Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel blog yang ditulis oleh dosen saya, Pak Qowim. Artikel itu membicarakan tentang mitos dan bagaimana seharusnya cara pandang kita dalam menyikapinya. Beliau secara eksplisit menyatakan bahwa mitos sering kali dimaknai secara negatif, dengan kata lain mitos adalah cerita bohong.
Saat mencoba memahami kata demi kata dalam artikel itu, saya mendadak kepikiran tentang berbagai mitos di sekeliling saya. Kebetulan, karena keluarga saya ndak patio klenik, maka tidak banyak mitos yang bisa saya ingat. Mungkin hanya satu dua mitos yang pernah saya dengar dari tetangga, seperti nek maeme ora entek, pitike mengko mati (kalau makan tidak habis, nanti ayamnya bisa mati).
Sayangnya, sedari kecil saya hanya bisa memahami ungkapan-ungkapan mitos itu dengan timbangan logis atau tidak logis (menurut ukuran saya). Sehingga mitos ayam akan mati itu tidak berdampak apapun pada saya, wong saya ndak punya ayam. Belum lagi jika ditimbang dengan kemungkinan bahwa justru makanan yang tersisa itulah yang bisa dijadikan sebagai makanan ayam untuk mempertahankan hidupnya.
Semakin dewasa, saya semakin memahami bahwa dunia tidak se-hitam putih itu. Dalam bahasa dosen saya, manusia tak benar-benar tahu bagaimana sistem dunia ini bekerja. Tampaknya ya memang seperti itu. Saya pun merasa bahwa hampir segala sesuatu di dunia itu ruwet dan tidak bisa diprediksi. Maka, opsi terbaik untuk menjalani hidup bagi saya adalah expecting the unexpected.
Memahami mitos sepertinya juga tidak se-hitam putih itu. Menurut Pak Qowim, mitos sebaiknya dipersepsikan menjadi sebuah simbol dan makna. Pada kasus mitos yang saya dengar tentang ayam, mungkin saja awalnya bertujuan untuk memberikan dorongan kepada anak-anak untuk memakan makanannya sampai habis. Saya bisa membayangkan seandainya saya adalah seorang anak kecil yang suka bermain dengan ayam, lalu mendengarkan “ancaman” semacam itu, saya akan berusaha sebisa mungkin piye carane agar ayam saya tidak mati.
Akan tetapi, mitos tidak harus dimaknai seperti itu. Masing-masing dari kita akan selalu punya cara untuk merespon mitos-mitos yang pernah kita dengarkan. Bahkan, kita juga berpotensi untuk menyebarkan mitos-mitos baru yang sebenarnya kita buat-buat sendiri, untuk orang-orang di sekitar kita.
Hal sama juga sering kali terjadi dengan objek-objek tententu yang biasanya diberi imbuhan keramat. Terkadang, saya merasa bahwa keberadaan mata air keramat, sumur keramat, hutan keramat, dan lainnya disertai dengan mitos-mitosnya, tidak melulu tentang khurafat dan takhayul. Bisa jadi itu adalah sebuah cara untuk menjaga sumber mata air agar tidak terkontaminasi dengan pencemaran, agar alam tidak dirusak, dan sebagainya.
Saya rasa membuat mitos dan mengkeramatkan sesuatu adalah salah satu upaya untuk “menjaga.” Ini merupakan usaha preventif yang telah dilakukan oleh leluhur-leluhur kita, agar kita menjauhi sikap-sikap “merusak.” Entah itu yang akan merugikan diri kita sendiri atau orang lain secara umum.
Mungkin cara-cara di masa lampau sudah tidak relevan lagi hari ini. Sehingga, kita perlu merekonstruksi ulang berbagai mitos dan kekeramatan itu dengan realita zaman sekarang. Jangan-jangan, kita sudah melakukannya tanpa sadar? Atau jangan-jangan para pendahulu kita juga menurunkan mitos-mitos itu tanpa sadar? Entahlah…

Tinggalkan komentar