Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Perihal Job Desk yang Melimpah Ruah

Ada satu masa ketika kita sering menertawakan syarat-syarat yang diperlukan untuk melamar pekerjaan. Misalnya, kita menemukan sebuah poster lowongan tentang sebuah perusahaan yang mencari seorang desainer grafis. Dalam poster tersebut, disebutkan syarat-syarat yang diperlukan untuk melamar pekerjaan itu. Umumnya, syarat wajib yang diperlukan adalah kemampuan untuk olah grafis. Hanya saja, ada add-ons yang menyertai, seperti kemampuan untuk mengoperasikan software pengolah animasi, video, hingga membuat ilustrasi.

Contoh-contoh lain yang serupa sangat mudah kita temukan di masa lalu, bahkan mungkin hingga sekarang. Seringnya, kita tidak hanya menertawakan loker-loker seperti itu. Kita bisa sampai naik pitam, mengolok-oloknya, sampai mengucapkan sumpah serapah yang ndak umum. Lalu, apakah hal-hal seperti ini adalah sebuah masalah? Bisa ya dan tidak.

Fenomena seperti ini akan menjadi masalah jika dalam kenyataannya terjadi eksploitasi tenaga kerja. Wilayah eksploitasi ini sangatlah luas, bisa jadi perihal materi, waktu, fisik, hingga mental pekerja. Sebaliknya, ketika dalam pekerjaan tersebut tidak ada unsur-unsur eksploitasi, bagi saya ya sah-sah saja.

Begini, saya tidak ingin mengajak kita untuk menormalisir hal ini. Tapi, saya sepertinya perlu mengajak kita untuk berpikir dari sudut pandang potensi growth yang mungkin kita bisa dapatkan dari beragamnya beban pekerjaan yang kita dapatkan sebagai pekerja. Perlu saya tekankan, asumsi yang saya buat disini adalah lingkungan kerja yang tidak melakukan eksploitasi. Sehingga, fokus kita hanya pada aspek task dari pekerjaan yang sedang kita jalani.

Saya pernah bekerja di sebuah agensi sebagai desainer grafis pada masa awal meniti karir. Dalam pekerjaan tersebut, tugas utama saya adalah mendesain apapun kebutuhan berbagai klien agensi kami. Kadang saya membuat artwork berupa ilustrasi, ikon, dan digital imaging. Pada kesempatan lainnya, saya mengerjakan layout buku, membantu pekerjaan branding, dan sejenisnya. Ketika menjalani pekerjaan ini, saya banyak nggerundel. Ada perasaan bahwa job desk seharusnya fokus dan spesifik, tidak ngalor ngidul.

Setelah itu, saya bekerja di agensi digital sebagai desainer web. Jangkauan pekerjaannya sama seperti ketika menjadi desainer grafis, bahkan ada tambahannya, melayout website dan app, berkolaborasi dengan developer, membuat animasi, melakukan slicing, prototyping, dan lainnya. Bedanya, saya lebih terbuka terhadap job desk yang abu-abu. Selama hal itu masih bisa saya upayakan, saya akan berusaha menyelesaikannya sebaik mungkin.

Beberapa tahun kemudian, saya menjalankan studio desain sendiri. Pada fase awal pembentukan tim, saya berusaha membuat job desk yang fokus dan spesifik untuk pegawai. Desainer web fokus untuk melayout web, ilustrator fokus untuk membuat ilustrasi dan ikon. Pengaturan job desk seperti ini berjalan dengan baik, sampai ada masukan dari teman-teman pegawai yang ingin “berkembang.”

Berkembang yang saya maksud disini hanya sebatas kemungkinan untuk mengeksplorasi pekerjaan yang tidak biasa dikerjakan. Seperti desainer web mencoba untuk membuat ikon atau ilustrasi, dan sebaliknya. Sehingga saya sadar, secara naluriah kita memiliki kecenderungan untuk “lebih” dari biasanya.

Permisalan yang saya sebutkan diatas adalah contoh paling sederhana yang bisa saya sampaikan. Saya rasa kita semua pernah mengalaminya dengan variabel-variabel yang berbeda. Salah satu keuntungan dari beragamnya jenis pekerjaan yang pernah kita tangani adalah pengetahuan dan pengalamannya.

David Epstein memberikan gambaran bahwa masyarakat pedesaan pra-modern mengandalkan asumsi bahwa keadaan hari esok akan sama seperti kemarin. Sehingga mereka sangat terlatih untuk menghadapi hal-hal yang pernah mereka alami sebelumnya, namun sangat tidak siap untuk menghadapi segala sesuatu di luar “kebiasaan” itu. Cara pandang yang sangat ter-“spesialisasi” ini sangat berlawanan dengan realitas yang ditunjukkan oleh dunia modern. Epstein menambahkan, “They were perfectly capable of learning from experience, but failed at learning without experience.”

Meskipun pengalaman penting, tapi pengetahuan atas pengalaman itulah yang lebih penting. Dalam kehidupan modern, seperti yang disebut Epstein, diperlukan range, yaitu kemampuan untuk membuat hubungan antar domain dan ide-ide yang berjauhan. Kemampuan ini tidak mungkin terwujud tanpa adanya abstract thinking, seperti yang dijelaskan oleh Luria, yaitu kemampuan untuk berpindah secara bebas antara kategori dan domain yang berbeda. Pada dasarnya, kita memiliki kemampuan untuk mengelompokkan dan mengkategorikan pengetahuan, baik yang diperoleh dari pengalaman langsung ataupun tidak. Nah, dengan abstract thinking itulah pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk menciptakan koneksi baru yang relevan untuk menghadapi berbagai challenge kehidupan modern, termasuk pekerjaan.

Modern work demands knowledge transfer: the ability to apply knowledge to new situations and different domains.” David Epstein, Range.

Melalui sudut pandang ini, saya merasa bahwa kita perlu memperbanyak “job desk” kita. Tidak perlu lagi mengkultuskan job title kita, karena itu justru akan menghambat kita untuk berkembang. Selain itu, pengetahuan dan pengalaman yang akan membantu perkembangan kita juga bisa dieksplorasi melalui hobi seperti ngopi, nonton film, dan membaca buku.

Terakhir, kita juga perlu sadar, hari ini tidak sama dengan hari kemarin, dan esok tidak akan sama pula dengan hari ini. Maka, apa-apa yang kita kerjakan hari ini adalah bentuk persiapan kita untuk menghadapi hari esok yang tidak terduga. Semoga usaha-usaha kita dimudahkan dan diberkahi oleh sang Maha Kuasa.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts