“Iki elmu iki cung!“
Itulah salah satu ungkapan Gus Baha’ yang sering kami dengar sejak ngaji bersama beliau sebelas tahun lalu. Kadang kita memang terlalu mudah terjebak pada label. Entah itu NU, Muhammadiyah, Persis, Salafi, Al-Azhar, UIM, UIN, dan seterusnya. Nama-nama itu memang besar, bersejarah, dan berjasa melahirkan banyak ulama. Tapi nyatanya kita sering lebih fanatik kepada labelnya dibandingkan kepada ilmunya.
Padahal, ilmu itu sendiri lebih luas dari institusi keilmuan. Seperti kata orang bijak, “ilmu adalah rahim yang menyatukan ahli ilmu.” Dari manapun, ulama di seluruh dunia, dari dulu sampai sekarang, dari Tangier sampai Surabaya, semua tersambung dalam satu keluarga besar: keluarga ilmu.
Sejarah telah mencatat bahwa para ulama terdahulu rela melintasi padang pasir, laut, dan pegunungan, demi mendapatkan ilmu itu. Mereka mau “memungut” ilmu dari siapapun orang-orang yang berilmu. Tidak mesti se-afiliasi. Tidak harus sama golongannya. Karena ilmu yang bermanfaat itu seperti air, ia bisa diminum oleh siapapun, dari manapun.
Makanya, kalau kita hanya taat pada institusi, kita mudah tersekat-sekat. Tapi, kalau pada ilmu? Kita akan terlatih melapangkan dada. Selama itu ilmu, dan yang menyampaikan adalah ahl al-dzikr (orang yang ahli dalam bidangnya), kita bisa mengambil faidah dari sana.
Ta’asub (fanatik) kepada organisasi atau almamater bisa melahirkan dua hal. Pertama, rasa bangga yang sehat—merasa punya rumah asal yang melahirkan kita. Itu wajar. Tapi yang kedua, ia juga bisa berubah menjadi tembok tinggi yang membuat kita enggan belajar dari luar. Di titik inilah kita kehilangan semangat ilmu, karena sibuk membela bendera, bukan kebenaran.
Padahal, al-Qur’an sudah menyebutkan bahwa “innamā al-mu’minūna ikhwah.” Orang-orang beriman itu bersaudara. Kalau iman saja bisa menjadi asas persaudaraan, seharusnya ilmu lebih bisa mempersatukan kita. Lha wong ilmu-ilmu ini, sudah pasti dilandasi iman kok. Maka, ilmu sepatutnya terus diwariskan untuk saling menyambung, bukan memutus.
Marilah kita belajar dan terus belajar untuk berlapang dada. Kita harus mulai membiasakan bahwa kebenaran tidak selalu datang dari golongan kita. Ilmu itu terlampau luas untuk bisa kita politisasi sendiri. Ia bagaikan samudera, luas dan dalam. Sedangkan kita? hanya buih-buih kecil yang muncul kemudian hilang begitu saja.
Maka benarlah ungkapan al-Bushiri dalam Burdahnya ketika menggambarkan luasnya ilmu dan kesempurnaan Nabi Saw:
وكلهم من رسول الله ملتمسٌ # غرفاً من البحر أو رشفاً من الديمِ
“Tidak ada seorang nabi pun melainkan ia mengambil dari ilmu Rasulullah ﷺ dan kesempurnaannya, sekadar seperti satu cedokan dari lautan atau satu tegukan dari hujan deras yang melimpah.“
Seluas dan sebanyak itu, lalu kita mengkapling-kaplingnya? Kita ini kenapa sih…
Allāhu a‘lam
Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar