Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Kategori: kitab

  • Dunia yang Kita Besar-Besarkan

    Kadang-kadang kita terlalu serius dengan dunia. Kita terlalu khawatir soal masa depan, sibuk dengan rencana, terjebak dalam persaingan, lalu tanpa sadar memperlakukan dunia seolah-olah hanya inilah satu-satunya realitas yang ada di depan mata kita. Padahal, apa yang kita anggap penting ini tiba-tiba dipatahkan oleh sabda Nabi Saw: موضع سوط في الجنة خير من الدنيا وما فيها “Tempat seukuran cambuk di…

  • Keluarga Sakinah

    Ketika mendengar istilah keluarga sakinah, banyak dari kita mungkin membayangkannya sebagai keluarga yang harmonis, tenang, dan tanpa konflik. Tidak pernah terlihat dalam keluarga itu pertengkaran, semuanya berjalan mulus, adem ayem, keluarga idaman lah pokoke. Sayang seribu sayang, jika yang kita bayangkan seperti itu, maka keluarga sakinah itu tidak ada. Betul, tidak ada. Barangkali selama ini kita memang salah memahami makna…

  • Kucing yang Tertidur di Jubah Syaikh Ahmad al-Rifā‘ī

    Saat itu, azan telah berkumandang. Waktu salat telah tiba. Syaikh Ahmad al-Rifā‘ī bergegas untuk melaksanakan salat bersiap-siap dan hendak mengambil jubahnya. Ternyata, beliau mendapati bahwa seekor kucing sedang tertidur pulas diatas lengan jubahnya. Beliau bisa saja membangunkan dan mengusir kucing itu. Tapi, beliau tidak melakukannya. Lalu, apa yang dilakukannya? Padahal itu adalah satu-satunya jubah yang dimilikinya untuk melaksanakan salat. Tanpa…

  • Panjang Angan-Angan

    Nabi Muhammad saw pernah menggambar di atas tanah menggunakan sebatang kayu. Beliau membuat sebuah kotak persegi, lalu menarik garis lurus dari tengah kotak itu ke luar. Di sekeliling garis itu, beliau membuat garis-garis kecil yang mengarah padanya. Setelah itu beliau menjelaskan: “Ini adalah manusia,” sambil menunjuk titik di dalam kotak. “Kotak yang mengelilinginya adalah ajalnya. Garis yang keluar dari kotak…

  • Ketika Status Sosial Menipu Mata

    Suatu hari, seorang lelaki melintas di hadapan Rasulullah saw. Beliau bertanya kepada sahabat yang duduk bersama, “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?” Sahabat itu menjawab dengan yakin, “Ini orang bangsawan. Jika melamar, lamarannya diterima. Jika memberi syafaat, syafaatnya dikabulkan.” Rasulullah saw diam. Lalu lewat lelaki lain. Beliau bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?” Sahabat itu menjawab, “Ini orang fakir. Jika…

  • Cara Alternatif Membela Orang Lain

    Ada sebuah hadis dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dari Anas bin Mālik RA, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Bantulah saudaramu, baik ketika dia berbuat zalim maupun ketika dia dizalimi.” Seorang lelaki bertanya, “Ya Rasulullah, aku akan membantunya jika dia dizalimi, tetapi bagaimana aku membantunya jika dia yang berbuat zalim?” Rasulullah menjawab, “Kamu halangi atau cegah dia dari perbuatan zalim, karena itulah bentuk bantuanmu…

  • Move-On dari Kebiasaan Buruk

    Move-on dari kebiasaan buruk memang tidak mudah. Saya sering mengalaminya, dan mungkin kita semua juga begitu. Contoh sederhananya: begitu bangun tidur, tangan otomatis meraih HP. Bangun tidur yang seharusnya menyegarkan, malah molor setengah sampai satu jam. Kadang suasana hati pun rusak sebelum hari benar-benar dimulai, hanya karena satu-dua informasi “nylekit” yang kita terima. Kesadaran bahwa kebiasaan ini buruk sebenarnya sudah…

  • Tafsir Surah al-Kāfirūn dalam Tafsir al-Ṭabarī

    Surah al-Kāfirūn memuat perintah Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw untuk menolak ajakan kaum musyrik Makkah yang menawarkan pertukaran praktik ibadah. Menurut Imam al-Ṭabarī dalam Jāmi‘ al-Bayān, sekelompok pemuka Quraisy mengusulkan agar mereka dan Nabi Saw saling menyembah tuhan masing-masing secara bergiliran dalam jangka waktu tertentu. Usulan ini disertai dengan janji kekayaan, pengaruh sosial, dan pemuliaan terhadap pribadi Nabi Saw,…

  • Pujian dan Kritik al-Tabari Terhadap Mufassir Salaf

    Sebagai penutup muqaddimahnya, al-Ṭabarī menyampaikan catatan evaluatif terhadap para mufassir yang hidup sebelum atau sezaman dengannya. Catatan yang ia rekam ini merupakan penerapan langsung dari kriteria metodologis yang telah ia uraikan sebelumnya. Al-Tabari mengategorikan para mufassir berdasarkan kualitas keilmuan mereka, keabsahan jalur periwayatan, dan kredibilitas metodologi mereka. Bagian ini sangat penting karena menunjukkan bagaimana al-Tabari menerapkan standar akademik dalam menilai…

  • Larangan Tafsir bi al-Ra’y dan Batasannya

    Setelah menetapkan kerangka metodologis tafsir, al-Tabari menghadapi isu yang sangat sensitif: larangan menafsirkan al-Quran dengan ra’y (opini pribadi). Al-Tabari menyajikan berbagai hadis dan atsar yang melarang tafsir bi al-ra’y, kemudian memberikan analisis tentang makna sebenarnya dari larangan tersebut. Ia berusaha menunjukkan bahwa larangan ini tidak berarti menutup pintu ijtihad dalam memahami al-Quran, namun hanya bentuk penetapan batasan-batasan metodologis yang ketat.…