Ketaatan, Sebuah Amanah Besar untuk Manusia

Ada sebuah kisah menarik tentang sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. Ketika waktu shalat tiba, tubuhnya bergetar hebat, sedang wajahnya-pun menjadi pucat. Kemudian ada seorang yang mengetahui kejadian itu dan bertanya kepada Sayyidina Ali, “Apa yang terjadi denganmu wahai Amir al-Mu’minin?” 

Lantas beliau menjawab, “Telah datang waktu penunaian amanah yang dulu pernah ditawarkan Allah swt kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Mereka semua tidak mampu mengemban amanah itu dan takut memikulnya.”

man in blue t-shirt sitting on brown wooden bench during daytime
Image by engin akyurt

Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra adalah salah satu sosok sahabat Nabi papan atas, baik kedekatannya dengan Nabi, maupun level ketakwaannya. Beliau mengatakan hal yang demikian bukan tanpa dasar. Kisah penawaran amanat Allah swt kepada langit, bumi, dan gunung-gunung ini nyata sebagaimana termaktub dalam surah al-Ahzab ayat 72.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Sahabat Ibnu Abbas mengatakan:

Yang dimaksud dengan amanah adalah ketaatan. Allah menawarkan amanah itu kepada langit, bumi, dan gunung-gunung sebelum menawarkannya kepada manusia. Nayatanya, mereka menolak karena tidak sanggup memikul beban yang amat berat itu. 

Kemudian Allah berfirman kepada Nabi Adam as, “Sesungguhnya aku telah menawarkan amanah ini kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Namun mereka tidak mampu mengemban amanah ini. Apakah kau mau untuk mengembannya, beserta segala konsekuensinya?” 

Kemudian Nabi Adam as berkata, “Apa saja konsekuensinya, wahai Tuhanku?”

Allah swt menjawab, “Jika kamu berbuat baik, maka kamu diganjar pahala. Tapi jika kamu berbuat keburukan, kamu akan mendapat hukumannya.”

Kemudian Nabi Adam as mengambil amanah ini beserta segala konsekuensinya.

Maka akhir ayat ini dituntaskan dengan kalimat, “dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Mari mengemban amanah besar ini dengan penuh suka cita 🙂

Wallahu a’lam

  • Kisah Sayyiduna Ali bin Abi Thalib saya sadur dari kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam al-Ghazali.
  • Kisah yang diceritakan sahabat Ibnu Abbas saya nukil dari kitab Tafsir Ibnu Katsir juz 3.

Penyaksian Hati: Sebuah Pengalaman Ruhani

Dalam dunia pesantren Indonesia, al-Ghazali adalah sosok yang sangat populer. Barangkali santri pesantren bisa menyebutkan lebih dari lima kitab karya al-Ghazali. Beliau adalah tokoh yang dijadikan sebagai rujukan pandangan tasawuf di Indonesia, setidaknya untuk kalangan Nahdhatul Ulama’. Dalam beberapa pandangan mistiknya, beliau menguraikan cara untuk memahami fenomena-fenomena ruhani secara gamblang dan jelas dalam kitab-kitabnya seperti Ihya’ Ulum al-Din, al-Arbain fi Ushul al-Din, Minhaj al-Abidin, al-Munqidz, dll.

Dalam memahami fenomena ruhani ini, al-Ghazali menyatakan bahwa perangkat paling vital untuk merasakan fenomena dahsyat ini adalah qalbu. Qalbu dalam pandangan al-Ghazali bukanlah hati sebagai segumpal darah yang terletak pada dada kiri bagian bawah di tubuh manusia, ia adalah “sesuatu” dalam diri manusia yang mampu menjangkau daya rohaniah ketuhanan. Dengan qalbu ini pulalah seluruh anggota tubuh manusia akan tunduk dan mengikutinya.

Qalbu bagi al-Ghazali juga seperti cermin, sedangkan ilmu merupakan pantulan gambar realitas yang termuat di dalamnya. Jika cermin ini tidak dalam kondisi bening dan tertutup kotoran-kotoran, maka cermin ini tidak akan bisa memantulkan realitas-realitas ilmu secara hakiki. Cara pembersihan hati inilah yang kemudian banyak dibahas al-Ghazali dalam teori tasawufnya. Sehingga, qalbu mampu merasakan ma’rifat dengan Allah melalui proses fana’ dengan musyahadahnya.

Photo by Alexander Acea
Fana’ dalam Perspektif al-Ghazali

Al-Ghazali secara eksplisit menyatakan bahwa Allah swt itu satu, yaitu satu bermakna tunggal. Allah bukanlah fisik yang dapat dibayangkan, serta bukan wujud yang dapat diukur. Allah tidak menyerupai bentuk fisik, baik kriterianya maupun keragamannya. Dia bukan atom dan tidak ditempati atom, bukan materi dan tidak ditempati materi. Bahkan Allah tidak serupa dengan maujud, dan sebaliknya. Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupainya, dan tidak ada sekutu baginya.

Bagi al-Ghazali, seorang arif tidak melihat apapun kecuali Allah swt. Ia tidak mengetahui apa saja selain-Nya. Tentu saja bukan dalam bentuk wujud-Nya, akan tetapi pada sisi ciptaan-Nya dan perbuatan-Nya. Dalam konteks ini, seorang arif tidak melihat dalam suatu af’al (hasil perbuatan), kecuali ada fa’il (pelaku perbuatan). Kemudian seorang arif yang sudah pada tahap ini akan melebur pengetahuannya tentang langit, bumi, hewan-hewan, tanaman, bahkan dirinya sendiri dan melihat dari sisi manapun bahwa semua ini adalah af’al-nya Allah swt. Sehingga apapun yang ada dalam dunia ini termasuk bentuk af’al Allah. Bentuk penyaksian ini adalah puncak syuhud kaum sufi yang disebut sebagai maqom fana’ dalam tauhid, karena ia melebur dan tenggelam bersama dirinya sendiri dalam ketauhidannya.

Fana’, diawali dengan proses wahdatu asy-syuhud. Hal ini berbeda total dengan konsep wahdatu al-wujud (pada masa itu) yang lebih dekat dengan praktek hulul dan ittihad. Terlihat dari bagaimana al-Ghazali menggambarkan fana’ dan syuhud ini secara rasional, yaitu bahwa seseorang tidak menyaksikan dalam wujud ini kecuali hanya Satu, dan ia tahu bahwa sesungguhnya yang hakikatnya Ada itu adalah Satu.

Al-Ghazali kemudian menjelaskan bahwa ketercampuran dan banyaknya yang ada, sebenarnya hanyalah karena keterpecahan penglihatan saja. Misalnya ketika melihat sosok orang hanya dari kakinya saja, kemudian tangannya, kemudian wajahnya, kemudian kepalanya, sehingga menjadi (seakan-akan) tampak banyak. Berbeda jika ia melihatnya secara utuh sebagai satu kesatuan dan menyeluruh, tentu dalam qalbu-nya tidak akan terbesit  banyaknya variabel yang ada tersebut. Ia seakan-akan menyaksikan sesuatu yang tunggal (wahdatu asy-syuhud).

Fenomena wahdatu asy-syuhud ini adalah pengalaman ruhani yang dirasakan oleh qalbu. Sayangnya, banyak kesalahpahaman terjadi karena pengalaman dahsyat ini dituliskan atau diucapkan dengan kata-kata. Contoh saja yang pernah dilakukan Husein bin Mansur al-Hallaj dan Abu Yazid Busthomi. Keduanya sama-sama pernah mengalami fenomena ruhani yang dahsyat ini, namun banyak kalangan yang menolaknya. Kenapa? karena semua rasa dan penyaksian di hati tidak akan pernah mampu terungkapkan secara nyata (100% sama). Sebagus apapun kata-kata dirangkai, seindah apapun tulisan dibuat, tidak akan pernah bisa mengungkapkan pengalaman musyahadah yang terjadi antara manusia dan penciptanya.

Wallahu a’lam

*Disarikan dari Kitab Ihya’ Ulumiddin Juz 3 Bab Min Ajaib al-Qalb dan Juz 4 Bab Tawakkal & Tauhid.

Tabik,

Ibnu Masud