Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Bekerja atau Bermain?

Kerja tidak selalu berarti beban. Naval Ravikant pernah bilang, “I define work as a set of things that you have to do that you don’t want to do. So in that sense, I work very little.” Definisi ini sederhana, sekaligus agak menggelitik. Baginya, kerja itu yang terasa terpaksa. Selebihnya adalah permainan.Ia merasa sedang bermain ketika membangun produk bersama tim yang ia anggap jenius, berdiskusi dengan orang-orang brilian, atau menyelesaikan masalah yang menantang. Dan permainan itu memberinya energi.

Kalau dipikir-pikir, pandangan seperti ini cukup kontras dengan kebiasaan umum kita yang melihat kerja sebagai sesuatu yang harus ditukar dengan gaji dan jam. Ada daya tarik dalam gagasan bahwa kerja seolah-olah bisa jadi hiburan. Tapi, bukankah ini agak naif untuk banyak orang? Tidak semua pekerjaan memberi ruang untuk rasa “bermain” itu. Ada pekerjaan yang memang keras, repetitif, dan jauh dari rasa senang.

Meski begitu, Naval punya poin yang menarik di “quote of the day“-nya yang lain. Ia percaya bahwa inspirasi itu rapuh. “Inspiration is perishable,” katanya. Maka setiap kali muncul suatu inspirasi, ia merasa perlu untuk segera mengeksekusinya. Ia bekerja dalam burst—meledak penuh semangat ketika waktunya tepat, lalu berhenti sejenak. Seolah menekankan pada besarnya jumlah energi yang dialokasikan untuk proses eksekusi itu. Jadi, tidak melulu pada jumlah jam yang dihabiskan untuk mengerjakannya.

Namun, sekali lagi, cara ini tidak otomatis relevan bagi semua orang. Tidak semua pekerja punya kemewahan untuk menunggu inspirasi. Ada yang tetap harus menghadap mesin setiap hari, entah sedang bersemangat atau tidak.

Di sinilah saya merasa, ucapan Naval lebih pas disebut sebagai perspektif personal ketimbang resep universal. Bisa jadi benar bagi dia yang berada di lingkaran “mewah”, dengan akses terhadap tim yang disebutnya jenius. Tapi di luar itu, kerja masih tetap saja kerja, dengan segala rutinitas dan keterpaksaan yang menyertainya.

Barangkali esensi dari ucapannya tetap bisa diambil: kerja tidak harus selalu terasa berat. Bisa jadi memang ada momen-momen ketika kerja bisa menyatu dengan permainan, setidaknya jika kita menemukan titik di mana kebutuhan dan keinginan bertemu. Mungkin di sanalah letak ruang bermain yang ia maksud. Sekali lagi, mungkin saja…

Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts