-
Quranis yang Melemahkan Al-Qur’an
Ada kelompok yang menyebut diri mereka “Qur’anis” atau Quraniyyūn. Mereka mengklaim bahwa memahami agama ini cukup dengan Al-Qur’an saja, tanpa perlu hadis Nabi. Argumen utama mereka terdengar meyakinkan: bukankah Allah sudah berfirman bahwa Al-Qur’an adalah tibyānan likulli syai’ (penjelasan untuk segala sesuatu)? Kalau sudah lengkap, kenapa perlu hadis? Masalahnya, argumen ini justru menciptakan persoalan baru […]
-
Tidak Seberat Itu
Kita sering membayangkan sebuah pekerjaan begitu sulit, bahkan sebelum memulainya. Rasanya sudah berat, padahal baru sebatas bayangan di kepala. Entah mengapa, pikiran kita punya kebiasaan memperbesar (dan memperburuk) sesuatu yang belum tentu terjadi. Akhirnya, kita capek duluan, padahal tubuh bahkan belum bergerak. Al-Mutanabbī, seorang sastrawan Arab kondang tempo dulu, pernah menulis satu bait yang menurut […]
-
Apakah Salah Jika Kita “Salam Templek” Kepada Kiai?
Seorang kiai sedang bersalam-salaman dengan masyarakat, entah sebelum atau sesudah pengajian. Tangan sang kiai itu dicium. Wajar, wong namanya orang berilmu, pantas dihormati. Ketika adegan salaman itu selesai, terlihat ada amplop yang berpindah tangan. Ya, dari masyarakat kepada sang kiai. Nah, itulah yang dinamakan “salam templek.” Salam itu artinya salaman, templek itu artinya menempel. Maksudnya, […]
-
Kita Harus Fanatik Pada Ilmu, Bukan yang Lain
“Iki elmu iki cung!“ Itulah salah satu ungkapan Gus Baha’ yang sering kami dengar sejak ngaji bersama beliau sebelas tahun lalu. Kadang kita memang terlalu mudah terjebak pada label. Entah itu NU, Muhammadiyah, Persis, Salafi, Al-Azhar, UIM, UIN, dan seterusnya. Nama-nama itu memang besar, bersejarah, dan berjasa melahirkan banyak ulama. Tapi nyatanya kita sering lebih […]
-
Melamban Bukanlah Hal yang Tabu
Melamban bukanlah hal yang tabuKadang itu yang kau butuhBersandar hibahkan bebanmu– Perunggu, 33x Begitulah potongan lirik dari tembang berjudul 33x yang dibawakan oleh Perunggu. Rangkaian kalimat ini terasa sangat nyaman didengarkan, tapi tidak ketika dipraktikkan. Bukankah kita sering bersalah ketika sedang melamban? Itulah kita, manusia. Kita lebih suka terburu-buru ketimbang melamban. Entah sejak kapan, kita […]
-
Dunia Tak Kasat Mata Desainer
“Invisible worlds, or worlds that are supposed to be invisible interest me. I like to see the effort it takes for some people to make things go smoothly for other people. Don’t misunderstand me; mostly I’m part of the invisible world myself.” – Jeanette Winterson Ada dunia yang tidak kasat mata, tapi justru menopang segalanya […]
-
Bekerja atau Bermain?
Kerja tidak selalu berarti beban. Naval Ravikant pernah bilang, “I define work as a set of things that you have to do that you don’t want to do. So in that sense, I work very little.” Definisi ini sederhana, sekaligus agak menggelitik. Baginya, kerja itu yang terasa terpaksa. Selebihnya adalah permainan.Ia merasa sedang bermain ketika […]
-
Pedagang Tanpa Barang
Minggu lalu, berita heboh muncul dari Bekasi. Ada seorang perempuan yang dituding menjual “tiket masuk surga” seharga satu juta rupiah. Pengajian yang sudah berjalan selama delapan tahun, dengan tujuh puluh jemaah setia dari berbagai daerah, akhirnya dibubarkan oleh warga. MUI yang ikut turun tangan kemudian menyebut bahwa ajarannya tidak menyimpang. Lalu, berita itu menyebar seperti […]
-
Move-On dari Kebiasaan Buruk
Move-on dari kebiasaan buruk memang tidak mudah. Saya sering mengalaminya, dan mungkin kita semua juga begitu. Contoh sederhananya: begitu bangun tidur, tangan otomatis meraih HP. Bangun tidur yang seharusnya menyegarkan, malah molor setengah sampai satu jam. Kadang suasana hati pun rusak sebelum hari benar-benar dimulai, hanya karena satu-dua informasi “nylekit” yang kita terima. Kesadaran bahwa […]