Hari ini, pernikahan saya dan istri menginjak usia delapan tahun. Bukan tahun Masehi, tapi tahun Hijriah. Kami menikah pada 10 Rajab, tepat delapan tahun lalu.
Wedding anniversary sebenarnya tidak penting-penting amat bagi saya. Hanya saja, saya berusaha untuk selalu mengingat kapan kami mulai hidup bersama. Itu saja. Selain itu, saya juga punya kebiasaan untuk mengingat (dan menuliskan) tanggal yang perlu dikenang, baik dalam Hijriah maupun Masehi.
Kami berjumpa dan saling mengenal pertama kali di masa SMA, sekitar tahun 2010 atau 2011. Kami sekolah di tempat yang sama, walaupun kemudian saya pindah sekolah setelah genap menyelesaikan dua semester disana. Saya tidak ingat dengan jelas kapan pertama kali kami mulai berinteraksi, mungkin saat itu saya tidak mengira jika hari itu akan menjadi salah satu hari terpenting dan perlu didokumentasikan sepanjang sejarah hidup saya.
Singkat cerita, kami menikah pada 2017. Kami berdua baru saja menginjak usia 22 tahun. Usia yang masih sangat muda untuk mulai membina rumah tangga. Tentu saja, dua bocil ini lumayan kaget ketika awal-awal menjalani hidup bersama.
Setelah delapan tahun berlalu, kami merasa semakin bisa memahami satu sama lain. Saling memahami bukan hal yang mudah dan tidak jarang membutuhkan pengorbanan. Saya rasa, istri saya adalah orang yang lebih banyak berkorban untuk hubungan kami. Saya bisa membayangkan betapa sulitnya berhadapan dengan diri saya. Egois, moody, dan lumayan pick me. Belum lagi jika saya mulai berbicara ngelantur, saya haqqul yaqin, satu-satunya manusia di muka bumi yang kuat mendengarkannya hanyalah istri saya.
Selain berkorban hingga babak belur, istri saya juga terhitung memberikan influence yang besar dalam kehidupan sehari-hari saya. Banyak kebiasaan saya yang berubah semenjak kami hidup bersama. Salah satu hal yang paling berdampak adalah meningkatnya standar kebersihan saya. Selain itu, saya yang dulunya bukan termasuk orang yang suka bercerita, kini lebih mudah untuk menceritakan apa saja kepadanya. Karena istri saya adalah orang yang apa-apa diceritakan, sehingga saya juga banyak belajar mendengarkan.
Saya rasa, semakin kesini kami berdua semakin bisa beradaptasi satu sama lain. Dinamika kehidupan masing-masing dari kami tentu saja berdampak pada pernikahan kami. Jelasnya, ruwet-nya dinamika kehidupan ini memaksa kami terus berlatih untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Sehingga, kami merasa lebih bisa mengelola konflik, stres, dan berbagai rintangan lainnya yang hadir ditengah kebersamaan kami. Beruntungnya, kami bersepakat bahwa semakin tahun, hubungan kami semakin baik.
Beberapa waktu lalu, ditengah suasana makan malam, kami mencoba merumuskan tips menjadi pasangan yang harmonis. Sederhana, jangan sering-sering ngobrol terlalu serius. Tapi kemudian kami saling bertanya, “memangnya kita harmonis?” Lalu kami tertawa bersama.
Malam ini kami mencoba untuk mengulang momen yang terjadi dalam pembicaraan tentang pasangan harmonis itu. Kami merayakan anniversary pernikahan ke-8 di warung makan favorit kami. Sayangnya, menu andalan yang sering kami makan sepiring berdua telah habis. Sehingga kami terpaksa membeli menu yang tersisa, ayam geprek sambal ijo dan ayam kampung goreng. Kali ini, kami juga memesan dua porsi nasi, bukan satu seperti yang sudah-sudah. Bahkan sejak dari rumah, saya juga menolak untuk membawa air putih sendiri seperti biasanya. “Nanti kita pesan dua gelas es jeruk,” begitu seloroh saya sebelum berangkat. “Hari ini kan anniversary kita,” tutup saya mencoba memberikan alasan logis.
Tentu saja, selama perjalanan berangkat, makan, hingga kembali pulang, kami membicarakan hal-hal tak penting. Tahu apa ajakan istri saya? Ngobrol dengan bahasa air mendidih. Ssssst, tuuuut, blublublub. Setidaknya, begitulah potret pasangan harmonis menurut kami. Hari ini, saya benar-benar sedang merasa merayakan hari jadi kami. Semoga pernikahan kami senantiasa diberkahi oleh Allah Swt. Matur nuwun Ya Allah, terima kasih istriku, love you 💕

Tinggalkan komentar