Aku Mencintainya

Saat aku mulai bicara padanya, ia menjawabnya,
Seketika itu juga langit mendung menurunkan hujannya,
Bunga-bunga indah bermekaran secara tiba-tiba di sekitarnya.

Aku bicara padanya dan ia menampakkan senyuman,
Seakan gemuruh perang baru saja digaungkan,
Bahkan kobaran api yang sangat besar seakan dinyalakan,
Namun pesonanya sungguh-sungguh memadamkan.

Aku berbicara padanya dengan penuh kehati-hatian,
Dengan begitu banyak rintangan, dengan kegagapan,
Juga dengan rasa takut yang amat menyeramkan.

Aku hanya bisa menggumam dan terus bergumam,
Seakan hatiku benar-benar bicara dan air mataku bercucuran,
Namun kesedihan demi kesedihanku mulai tersingkirkan.

Saat Aku berbicara padanya, 
Rangkaian hurufku seakan tak pernah tercipta,
Untaian kata-kataku seperti dicuri dan hilang entah kemana,
Leherku seakan tercekik dan suaraku hampa.

Aku bicara padanya, aku mencintainya, aku candu padanya, 
dan Aku sungguh tergila-gila padanya, sungguh tergila-gila padanya, 
Namun aku juga benci padanya.

Aku mencintainya, 
Sebagai seorang teman, sebagai seorang kekasih, 
Sebagai seorang ratu, sebagai seseorang yang bahagia, 
sebagai seorang pecinta, sebagai seseorang yang terluka.

Aku mencintainya…

Aku mencintainya,
Dengan sifat kekanak-kanakanku, dengan segala kebodohanku,
Dengan segala kehangatan, kepahitan, kesucian, dan keagungan,

Aku mencintainya
Aku mencintainya
Aku mencintainya…

*Dipotong dan diterjemahkan secara anarkis, dari syair Muhammad Makmun yang berjudul Dhulm al-Hawa. 😂

Selamat ulang tahun istriku, Yaqut Jihada Wafiqoh.