“Ibnu itu emang suka bikin-bikin sistem kok mbak,” ucap istri saya kepada Ibu-Ibu di sekitarnya. Sedangkan saya sedang menata makanan di gardu ronda kampung kami. Saat itu, para warga sedang mengadakan acara bakar-bakar ikan menjelang akhir tahun. Selain ikan, ada juga tempe goreng, krupuk, nasi, dan tentu saja sambal beserta lalapannya. Tak lupa, hadir juga minuman berupa teh panas, air putih, dan minuman soda, nggo gayeng-gayengan.
Saya tidak memiliki peran khusus dalam acara tersebut, namun saya ngide untuk mendokumentasikannya dalam bentuk foto dan video. Lumayan, ini bisa jadi kenang-kenangan dan bukti kekompakan kami dalam hidup bertetangga. Ada yang menyiapkan tempat makan, menggoreng ikan nila, meracik bumbu bakaran, dan tentu saja membakar ikan-ikan itu dengan arang dan kipas manual.
Workflow kerja kami sebagai kelompok tergolong sangat baik. Langkah demi langkah menyiapkan makanan berjalan lancar. Ketika hampir semua makanan sudah dioper ke gardu ronda, saya melihat tatanannya tidak efektif. Kemudian, saya berinisiatif untuk menata makanan-makanan tersebut agar lebih user-friendly.
Dalam prosesnya, saya membayangkan orang-orang akan mengambil makanan dari satu sisi tertentu. Kemudian, mengurutkan kemungkinan langkah-langkah terbaik yang mungkin bisa memudahkan orang-orang untuk mengambil makanan. Piring berada di titik start, disusul dengan nasi, lauk utama (ikan bakar), tempe, lalapan, dua jenis sambal, krupuk, dan sendok. Asumsinya, ketika seseorang sudah mengambil sendok, maka ia bisa membawanya dengan satu tangan. Sehingga, minuman bisa diletakkan juga secara berurutan. Pertama, gelas-gelas kosong, disusul dengan teh panas yang ada dalam jumbo (galon air panas), minuman soda, dan terakhir, air mineral.
Saat saya mulai mengutak-atik tatanan itu, sebagian bapak-bapak berkomentar, “wah, mas Ibnu iki ketoke jaman neng pondok bagian dapur ki (wah, sepertinya mas Ibnu ketika masih di pesantren jadi pengurus dapur).” Saya menganggap kata-kata ini sebagai respon positif, seakan-akan saya adalah orang yang berpengalaman mengatur makanan. Padahal tidak, “mboten yo, kulo bagian madhang tok (Ndak kok, saya cuma bagian yang makan-makan saja),” jawab saya kepada bapak-bapak itu sambil tertawa. Ibu-ibu yang mengelilingi gardu ronda pun juga nggumun dengan inisiatif saya dan bertanya-tanya.
Pada saat bersamaan, istri mencoba ndekengi saya dengan kalimat di paragraf pembuka tulisan ini. Ia coba menjelaskan bahwa saya sering “gawe-gawe” seperti ini. Hal-hal seperti ini, tentu saja lebih sering disaksikan oleh istri saya. Misalnya, saya bisa membuat prosedur khusus untuk masuk ke dalam rumah ketika saya dan istri sama-sama tidak ada di rumah. Contoh lainnya adalah prosedur memilah dan membuang sampah.
Dalam kasus tertentu, alasan saya untuk menetapkan prosedur untuk melakukan sesuatu adalah agar terhindar dari resiko yang buruk. Misalnya, saya tidak suka ada sampah organik yang tersembunyi, karena ada resiko munculnya belatung di tempat yang tidak diketahui. Sehingga, saya lebih merasa nyaman memiliki sedikit tempat sampah, agar lebih mudah dikontrol.
Selain karena menghindari resiko yang buruk, dorongan lainnya adalah efisiensi. Efisiensi menurut KBBI adalah ketepatan cara (usaha, kerja) dalam menjalankan sesuatu (dengan tidak membuang waktu, tenaga, biaya), atau kemampuan menjalankan tugas dengan baik dan tepat (dengan tidak membuang waktu, tenaga, biaya). Hanya karena dua alasan ini, banyak hal-hal yang menurut orang lain sepele, menjadi tidak sepele bagi saya.
Sejujurnya, saya merasa lebih nyaman dengan sesuatu yang bisa saya kendalikan dan prediksi. Sayangnya, dunia ini tidak sepenuhnya bisa diprediksi, apalagi dikendalikan. Sehingga, saya hanya berusaha untuk membaca pola sebab-akibat, kemudian menjadikannya sebagai acuan untuk menjadikannya sebuah sistem (baca: kebiasaan). Tidak semua usaha ini berhasil pada percobaan pertama. Biasanya akan ada feedback, baik itu dari percobaan mengalami sendiri atau pengalaman orang lain (biasanya istri saya). Dari sanalah saya akan melakukan perbaikan dan penyesuaian dalam praktik berikutnya.
Tapi sudahlah, mari kembali pada cerita bakar-bakar yang saya sampaikan sebelumnya. Setelah saya selesai melahap makanan-makanan yang disediakan, saya baru tersadar bahwa “sistem” yang saya buat belum mengakomodir proses setelah makan. Sehingga saya belum menyiapkan secara proper tempat untuk meletakkan piring kotor hingga sampah sisa makanan. Untungnya, orang lain tidak ada yang komplain.
Ketika seseorang mulai meletakkan piring kotornya di bawah gardu, orang lain secara alami mengikutinya, termasuk saya. Tanpa arahan, semua berjalan sebagaimana mestinya, seolah-olah sudah ada aturan tak tertulis yang dipahami bersama. Sampah-sampah sisa makanan pun secara tiba-tiba juga sudah terkumpul menjadi satu dalam sebuah kresek bekas. Kemudian saya berpikir, “mungkin hal-hal ini sedari awal ndak perlu tak pikir lah, wong sebenarnya semua orang sudah tau mau gimana.” Ada-ada saja.

Tinggalkan komentar