Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Ketika Desainer Kalah dengan Kecerdasan Buatan

Semalam, saya dipertemukan dengan sebuah postingan Instagram yang diberi judul lumayan menakutkan, Profesi Desain Grafis Adalah Salah Satu Pekerjaan yang Paling Terancam oleh Kemajuan Teknologi AI. Ketika membaca judul tersebut, saya mengernyitkan dahi, tentu saja ada pertanyaan dalam hati, “kok iso?” Postingan carousel itu kemudian saya baca perlahan, sekaligus mengkomparasikan dengan sumber data primernya yang merupakan sebuah report dari World Economic Forum (WEF) dengan judul, Future of Jobs 2025.

Penerbit postingan Instagram ini adalah sebuah akun meme desainer. Karena kebanyakan kontennya tidak serius, maka saya merasa perlu untuk melakukan kroscek pada sumber data primer diatas. Tampaknya, kali ini akun tersebut tidak bercanda. Tren pekerjaan sebagai desainer grafis memang menurun, bahkan termasuk salah satu top fastest declining jobs. Tentu saja hal ini lumayan mengagetkan, mengingat pada laporan sebelumnya di tahun 2023, desainer grafis dikategorikan moderately growing job.

Apa sebabnya? Bisa jadi karena meningkatnya kapasitas GenAI (Generative Artificial Intelligence) dalam melakukan pekerjaan berbasis pengetahuan. Menurut laporan tersebut, secara eksplisit disebutkan bahwa penurunan pekerjaan desainer grafis didorong oleh kemajuan teknologi AI dan information processing, serta semakin meluasnya akses digital.

Uniknya, pekerjaan desain lainnya di bidang UI dan UX (antarmuka dan pengalaman pengguna) justru mengalami fenomena yang berbeda dengan desain grafis. Desainer antarmuka dan pengalaman pengguna justru masuk dalam kategori top fastest growing jobs. Bahkan, menurut report ini disebutkan bahwa diluar sepuluh skill dengan pertumbuhan tercepat, skill desain dan keterampilan pengguna, bersamaan dengan marketing dan media juga diprediksi akan mengalami pertumbuhan, seiring dengan kemajuan teknologi. Karena skill ini berkaitan erat dengan transformasi digital yang perlu men-deliver seamless digital experiences dan dampaknya terhadap consumer behaviour.

Lalu apa yang membedakan keduanya meski sama-sama desainer? Jika dilakukan kroscek terhadap Job Taxonomy yang disebutkan dalam report tersebut, graphic designer dimasukkan dalam kelompok Arts, Design, Entertainment, Sports and Media. Sedangkan UI and UX designer berada dalam kategori yang jauh berbeda, Computer and Mathematical. Perkiraan saya, ada gap di laporan tersebut yang tidak bisa digeneralisir.

Ketika membahas tentang digital transformation, maka akan sangat lekat hubungannya dengan sisi teknologi yang jenis-jenis pekerjaannya tercakup dalam kategori Computer and Mathematical. Tapi apakah wilayah ini sama sekali tidak membutuhkan desainer grafis? Belum tentu juga. Sehingga, saya merasa bahwa data ini belum bisa ditelan mentah-mentah dan menyimpulkan bahwa pekerjaan desainer grafis dengan serta merta bisa digantikan dengan AI.

Ada dua tipe pekerjaan yang umum diketahui, algorithmic dan heuristic. Pekerjaan algorithmic, sederhananya adalah ketika kita mengikuti serangkaian instruksi pada jalur yang telah ditentukan yang mengarah pada satu kesimpulan. Sedangkan pekerjaan heuristic tidak memiliki instruksi atau jalur yang jelas. Cara kerjanya, kita harus bereksperimen dengan berbagai kemungkinan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Jika yang dimaksud sebagai pekerjaan desain grafis diatas hanya bersifat algorithmic. Jenis-jenis pekerjaan seperti ini, umumnya memang sangat mudah digantikan oleh mesin atau AI. Tapi, jika pekerjaan desain ini bersifat heuristic, sepertinya tidak akan semudah itu untuk digantikan dengan AI. Dua jenis pekerjaan ini sangat kontras dalam praktik desain. Jenis pertama cenderung tidak banyak melibatkan skill diluar teknis mendesain. Sedangkan jenis kedua, justru melibatkan berbagai keahlian di luar teknis mendesain.

Sebagai desainer, tuntutan kita hari ini bukan hanya membuat “desain.” Kita perlu memperluas jangkauan skill kita, terutama yang berkaitan dengan perkembangan industri kedepan. Jika menilik pada report diatas, ada beberapa kelompok skills yang perlu lebih kita perjuangkan dan berkaitan erat dengan pekerjaan desain. Bahkan, saya menilai bahwa sepuluh core skills teratas di tahun 2025 sebaiknya harus dimiliki oleh seorang desainer. Berurutan, core skills tersebut adalah: analytical thinking; resilience, flexibility, and agility; leadership and social influence; creative thinking; motivation and self-awareness; technological literacy; empathy and active listening; curiosity and lifelong learning; talent management; service orientation and customer service.

Selain itu, akan lebih masuk akal bagi kita untuk terbuka menerima kemajuan teknologi seperti AI. Bagaimanapun, AI adalah suatu alat canggih yang bisa membantu dan memudahkan pekerjaan kita. Tool is just a tool, it depends on who use it, and how they use it. Setidaknya, dengan memiliki berbagai keahlian selain teknis mendesain, kita lebih mudah untuk melihat gap yang ada dalam industri dan menjadikannya sebagai sebuah peluang. Terakhir, semakin bertambahnya keahlian kita juga berbanding lurus dengan bertambahnya posibilitas connecting the dots. Sehingga, semakin besar pula “harapan” untuk bertahan dan terus berkembang sebagai desainer.

Ndak usah serius-serius lah, ini cuma anabel ya fren.
Allāhu a‘lam.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts