I Want to Know What Love Is adalah sebuah nomor andalan dari Foreigner, sebuah band rock asal New York, Amerika Serikat. Tembang ini pertama kali dirilis pada akhir 1984, bersamaan dengan peluncuran album ke-lima dari band ini yang berjudul Agent Provocateur. Versi original lagu ini, dinyanyikan oleh sang vokalis pertama, Lou Gramm, yang resign dari posisinya sekitar enam tahun pasca rilisan album ini.
Ketertarikan saya dengan lagu ini justru tidak berasal dari penyanyi aslinya. Saat SMA, saya mengikuti program reality talent show asal Amerika Serikat, The Voice. Acara inilah yang menjadi perantara saya mendengarkan lagu ini melalui Terry McDermott, seorang kontestan asal Irlandia yang akhirnya menjadi runner-up dalam ajang pencarian bakat tersebut.
Terry McDermott memiliki karakter suara yang menarik perhatian saya. Sampai-sampai, saya membuat satu playlist khusus di Spotify untuk menyimpan lagu-lagu (versi asli) yang telah dinyanyikan oleh McDermott dalam The Voice edisi ketiga itu. Karenanya pula-lah, sampai hari ini saya merasa nyaman mendengarkan lagu-lagu slow rock atau rock ballads 80s atau 90s.
Playlist yang saya buat itu pada kemudian hari akan sangat sering saya mainkan, terutama medio 2015 s/d 2016. Pada tahun-tahun tersebut, saya adalah anak kost yang sering begadang untuk melakukan pekerjaan freelance. Bahasa lainnya, sedang berusaha dengan sekuat tenaga untuk mempertahankan keberlangsungan hidup saya. Selain itu, sekitar dua bulan dalam periode tersebut saya benar-benar hanya di kost pasca operasi dislokasi jari kaki. Rutinitas ngantor yang sehari-hari saya lakukan otomatis terhenti dalam rentang waktu tersebut.
Uniknya, diantara banyaknya lagu yang ada dalam playlist itu, hanya lagu I Want to Know What Love Is inilah yang –pada hari ini– mampu membangkitkan ingatan yang teramat nyata bagi saya. Saya betul-betul bisa mengingat suara Lou Gramm terdengar dengan keras melalui speaker Simbadda yang saya beli di Gejayan. Keadaan kamar yang pengap akibat kepulan asap rokok yang terjebak tidak bisa keluar, hingga posisi duduk saya di kursi kayu keropos yang menghadap monitor ViewSonic 19 inch benar-benar terasa real.
Seringnya saya mengalami perasaan ini ketika mendengarkan lagu tersebut tampaknya perlu divalidasi. Beberapa hari lalu, saya mencoba bertanya tentang hal ini kepada salah seorang teman. Ternyata ia merasakan hal yang sama dengan saya. Ada lagu-lagu tertentu yang ketika didengarkan hari ini, bekerja laiknya sebuah mesin waktu. Lagu itu mampu mengantarkan kita pada momen-momen yang sangat jelas keadaan, suasana, bahkan aromanya.
Selain lagu I Want to Know What Love Is itu, ternyata ada satu lagu lagi yang melemparkan ingatan saya pada masa-masa itu dengan teramat jelas. Lagu itu adalah Lost Stars karya Adam Levine. Lagu ini secara resmi tidak ada dalam playlist yang telah saya buat. Hanya saja, teman sekamar saya sering meminta saya untuk memainkan lagu ini ketika kami sama-sama sedang begadang. Aroma hujan di penghujung 2015 benar-benar bisa kembali saya rasakan. Akhh…

Tinggalkan komentar