Pagi ini saya tersadar bahwa bulan Ramadan semakin dekat. Pikiran saya bukan terlempar pada hal-hal relijius apa yang akan saya lakukan, namun pada studio desain yang selama ini menjadi tempat saya dan teman-teman bekerja. Studio kami, Sebo Studio, akan berusia sembilan tahun (hijriah) pada Ramadan ini.
Jika mengacu pada penanggalan masehi, usia sembilan tahun itu akan kami capai pada pertengahan tahun ini. Keduanya sama-sama terjadi tahun ini, tidak ada bedanya. Artinya, setelah melewati anniversary studio, kami akan menjalani hari-hari menuju usia sepuluh tahun.
Dalam bahasa kami, perjalanan menuju usia berikutnya biasa disebut dengan mlaku. Hal ini bisa disampaikan dengan ungkapan (misalnya) sepuluh mlaku, yang maknanya adalah menjalani hari-hari menuju usia sepuluh tahun. Mlaku dalam bahasa Jawa artinya adalah berjalan. Kami merasa bahwa usia memanglah perjalanan yang sedang kami jalani.
Selayaknya orang berjalan, kami terkadang juga lelah dan butuh waktu untuk beristirahat. Pada kesempatan lain, kami juga sempat kelangan dalan dan kebingungan mencari jalan yang benar. Berbagai halangan sudah tentu kami temui dalam perjalanan ini seperti berkurangnya teman, kehabisan bekal, dan lainnya.
Sebaliknya, kami juga merasakan berbagai hal indah dalam perjalanan ini. Saya merasa bahwa lebih banyak hal indah yang kami rasakan jika dibandingkan dengan rintangannya. Perjalanan sudah pasti memberikan kami banyak pelajaran dan pengalaman. Lalu, disinilah saya mulai merasa resah.
Setelah delapan tahun berlalu, kami belum benar-benar bisa menunjuk di titik mana kelak kami akan finish. Jika dirunut pada pemilihan nama studio kami, Sebo bermakna menghadap. Saya mengambil nama ini dari penggalan syair lir-ilir, “kanggo sebo mengko sore,” yang maknanya adalah bekal untuk menghadap di waktu sore (senja/maghrib). Saya tahu, titik finish kita dalam hidup ini adalah kematian. Tapi, untuk studio ini? Entahlah.
Bagian lirik tersebut banyak dimaknai oleh orang-orang sebagai tanda bahwa apa saja yang kita lakukan di dunia ini adalah bekal yang kita persiapkan untuk menghadap pada Yang Maha Kuasa. Sore adalah waktu yang menunjukkan akhir dari terang (hidup), dan bisa dimaknai dengan kematian. Inilah yang saya harapkan ada pada Sebo Studio. Sehingga, studio ini adalah salah satu bentuk upaya kami untuk mempersiapkan sangu yang kelak akan dibawa saat sebo (menghadap) Yang Maha Kuasa.
Salah satu slogan utama yang mewarnai perjalanan studio kami adalah dawuh Nabi Muhammad saw, khoirunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Lagi-lagi, inilah harapan saya mendirikan studio ini. Sesederhana ada hubungan ke-saling bermanfaat-an yang terjalin diantara kami. Sehingga, saya selalu berharap bahwa segala usaha ini semakin mendekatkan kami pada tujuan utama kami: ridho Allah swt.
Semakin jauh dan lama perjalanan ini, kami mulai berpikir, apakah hubungan ke-saling bermanfaat-an ini bisa diperluas lagi? Sehingga tidak terbatas hanya pada rekan-rekan mlaku kami saja. Setidaknya, kami pernah mencoba beberapa kali dengan berbagai cara dan hasil yang berbeda. Sayangnya, tidak semuanya bisa bertahan lama.
Menjelang siang ini, kami semua berpikir, “apa legacy yang kelak bisa kami wariskan pada generasi-generasi setelah kami?” Pertanyaan ini memang tampak muluk-muluk, tapi sepertinya perlu dijawab dengan segera. Entah kapan kami bisa menjawabnya. Sepantasnya para pejalan, seharusnya kami meninggalkan jejak pada perjalanan kami. Dalam bentuk apakah jejak itu? Entahlah, semoga kami bisa segera menjawabnya.
Allahumma yassir walaa tu’assir.. Allahumma sahhil umuuranaa wa hashshil maqaashidana.. Aamiin.

Tinggalkan komentar