga akan pede deh kalo makan dua orang tapi pesennya satu, kaya emang harus pesen sendiri-sendiri gitu.” Setelah mengunyah makanan sebentar, saya melanjutkan lagi, “kan ada kemungkinan kalo kita ‘takut’ dirasani penjualnya, atau ‘takut’ juga dengan apa kata orang terhadap pilihan kita ini.” Istri saya menyambar, “Maksudmu takut dianggep miskin gitu?” Secara spontan, kami berdua kemudian tertawa bersama.
Sesaat kemudian istri saya menambahkan, “Mungkin kita udah ngga di fase itu. Kayanya kita udah ngga terlalu peduli lagi lah dengan apa kata orang. Toh mereka juga ngga tahu kondisi kita, dan kita sebenernya juga ngga pernah tahu pikiran mereka.” Ada benarnya juga apa yang dikatakan istri saya. Kita mungkin sering punya asumsi terhadap pikiran orang lain terhadap kita, yang bahkan kita tidak kenal dengan orang itu. Jadi, sebenarnya kita sedang “bertarung” dengan pikiran kita sendiri.
Secara tiba-tiba, saya teringat dengan cerita seorang teman yang memiliki kedai kopi. Suatu ketika, ada orang berkunjung ke kedainya, sekitar dua jam sebelum kedai itu tutup. Pengunjung ini sendirian, duduk di luar, membuka laptop, dan sedang haha-hihi di depan layar laptopnya. Menurut teman saya, orang ini mungkin sedang meeting kerjaan. Ketika sudah lebih dari setengah jam dan pengunjung itu tidak lagi tampak sedang video call, teman saya menghampirinya untuk memberitahukan bahwa kopi bisa dipesan di kasir, sekaligus menginfokan tentang jam tutup dan waktu yang tersisa menjelang last order. Singkat cerita, pengunjung ini berakhir dengan tidak memesan apapun. Ketika si pengunjung itu di parkiran, teman saya menghampirinya dan “memarahinya.”
Saya dan istri tentu saja berbeda dengan si pengunjung kedai kopi itu. Kami tetap memesan makanan, walaupun tidak sesuai dengan jumlah orang yang datang. Alasannya sederhana, kami hanya ingin makan sesuai dengan kebutuhan. Saya sering merasa tidak nyaman ketika harus menyisakan makanan di meja. Karena kebutuhan kami biasanya tidak banyak, maka kami sering memutuskan untuk hanya membeli satu porsi makanan. Hal yang sama juga sering kami lakukan ketika harus makan di mall, kadang kami keheranan dengan meja yang penuh dengan makanan tapi hanya dimakan oleh dua orang. Mungkin saja memang sedang lapar-laparnya, atau sudah ngidam sejak berbulan-bulan lalu, saya juga tidak tahu pasti.
Kami merasa bahwa membeli makanan secukupnya adalah sebuah cara untuk menghargai makanan, sekaligus berhemat. Sehingga keputusan untuk membeli satu atau dua porsi makanan perlu dikembalikan pada prinsip itu. Jika kami memang sedang butuh untuk makan sendiri-sendiri, ya tentu saja kami akan membeli dua porsi. Seandainya satu porsi sudah mencukupi kebutuhan kami berdua, maka kami merasa tidak harus memesan porsi yang kedua.
Yasudah, saya mau makan malam dulu dengan istri, tapi kali ini bukan sepiring berdua, karena kami sedang sama-sama ngelih. Hehehe…

Tinggalkan komentar