Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Perdagangan yang Tak Pernah Rugi

Setiap orang yang pernah berdagang tahu rasanya untung dan rugi. Ada hari dagangan laku keras, ada hari pulang dengan tangan hampa. Untung-rugi itu bagian dari keseharian manusia. Kadang keberuntungan datang, kadang kerugian menimpa, dan semuanya terasa wajar. Namanya juga pedagang. Tapi, adakah perdagangan yang sama sekali tidak mungkin rugi?

Ternyata ada perdagangan yang sama sekali tidak akan merugikan pedagang itu. Dalam al-Qur’an disebutkan:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi.” [QS. Fāṭir (35): 29].

Mereka yang membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan berinfak—diam-diam ataupun terang-terangan—disebut sedang berharap pada perdagangan yang tidak akan pernah rugi.

Ibn ‘Āsyūr dalam Tahrīr wa Tanwīr menjelaskan bahwa penyebutan “alladzīna yatlūna kitāballāh” merujuk pada ulama sejati. Orang-orang yang benar-benar hidup dengan Al-Qur’an, membaca, mempelajari, dan menekuninya dengan hati. Mereka disebut ulama bukan karena gelar sosial, tapi karena menyerap ilmu dari Kitabullah. Setelah itu, Allah menyebut dua amal utama lainnya: salat, yang mewakili amal badan, dan infak, yang mewakili amal harta. Tiga pilar ini—tilawah, salat, dan infak—menjadi tanda keseimbangan antara amal ruhani, jasmani, dan sosial.

Soal infak, Ibn ‘Āsyūr juga menyoroti urutan “sirran wa ‘alāniyatan.” Ia menekankan bahwa memberi diam-diam lebih terjaga dari riya, tapi memberi terang-terangan juga punya makna penting sebagai tanda keberanian iman yang tidak gentar dengan pandangan orang lain. Diam dan terang sama-sama bernilai, tergantung niat yang melandasinya.

Analogi tijārah (perdagangan) sendiri, kata Ibn ‘Āsyūr, adalah bentuk tabsyīr—kabar gembira. Amal itu diibaratkan modal dagang yang akan selalu menghasilkan untung. Tidak ada risiko bangkrut disana, karena Allah sendiri yang menjamin. Bahkan, bukan hanya “modal kembali,” tapi juga ada tambahan keuntungannya, “liyuwaffiyahum ujūrahum wa yazīdahum min faḍlih.” Amalnya dibayar penuh, lalu ditambah bonus.

Namun di sini juga muncul sebuah kegelisahan lain. Apakah ibadah memang semacam transaksi? Apakah pantas kita beribadah sambil berharap untung? Bukankah kita dituntut untuk ikhlas ketika beribadah?

Para sufi sejak lama sudah menyoroti hal ini. Ibn ‘Ajībah, dalam syarah al-Ḥikam, membagi ikhlas menjadi tiga tingkatan. Ikhlasnya orang awam adalah beribadah sambil berharap selamat dari siksa dan memperoleh surga. Ikhlasnya orang khusus adalah beribadah demi pahala atau balasan akhirat, tidak peduli pada balasan dunianya. Sedangkan ikhlas orang yang lebih khusus lagi, adalah beribadah tanpa mencari balasan sama sekali—murni karena cinta, penghambaan, kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya.

Syaikh Zakariyā al-Anṣārī —sebagaimana dikutip oleh al-Bujairamī— bahkan menambahkan, kalau niat duniawi lebih dominan daripada niat akhirat, amal itu bisa kehilangan nilai. Tetapi kalau niat akhirat yang lebih besar, maka amal itu tetap bernilai sesuai kadar niatnya. Dari sinilah lahir doa dan ungkapan Rābi‘ah al-‘Adawiyyah yang masyhur: “Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka, dan tidak pula karena berharap surga. Aku menyembah-Mu karena Engkau memang layak untuk disembah.”

Maka kita bisa melihat bahwa bahasa perdagangan dalam ayat bukanlah tujuan akhir. Itu baru garis start-nya. Allah berbicara dengan bahasa yang paling bisa dipahami manusia. Karena semua orang tahu betapa hati-hatinya seorang pedagang menjaga modalnya dan berharap keuntungan dari usahanya. Tapi perjalanan iman mengajak kita untuk naik kelas—dari mencari untung, menuju kesadaran bahwa tujuan ibadah adalah kedekatan dengan Allah itu sendiri.

Untungnya, meski amal kita sering bercampur niat lain dan ikhlas kita belum sampai derajat tertinggi, Allah menutup ayat ini dengan sifat-Nya: ghafūr syakūr. Ghafūr—yang menutup kekurangan amal, seakan berkata: “Aku tahu amalmu kurang, tapi Aku ampuni.” Syakūr—yang melipatgandakan amal kecil, seakan berkata: “Aku tahu amalmu sederhana, tapi Aku anggap besar.”

Inilah rahmat terbesar yang kita harap-harapkan. Kita beribadah dengan niat yang masih begini-begitu, kadang transaksional, kadang tulus. Tapi Allah tetap menerima, bahkan membalas lebih dari yang layak kita terima. Seakan Allah ingin menunjukkan pada kita bahwa perjalanan menuju ikhlas itu tidak perlu tergesa-gesa. Kita bisa mulai dari mana pun kita merasa nyaman—dengan tilawah yang terbata-bata, dengan salat yang masih sering lalai, dengan infak yang belum seberapa. Semua itu tetap perdagangan yang tidak merugi, karena Allah selalu menambahkan keuntungan di luar hitungan.

Kita mungkin saat ini masih seorang pedagang kecil yang sibuk menghitung untung-rugi. Tapi, kita perlu optimis. Ada masanya kita akan naik level menjadi hamba yang tidak lagi hitung-hitungan dengan Tuhan. Dan selama kemungkinan itu masih terbuka, bukankah itu juga bagian dari kemurahan-Nya?

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts