Generasi kita seperti tidak pernah berhenti mencari. Dan itu membuat saya bertanya-tanya. Mencari passion, mencari purpose, mencari jati diri, dan seterusnya. Padahal kalau dipikir-pikir, orang tua kita dulu sepertinya tidak begitu. Mereka bangun pagi, bekerja, pulang, kumpul keluarga, lalu tidur. Dan mereka terlihat baik-baik saja. Kenapa kita begitu berbeda?
Ada semacam kegelisahan kolektif yang sulit dijelaskan. Secara objektif, kehidupan kita jauh lebih mudah dibanding generasi sebelumnya. Kita mendapat akses informasi tanpa batas, peluang karir yang lebih luas, sampai ketersediaan teknologi yang hampir menyentuh seluruh sisi kehidupan kita.
Tapi ini aneh. Survei WHR (The World Happiness Report) 2024 menunjukkan bahwa 82% masyarakat kita merasa bahagia. Ada juga survei lain dari PwC (2023) yang menunjukkan bahwa 75% orang Indonesia puas dengan pekerjaannya. Aneh kan? Kita sehari-hari seperti orang bingung, tapi… bahagia?
Masalahnya begini, meskipun kita “lumayan” bahagia menurut statistik itu, nyatanya kita tetap medioker jika dibandingkan dengan negara-negara lain. WHR menempatkan kita pada urutan 80 di klasemen negara-negara terbahagia itu. Inilah kontradiksinya. Secara subjektif kita merasa bahagia, tapi secara objektif, ternyata kita tidak sebahagia itu.
Lalu, apakah ada yang salah dengan cara kita memahami kebahagiaan itu sendiri? Atau jangan-jangan, ada yang salah dengan cara kita menjalani hidup ini?
Paradoks ini mungkin bisa dijelaskan dengan melihat begaimana “pencarian” didefinisikan sebelumnya. Nenek moyang kita sepertinya melakukan pencarian sebatas untuk bertahan hidup (literally!). Mereka mencari makan, mencari tempat tinggal, mencari keamanan. Gampangnya, pencarian itu ada batasnya. Ada garis finish yang jelas dan terukur. Lapar berakhir ketika makan, dingin berakhir dengan mendapatkan kehangatan, dan seterusnya.
Sekarang? Kita melakukan pencarian terhadap hal-hal abstrak. Ketika sudah mendapat pekerjaan yang bagus, kita masih sibuk mencari pekerjaan lain yang lebih sesuai dengan passion. Ketika sudah mempunyai pasangan, kita masih saja mempertimbangkan untuk menggaet opsi baru yang kita anggap lebih cocok dan pas. Padahal, seandainya sudah berganti, apakah ada jaminan bahwa kejadian ini tidak akan terulang lagi?
“Ya ndak tahu, kok tanya saya!” said someone over there.
Mungkin saja, kita sudah terjebak untuk mencari “keinginan” dibandingkan untuk memenuhi “kebutuhan.” Keinginan dan kebutuhan adalah dua hal yang berbeda total. Kebutuhan ada batasnya, ada garis finish-nya yang jelas. Sedangkan keinginan, tidak. Batasnya sangat kabur. Tidak jarang, rutenya justru berbentuk lingkaran yang membuat kita berputar-putar terus. Seolah-olah kita sudah mendekati garis finish, eh ternyata disitu ada garis start juga. Mbulet!
Walhasil kita terjebak dalam pencarian yang sambung menyambung tanpa akhir. Dalam hal ini, “Snake II” —game di HP Nokia awal 2000-an— setidaknya lebih memberikan solusi. Kalau kepala menabrak ekor, game selesai. Jelas.
Sisi baiknya, kegelisahan kolektif kita ini berhasil menciptakan lahan bisnis yang menguntungkan. Minimal bagi orang lain, wong kita sedang bingung. Toko buku dipenuhi dengan buku-buku self-help dan self-improvement yang diharapkan bisa memandu proses pencarian kita. Buku-buku ini laris, banget.
Lewat AppStore dan PlayStore, aplikasi meditasi seperti Headspace dan Calm juga tak kalah populer. Podcast tentang self-discovery juga bertebaran dimana-mana. Belum lagi kelas yoga, retreat mindfulness, workshop dan kelas-kelas berbau self (isi sendiri kelanjutannya) itu.
Lucunya, setelah semua pertolongan untuk “mencari” ini tersedia lewat berbagai media, apa yang terjadi pada kita? Tambah bingung! Kita seperti masuk ke sebuah toko yang menyediakan segala hal untuk kebutuhan kita, tapi kita sendiri tidak tahu apa kebutuhan itu. Akhirnya? Kita membeli sesuatu yang tidak benar-benar berguna untuk kita. Atau paling tidak, kita hanya masuk toko itu, melihat-lihat, lalu pulang dengan keadaan yang lebih bingung, tanpa membeli apapun.
Bagaimanapun, pencarian ini sudah menjadi bagian dari identitas kita. Generasi sebelumnya mungkin tidak seperti ini. Identitas mereka biasanya ditentukan oleh hal-hal yang relatif stabil seperti asal-usul keluarga, kelas sosial, dan profesi —baik yang diwariskan maupun yang dirintis. Sedangkan kita menganggap bahwa identias adalah proyek personal yang harus “ditemukan” dan “dikembangkan” secara kontinyu.
Dampaknya, pencarian tidak lagi menjadi aktivitas sementara untuk mencapai sesuatu. Pencarian benar-benar telah menjadi cara hidup itu sendiri. Kita merasa produktif dan berarti, ketika sedang sibuk mencari jati diri atau mengeksplorasi potensi. Sialnya, ini malah menjadi sumber kecemasan baru bagi kita.
Jika dipikir-pikir lagi, pencarian yang kita lakukan terus-menerus ini ada dua sifatnya. Pertama, eksploratif. Kita bisa mengandaikannya seperti anak kecil yang membongkar mainan karena penasaran akan isinya. Ada rasa ingin tahu disana, pun prosesnya menyenangkan. Hasilnya? Rusak tidak masalah. Jika ternyata isinya kurang menarik lagi baginya, ya sudah. Bisa kok membongkar mainan lainnya.
Lainnya, mari kita sebut sebagai pencarian yang bersifat kompulsif yang lahir dari perasaan kekurangan. Seolah ada lubang dalam hidup yang harus diisi dengan segera. Beda kan? Jika diilustrasikan dalam bentuk ucapan, maka pencarian eksploratif muncul dengan pernyataan “saya penasaran bagaimana rasanya kerja di bidang ini.” Sebaliknya, kompulsif akan menyatakan, “saya harus menemukan passion, atau hidup ini tidak akan berarti.”
Bagaimanapun, cara kita melakukan pencarian ini sangat dipengaruhi oleh budaya tempat kita hidup. Di Amerika misalnya, industri self-help kesannya sangat individualistis. Semuanya serba “saya.” Makanya, bahasa-bahasa yang digunakan biasanya my journey, my growth, my achievement, dan my-my lainnya. Logis, karena kehidupan mereka memang individualis. Sehingga, masalah dan solusinya pun cenderung bersifat personal.
Sebagian dari kita mungkin begitu. Namun, kita tumbuh dalam budaya srawung dan silaturahmi. Sehingga tak heran, proses mencari kita bisa saja melibatkan orang lain. Seolah kita sama-sama mengumpulkan orang-orang yang sedang bingung seperti kita, lalu berjalan bersama-sama. Minimal, masih ada perasaan kita tidak sedang bingung sendirian.
Tapi ini juga simalakama. Kebingungan yang dikumpulkan secara kolektif tidak mesti menemukan jalan keluarnya, apalagi tanpa panduan professional. Kegiatan “mencari” bersama-sama ini, —entah dalam bentuk diskusi buku, retreat mindfulness, dan lainnya— juga berpotensi menambah konflik interpersonal dan intrapersonal sekaligus. Semakin bingung!
Makanya, menurut survei Emotional Wellbeing Assessment (EWA) 2024, lebih dari separuh masyarakat kita (56%) beresiko terkena masalah kesehatan mental. Secara statistik, angka ini lumayan lebih baik dari tahun sebelumnya, tapi ya tetap mengkhawatirkan. Apalagi kalau kita bahkan belum tahu dengan jelas apa yang sebenarnya sedang kita cari.
Memang tidak pernah sejelas itu. Sampai-sampai saya berpikir —dan mungkin ini sedikit kontroversial—bahwa yang kita cari itu tidak benar-benar ada. Bagaimana kalau selama ini kita hanya salah kaprah memahami ini? Jangan-jangan, yang disebut life purpose atau true passion dan sebagainya itu hanya konsep yang dibuat-buat? Lalu, kita mempercayainya begitu saja.
Manusia sudah hidup ribuan tahun. Sepertinya, manusia-manusia zaman dahulu tidak perlu menjalani adegan mencari untuk “menemukan diri.” Mereka condong pada hal-hal nyata yang memang perlu dicari: makan, tempat tinggal, keluarga. Sederhana. Beres. Tapi entah mengapa, kita terlalu berimprovisasi dengan menuntut standar selangit pada aspek-aspek yang sulit diukur itu. Sembrono! Wong tidur saja kurang cukup, makan juga ndak sehat-sehat banget, apalagi hubungan dengan keluarga: kacau.
Jadi, sebagian besar kebutuhan kita sebenarnya sudah terpenuhi, dan… cukup. Tapi keinginan-keinginan itu tiba-tiba muncul melebihi kebutuhan kita, seolah-olah butuh untuk ditemukan. Sialnya, kita memang benar-benar tidak mau melepas identitas sebagai “pencari” itu. Sehingga kita berakhir seperti ini. Mencari sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada.
Mungkin kita perlu meninggalkan identitas itu dan mulai belajar untuk berhenti mencari. Kita perlu berhenti memperlakukan hidup seperti puzzle yang harus diselesaikan. Kita perlu lebih menikmatinya, mulai sekarang. Karena jika kita terus menerus memperlakukan hidup kita seperti susunan puzzle, kita akan terbiasa menuntut jawaban benar-salah, cocok-tidak cocok, dan sebagainya. Semuanya serba hitam-putih.
Jangan-jangan, setelah kita perlahan mulai menikmati apapun yang sedang kita jalani, semuanya akan baik-baik saja. Jangan-jangan juga, passion-passion-an itu bisa saja berkembang seiring kita menjalani sesuatu yang kita lakukan sekarang. Setidaknya, itulah yang bisa kita lihat dari generasi sebelumnya: bangun pagi, kerja, pulang, kumpul keluarga, tidur, lalu ulangi lagi keesokan harinya. Kita tidak harus menjadi the next Steve Jobs, Mark Zuckenberg, atau bahkan Joko Widodo. Benar, tidak harus.
Tidak perlu juga merasa bersalah karena tidak berada dalam “growth-mode” secara konstan. Kita hanya perlu menjadi manusia baik yang biasa-biasa saja. Kita boleh juga merasa cukup dengan siapa kita hari ini. Tidak perlu bagaimana-bagaimana. Cukup.
Lalu, ada yang bertanya, “bukankah hidup seperti itu membosankan dan tidak ada tantangan?” Justru karena membosankan itulah, hidup biasa saja sudah berat dan menantang. Wong sudah tahu hidup biasa saja itu berat, kok malah improvisasi gaya. Tantangan hidup biasa saja itu sudah jelas. Minimal, menghadapi musuh yang sudah jelas itu lebih baik, dibandingkan menghadapi musuh yang tidak jelas. Apa yang mau kita serang?
Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar