Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Tujuannya Sama, Caranya Mungkin Berbeda

Ketika menulis sebuah artikel, biasanya saya menggunakan Microsoft Word. Dalam software Word di laptop, saya telah menyiapkan beberapa dokumen template sesuai peruntukannya masing-masing seperti blog dan kajian ilmiah. Setelah proses menulis selesai, barulah saya mengkopinya ke editor postingan blog atau mengirimkan dokumen tersebut ke tim redaksi media online, jika untuk dipublikasikan diluar blog ini.

Tujuannya sederhana, agar semua tulisan saya terdokumentasi di satu tempat. Mekanisme seperti ini, saya mulai sejak saya menyadari bahwa draft-draft tulisan saya berserakan dimana-mana. Ada di blog ini, Medium, Substack, Pages, Notes, dan lainnya. Kebiasaan menunda membuat saya jarang menyelesaikan sebuah tulisan dalam sekali duduk. Walhasil, cara dokumentasi yang buruk berimbas pada terhambatnya proses menulis saya.

Akhir-akhir ini, saya mencoba membalik cara tersebut tanpa mengesampingkan tujuan utamanya. Saya mencoba untuk menulis langsung di editor postingan blog ini, baru kemudian dikopi ke file Word di laptop. Tidak ada yang membedakan kecuali urutan prosedurnya. Baik menulis secara langsung di blog maupun via Word, saya bisa menggunakan gawai maupun laptop, atau terkadang juga tablet. Sama-sama fleksibel, in terms of tools.

Lalu, kenapa saya merasa perlu merubah prosedur yang sudah “mapan” itu? Jawabannya adalah “untuk latihan.” Ya, saya merasa perlu berlatih untuk menyelesaikan sebuah tulisan dalam sekali duduk. Harapannya, saya bisa lebih lancar menulis apa saja yang sedang saya pikirkan, pun bercerita tentang pengalaman yang telah saya alami dan rasakan. Sehingga, dari latihan ini akan muncul kebiasaan untuk menulis apapun dan dimanapun. Intinya, saya sedang berusaha menjadikan menulis “yang baik” sebagai sebuah kebutuhan.

Meskipun belum benar-benar teruji dengan perjalanan jauh yang melelahkan, setidaknya saya sudah mulai berlatih. Hanya saja, latihan yang saya lakukan masih pada tahap menulis dalam sekali duduk tanpa memberikan batasan waktu tertentu untuk menyelesaikan sebuah tulisan. Nantinya, saya akan mencoba untuk memberi variabel tambahan, agar latihan ini semakin ketat, seperti batasan waktu atau lainnya. Siapa tahu, hal itu akan sangat membantu saya di masa depan.

Sampai saat ini, saya membatasi latihan ini dengan tulisan-tulisan yang bersifat blogging. Paling mentok-nya ya sebatas sharing pengalaman saja. Kalau untuk tulisan-tulisan yang mambu-mambu akademik, nanti dulu, saya tidak sepintar itu. Dalam kasus ini, sepertinya menulis dengan cara pertama tetap menjadi pilihan paling masuk akal bagi saya.

Bisa jadi pula, semakin sering saya berlatih menulis, akan semakin memunculkan variabel-variabel baru yang bisa mempengaruhi cara menulis saya kedepan. Entah untuk sekedar blogging atau menulis artikel yang lebih serius. Lagipula, saat ini saya masih berusaha untuk memperbanyak kuantitas. Bukan berarti saya abai terhadap kualitas. Hanya saja, bagaimana caranya saya bisa menilai bagusnya kualitas jika jumlah tulisan saya masih sedikit? Sampai saat ini, saya masih percaya pada diktum practice makes perfect atau iso amargo kulino. Ya, semoga saya segera terbiasa dengan latihan-latihan ini.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts