Hari ini tanggal 31 Januari, hari terakhir di bulan pertama tahun 2025. Saat memulai tahun ini, saya berencana untuk rutin menulis di blog ini. Targetnya tidak muluk-muluk, minimal saya bisa menulis setiap hari tanpa putus, setidaknya selama tiga puluh hari.
Tanpa pikir panjang, saya langsung mencoba memulai untuk menyelesaikan misi ini di awal tahun. Satu-dua hari berlalu, aman. Seminggu berlalu, saya berhasil menulis setiap hari. Masuk tanggal sepuluh, saya masih menulis. Sayang seribu sayang, hari ke-sebelas saya gagal melanjutkan writing streak itu.
Gagal tidak harus tumbang. Saya mencoba untuk memulai lagi, tapi kemudian gagal lagi dan lagi. Walhasil, target itu belum bisa tercapai di bulan ini. Tapi tidak masalah, saya justru merasa terpacu lagi dan lagi untuk menulis dan mempublikasikan apa saja yang bisa diceritakan.
Nyatanya, sampai hari terakhir di bulan Januari ini saya berhasil menulis 25 blog post. Postingan ini akan menggenapkannya menjadi 26. Selama ini, saya belum pernah mempublikasikan tulisan sebanyak ini dalam rentang satu bulan. Tahun lalu saja, saya hanya mempublikasikan 20 postingan selama satu tahun. Artinya, sebulan ini saya jauh lebih produktif menulis dibandingkan tahun lalu.
Namun peningkatan produktivitas menulis itu masih sebatas quantitative growth. Secara kualitas, saya belum terlalu memikirkannya. Mungkin saya baru bisa benar-benar me-reviewnya tahun depan, atau paling cepat pertengahan tahun ini. Apapun itu, pencapaian tetaplah pencapaian, dan saya merasa bahagia dengan hal ini. Setidaknya saya bisa menunjukkan pada diri sendiri, saya bisa kok menulis dengan lumayan dalam rentang waktu yang singkat.
Bulan ini saya belajar banyak hal tentang menulis. Pertama, menulis tidak harus tentang hal-hal yang berat dan serius. Kedua, banyak hal di sekitar saya yang ternyata bisa dituliskan dan ceritakan. Ketiga, menulis dengan sedikit keteraturan ternyata lumayan bisa menjadi media untuk healing dan refreshing. Keempat, kebiasaan menunda saya sepertinya bisa diobati.
Oh iya, saya juga merasa jika membaca ulang tulisan yang saya tulis setelah menulisnya justru membuat saya berlama-lama menulis. Selalu adaaaa saja kekurangannya. Sehingga, selama Januari ini saya mencoba men-skip proofing setiap tulisan yang saya buat. Cara seperti ini ternyata mempercepat workflow saya dalam menulis.
Akan tetapi, saya merasa kalau proses seperti itu agaknya kurang tepat. Bagaimanapun, membaca ulang dan editing itu perlu. Hanya saja, pada tahapan ini, saya ingin mengobati hobi menunda-nundayang akan semakin subur jika saya melakukan proofing dan editing. Jika saya sudah bisa me-manage sifat menunda-nunda itu, saya akan membenahi proses menulis ini agar menjadi lebih baik lagi.
Setelah bulan ini berlalu, masih ada sebelas bulan lainnya yang menunggu di tahun ini. Sebaiknya, saya segera memanfaatkan waktu yang tersisa itu untuk mencapai target 30 hari menulis tanpa putus. Saya akan berjuang untuk merealisasikannya dengan segera.

Tinggalkan komentar