AI memang sialan. Itulah umpatan yang ingin saya ungkapkan, berkali-kali. Saya klarifikasi dahulu, saya tidak membenci AI. Saya berlangganan ChatGPT dan Claude, di waktu bersamaan, hingga hari ini. Hampir setiap hari saya berinteraksi dengan AI. Banyak sekali hal yang bisa dibantunya: menganalisis dokumen dengan cepat, menghitung ulang data spreadsheet, sampai membantu memproduksi konten untuk pekerjaan saya. Ya, AI benar-benar membantu hidup saya.
Akan tetapi, AI juga mengubah saya secara perlahan. Pengaruhnya, merembes dalam diri saya seperti rembesan air hujan yang tidak diketahui dari mana sumbernya. Setetes demi setetes. Tak terasa, tiba-tiba banjit. Lalu saya merasa mulai dikendalikan oleh AI.
Terlalu sering berinteraksi dengan AI memang akan membuat kita “dikendalikan” olehnya. Percaya atau tidak, saya sekarang menjadi lebih ragu ketika menulis sesuatu. Gaya bahasa saya, rupanya, sangat dipengaruhi oleh AI. Lagi-lagi, karena saya sering bertanya dan mendapatkan jawaban darinya.
Secara tidak langsung, apa yang dikatakannya saya rekam. Beberapa pola mulai menancap. Lalu tanpa sadar, saya mengetikkannya. Jujur saja, ini membuat saya overthinking. Bagaimana mungkin, salah satu aspek hidup terpenting saya —membaca dan menulis— bisa dikendalikan olehnya?
Mungkin saja, ini bentuk evolusi diri kita. Kita menyerap dengan cepat, meniru tanpa sadar, dan mendemonstrasikannya secara sukarela.
Sampai paragraf ini, saya menulis tanpa bantuan AI. Namun, pola-pola penulisan bergaya AI itu tampak di atas. Seolah ada rumus tertentu yang digunakannya untuk menyampaikan sesuatu. Misalnya: awali dengan statemen, deskripsikan, dan susul dengan contoh beruntun. Akhiri dengan kesimpulan atau penegasan.
Namun, menulis secara serampangan seperti ini, tidak akan mudah dianggap dibantu AI. Kenapa? karena keadaannya sangat subyektif. Saya sedang sedikit terbawa emosi dan penyampaian saya tidak linear. Coba saja menulisnya dengan kacamata yang relatif objektif. Saya yakin, akan ada beberapa persen dari tulisan ini yang akan dinilai “buatan AI.”
Saya tidak tahu secara pasti, apakah itu akan menguntungkan saya atau tidak. Yang jelas, ketika menulis untuk sesuatu yang lebih “serius,” bahasa formal yang saya buat akan lebih terasa AI-nya. Semakin jelas arah tulisan kita, semakin dugaan penggunaan AI akan menguat. Semakin kacau, —seperti tulisan ini— akan dianggap ditulis oleh manusia.
Ketika selesai menulis sebuah esai, saya biasanya akan meminta bantuan ZeroGPT dan sejenisnya untuk menilai tulisan saya. Memang sial, ada tulisan yang benar-benar saya kerjakan tanpa bantuan AI mendapatkan skor dominan dibantu AI.
Lagi-lagi, saya tidak tahu secara pasti. Apa sebenarnya yang dijadikan barometer “dibantu” atau “dibuat” oleh AI itu. Struktur logikanya? Cara penyampaian argumentasinya? Susunan bahasanya? Entahlah.
Saya ulangi sekali lagi, saya tidak anti AI. Sama sekali tidak. AI banyak mempermudah hidup dan pekerjaan saya. Bagaimanapun, kemudahan adalah salah satu hal yang paling dicari manusia.
Sampai paragraf ini, AI sama sekali tidak terlibat. Namun, saya masih membayangkan berbagai keraguan yang muncul ketika akan mempublish postingan. “Apakah terdengar seperti AI?”, “Bagian mana yang tidak seperti style atau voice tulisan saya?”, dan lainnya.
Sejauh ini, saya mencoba mengatasinya dengan menambah membaca buku cetak. Semoga, ini bisa sedikit menetralisir kegelisahan saya. Saya masih manusia, dan saya masih belum mau dikontrol sepenuhnya oleh AI.
Tulisan ini berakhir tanpa bantuan AI. Ditulis dengan cepat tanpa jeda. Dipublikasikan tanpa edit. Sebelum menulis kalimat ini secara sempurna, saya mengunggah seluruh paragraf sebelumnya di ZeroGPT. “Your Text is Human Written,” begitulah katanya. Namun, 6% dari tulisan ini diduga dihasilkan oleh AI.
Tabik,
Ibnu Masud

Tinggalkan komentar