Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Membeli Versi Ideal dari Diri Kita

Saya sering melakukan proyeksi masa depan, terutama untuk hal-hal yang tampaknya sedang saya butuhkan. Saya pikir, ini adalah sebuah aktivitas yang lumrah dialami oleh manusia lainnya.

Saya menulis ini ketika sedang menunggu istri scaling di klinik gigi yang tidak jauh dari rumah. Di ruang tunggu, saya sempat melamun karena dua device yang saya bawa sedang darurat baterai semua. Jadi terpaksa numpang nge-charge hanphone dan iPad saya itu.

Sangat jarang saya membawa ipad keluar rumah. Jangankan keluar rumah, di rumah pun, ipad itu lebih sering digunakan istri. Tapi, karena saya harus melihat ipad itu sedang di charge di depan mata saya selama beberapa menit, saya jadi teringat bagaimana dulu saya membeli ipad itu.

Dulu saya membayangkan akan menggunakan iPad itu untuk dua hal: memberikan catatan untuk buku-buku digital yang saya baca agar lebih mudah, dan sesekali memakainya untuk menggambar. Kenyataannya? Sangat sedikit catatan saya yang ada di sana. Ternyata saya tetap lebih nyaman mencatat di buku cetak biasa. Gambar? Apalagi. Hanya satu karya yang saya hasilkan dari iPad itu. Dan 6 tahun pun berlalu…

Tidak saja persoalan iPad itu. Casing yang menutupinya pun punya cerita tersendiri. Saya membelinya di Singapura. Sebuah casing yang bisa digunakan untuk melindungi body, sekaligus ada keyboardnya. Sekali lagi, saya membayangkan akan menggunakannya untuk menulis artikel, bahkan buku. Tapi? Sama saja. Hanya beberapa artikel yang dapat diselesaikan dengan keyboard itu. Dan 6 tahun pun berlalu…

Dulu, ketika hendak men-checkout iPad, yang saya lihat adalah sosok saya yang rajin mencatat, produktif menggambar, dan selalu siap menulis di mana saja. Casing keyboard yang saya dapatkan jauh-jauh di Singapura itu juga representasi dari penulis mobile yang saya bayangkan akan menjadi. Saya benar-benar membeli versi ideal dari diri saya, bukan cuma produknya.

Ternyata, hal seperti ini ada istilahnya: optimism bias. Ini adalah kecenderungan kita untuk terlalu optimis tentang kemungkinan perubahan perilaku di masa depan. Kita membayangkan bahwa diri kita akan lebih disiplin, produktif, dan konsisten. Lebih jauh dari yang sebenarnya.

Masalahnya, ada yang luput dari perhitungan angan-angan itu. Kita sudah punya kebiasaan yang mengakar sangat dalam. Saya tentu merasa lebih nyaman mencatat di buku fisik, menulis di laptop, menggambar di kertas. Lha wong itu sudah saya lakukan bertahun-tahun. Jika tidak ada kondisi yang betul-betul memaksa, mengubah kebiasaan sepertinya akan sangat berat.

Saya merasa bahwa kebiasaan-kebiasaan saya sebelumnya sudah menjadi comfort zone yang memang nyaman. Praktis dan taktis. Untuk berpindah dari comfort zone itu, sepertinya perlu energi mental yang tidak sedikit. Dan tentu saja, gravitasi comfort zone itu jauh lebih kuat dari excitement saya terhadap teknologi baru yang sedang saya genggam.

Makanya iPad akhirnya lebih sering dipakai istri. Wong dia tidak punya ekspektasi berat tentang harus menjadi versi ideal tertentu dengan alat itu. Dia ya cuma menggunakannya sesuai kebutuhan saja. Kadang mencatat, nge-game, dan nonton drama Korea.

Lagipula, ini bukan masalah besar kok. Proyeksi masa depan adalah bagian dari optimisme manusiawi yang membuat kita terus bergerak maju, ya walaupun ndak mesti akurat. Mungkin akan jadi masalah besar jika kita terus melakukan hal yang sama tanpa belajar dari pengalaman.

Toh, ada juga hal-hal kecil yang sering kita lakukan dengan motif yang sama. Membeli buku, download aplikasi tertentu, dan lainnya. Tidak semua pembelian itu harus mengeluarkan uang kok. Jelasnya, kita memang sering memproyeksikan diri kita, atau sesuatu yang sedang dalam kendali kita, di masa depan.

Sepertinya memang begitu cara otak kita bekerja. Ketika sedang excited dengan kemungkinan-kemungkinan baru, kita tidak menghitung hambatan-hambatan praktis yang membersamainya.

Entahlah apa tujuan saya menulis ini. Pastinya, saya tidak ingin menyalahkan diri sendiri. Lha wong manusiawi kok. Setidaknya, ini menunjukkan kalau kita itu kadang-kadang masih bisa bermimpi dan berharap. Tentang apa? Tentang siapa kita, dan apa yang kita bayangkan kita akan menjadi. Antara kita dan proyeksi itu, pasti ada jarak. Itu wajar.

Paling tidak, kita bisa menertawakan diri sendiri, atau minimal ndak sedih-sedih banget lah ketika melihat diri di masa lalu. iPad itu mungkin akan tetap jadi pengingat yang baik bagi saya, bahwa akan selalu ada gap antara idealisme dan realisme. Ya, cukup dipahami saja lah.

Setidaknya sekarang saya sudah lebih aware. Ketika ingin membeli gadget atau alat baru (yang mahal), saya coba validasi dulu: “Ini membeli alatnya, atau membeli mimpi menjadi orang lain?” Kalau jawabannya yang kedua, tak pikir-pikir sik wae.

Hidup ini sudah cukup rumit, masa mau ditambah lagi dengan ekspektasi yang tidak realistis terhadap diri sendiri?

Tabik,

Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts