Penyaksian Hati: Sebuah Pengalaman Ruhani

Dalam dunia pesantren Indonesia, al-Ghazali adalah sosok yang sangat populer. Barangkali santri pesantren bisa menyebutkan lebih dari lima kitab karya al-Ghazali. Beliau adalah tokoh yang dijadikan sebagai rujukan pandangan tasawuf di Indonesia, setidaknya untuk kalangan Nahdhatul Ulama’. Dalam beberapa pandangan mistiknya, beliau menguraikan cara untuk memahami fenomena-fenomena ruhani secara gamblang dan jelas dalam kitab-kitabnya seperti Ihya’ Ulum al-Din, al-Arbain fi Ushul al-Din, Minhaj al-Abidin, al-Munqidz, dll.

Dalam memahami fenomena ruhani ini, al-Ghazali menyatakan bahwa perangkat paling vital untuk merasakan fenomena dahsyat ini adalah qalbu. Qalbu dalam pandangan al-Ghazali bukanlah hati sebagai segumpal darah yang terletak pada dada kiri bagian bawah di tubuh manusia, ia adalah “sesuatu” dalam diri manusia yang mampu menjangkau daya rohaniah ketuhanan. Dengan qalbu ini pulalah seluruh anggota tubuh manusia akan tunduk dan mengikutinya.

Qalbu bagi al-Ghazali juga seperti cermin, sedangkan ilmu merupakan pantulan gambar realitas yang termuat di dalamnya. Jika cermin ini tidak dalam kondisi bening dan tertutup kotoran-kotoran, maka cermin ini tidak akan bisa memantulkan realitas-realitas ilmu secara hakiki. Cara pembersihan hati inilah yang kemudian banyak dibahas al-Ghazali dalam teori tasawufnya. Sehingga, qalbu mampu merasakan ma’rifat dengan Allah melalui proses fana’ dengan musyahadahnya.

Photo by Alexander Acea
Fana’ dalam Perspektif al-Ghazali

Al-Ghazali secara eksplisit menyatakan bahwa Allah swt itu satu, yaitu satu bermakna tunggal. Allah bukanlah fisik yang dapat dibayangkan, serta bukan wujud yang dapat diukur. Allah tidak menyerupai bentuk fisik, baik kriterianya maupun keragamannya. Dia bukan atom dan tidak ditempati atom, bukan materi dan tidak ditempati materi. Bahkan Allah tidak serupa dengan maujud, dan sebaliknya. Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupainya, dan tidak ada sekutu baginya.

Bagi al-Ghazali, seorang arif tidak melihat apapun kecuali Allah swt. Ia tidak mengetahui apa saja selain-Nya. Tentu saja bukan dalam bentuk wujud-Nya, akan tetapi pada sisi ciptaan-Nya dan perbuatan-Nya. Dalam konteks ini, seorang arif tidak melihat dalam suatu af’al (hasil perbuatan), kecuali ada fa’il (pelaku perbuatan). Kemudian seorang arif yang sudah pada tahap ini akan melebur pengetahuannya tentang langit, bumi, hewan-hewan, tanaman, bahkan dirinya sendiri dan melihat dari sisi manapun bahwa semua ini adalah af’al-nya Allah swt. Sehingga apapun yang ada dalam dunia ini termasuk bentuk af’al Allah. Bentuk penyaksian ini adalah puncak syuhud kaum mutashowwifah yang disebut sebagai maqom fana’ dalam tauhid, karena ia melebur dan tenggelam bersama dirinya sendiri dalam ketauhidannya.

Fana’, diawali dengan proses wahdatu asy-syuhud. Hal ini berbeda total dengan konsep wahdatu al-wujud (pada masa itu) yang lebih dekat dengan praktek hulul dan ittihad. Terlihat dari bagaimana al-Ghazali menggambarkan fana’ dan syuhud ini secara rasional, yaitu bahwa seseorang tidak menyaksikan dalam wujud ini kecuali hanya Satu, dan ia tahu bahwa sesungguhnya yang hakikatnya Ada itu adalah Satu.

Al-Ghazali kemudian menjelaskan bahwa ketercampuran dan banyaknya yang ada, sebenarnya hanyalah karena keterpecahan penglihatan saja. Misalnya ketika melihat sosok orang hanya dari kakinya saja, kemudian tangannya, kemudian wajahnya, kemudian kepalanya, sehingga menjadi (seakan-akan) tampak banyak. Berbeda jika ia melihatnya secara utuh sebagai satu kesatuan dan menyeluruh, tentu dalam qalbu-nya tidak akan terbesit  banyaknya variabel yang ada tersebut. Ia seakan-akan menyaksikan sesuatu yang tunggal (wahdatu asy-syuhud).

Fenomena wahdatu asy-syuhud ini adalah pengalaman ruhani yang dirasakan oleh qalbu. Sayangnya, banyak kesalahpahaman terjadi karena pengalaman dahsyat ini dituliskan atau diucapkan dengan kata-kata. Contoh saja yang pernah dilakukan Husein bin Mansur al-Hallaj dan Abu Yazid Busthomi. Keduanya sama-sama pernah mengalami fenomena ruhani yang dahsyat ini, namun banyak kalangan yang menolaknya. Kenapa? karena semua rasa dan penyaksian di hati tidak akan pernah mampu terungkapkan secara nyata (100% sama). Sebagus apapun kata-kata dirangkai, seindah apapun tulisan dibuat, tidak akan pernah bisa mengungkapkan pengalaman musyahadah yang terjadi antara manusia dan penciptanya.

Wallahu a’lam

*Disarikan dari Kitab Ihya’ Ulumiddin Juz 3 Bab Min Ajaib al-Qalb dan Juz 4 Bab Tawakkal & Tauhid.

Tabik,

Ibnu Masud

Membela Orang-Orang yang Memilih Fakir

Mlarat, sebuah status yang mungkin sangat dihindari oleh orang-orang zaman sekarang. Menjadi seorang fakir di zaman yang seba cepat ini sangat melelahkan. Selain sulit untuk mengejar kecepatan orang-orang yang lebih mampu, kadang statusnya ya cuma jadi bahan gojlokan teman-temannya. Iya to?

Nyatanya, sebagian orang juga menunjukkan bahwa kemlaratan itu bukanlah sebuah masalah yang serius. Selain karena sudah terbiasa mlarat dan susah, toh ini juga masalah status saja. Berapa banyak diantara kita yang sok merasa kasihan melihat temannya yang nganggur? Wong kadang rasa kasihan itu yang seakan menunjukkan kita lebih “mapan” daripada orang lain yang secara kasat mata “kurang mampu”. Padahal kadang orang yang kita kasihani itu ya tenang-tenang saja. Koyok yak-yak o ae hehe.

Terlepas dari baiknya rasa peduli dan keinginan untuk membantu orang lain, kadang kita juga perlu paham bahwa apa yang menurut kita baik dan ideal belum tentu cocok dengan orang lain. Ya, masalah status saja. Padahal, hakekatnya status dan nisbat itu tidak pernah benar-benar nyata kan?

Image by Larm Rmah
Orang-Orang Fakir dan Pilihannya

Orang-orang fakir jalur independen (mlarat karepe dewe) ini kadang-kadang susah ditebak. Pola pikirnya pasti banyak menyalahi pola pikir linear manusia. Ketika teman-temannya sudah membahas investasi, perencanaan hidup jangka panjang, dll. Orang-orang ini paling cuma ngomong, “Alhamdulillah masih ada pekerjaan”. Potensinya memang dua, sudah terlanjur ikhlas dan ridho, atau malah putus asa. Hehe.

Tapi jangan salah, salah satu tanda kewalian itu ya pikiran yang kurang membumi. Bisa jadi orang-orang mlarat yang telaten dengan ikhlas dan ridho ini malah populer di alam langit. Sufyan ats-Tsauri (w. 161 H) yang dijuluki pemimpinnya para ulama di zamannya, pernah ngendikan begini:

اختار الفقراء خمسا واختار الأغنياء خمسا. واختار الفقراء راحة النفس، وفراغة القلب، وعبودية الرب، وخفة الحساب، والدرجة العليا. واختار الأغنياء تعب النفس، و شغل القلب، وعبودية الدنيا، وشدة الحساب، والدرجة السفلى

Orang-orang fakir yang ridha dengan kefakirannya akan memilih lima hal, sedangkan orang-orang kaya yang cinta hartanya juga akan memilih lima hal.

Orang-orang fakir memilih ketenangan jiwa, ketentraman hati, penghambaan kepada Allah, ringannya hisab, derajat yang tinggi di surga.

Sedangkan orang-orang kaya yang bangga dengan kekayaannya akan memilih lima hal lain, beban jiwa, sibuknya hati, pengabdian kepada dunia, beratnya hisab, dan derajat yang rendah.

Sufyan ats-Tsauri

Berdasarkan penjelasan yang ditulis oleh Syaikh Nawawi al-Bantani terhadap quote ini dalam kitab Nashaihul Ibad, orang-orang yang memilih untuk mempunyai mental fakir ini adalah orang yang memilih untuk mengistirahatkan jiwanya, serta menentramkan hatinya dari rasa kemrungsung terhadap beban-beban keduniaan. Selain itu kelompok ini juga memfokuskan diri pada tujuan awal penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada Allah. Mereka mengharapkan kefakiran ini menjadi penyebab ringannya hisab di akhirat kelak, serta derajat yang mulia karena menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan yang sejati.

Orang-orang kaya yang cinta dunia, sudah barang tentu akan merasakan beban berat di jiwanya karena seluruh waktunya digunakan untuk berkhidmah pada harta. Mereka juga secara tidak sadar memilih sumpek dan sibuknya hati karena selalu memikirkan harta dunia.

Kemudian, mereka juga memilih untuk mengabdi (menjadi budak) pada dunia. Sebagaimana dikatakan pepatah arab, “Barang siapa mencintai sesuatu, maka ia akan menjadi budaknya”. Banyaknya harta yang dikumpulkan juga menjadi penyebab beratnya hisab di akhirat. Tanpa sadar pula mereka memilih derajat yang rendah, karena menjadikan dunia sebagai tujuan tanpa mempertimbangkan kepentingan akhiratnya.

Dunia itu sifatnya hanya dua: Halalnya akan jadi beban hisab, haramnya sudah tentu jadi adzab.

Sayyidana Ali bin Abi Thalib
Potensi Menjadi Wali dengan Mental Fakir

Fakir dan Kaya sebenarnya tidak melulu tentang sesuatu yang tampak dalam ukuran dunia. Kadangkala ada orang yang secara dzahir tampak kaya dan berkecukupan, tapi sangat memiliki mental fakir sebagaimana disebutkan Imam Sufyan ats-Tsauri. Para sahabat kanjeng Nabi banyak sekali yang bermental fakir meskipun secara materiilnya sangat kaya raya. Sebaliknya, kadang juga ada orang yang secara dzahirnya kurang-kurang, tapi mentalnya adalah mental orang-orang kaya seperti diatas.

Para sufi juga banyak menuliskan dalam kitab mereka tentang pujian dan keutamaan menjadi fakir, tapi sama sekali tidak menyacat orang-orang kaya. Mereka lebih mengkritisi keburukan sifat “Hubb ad-Dunya”, atau cinta dunia dan sibuk dengannya. Karenanya, kesadaran tentang hakikat dan tujuan awal penciptaan manusia adalah obat dari segala penyakit hati. Ketika seseorang sadar bahwa tujuan hidup adalah untuk menghamba Allah, untuk apa menghamba pada dunia?

Nasihat Imam ats-Tsauri untuk menanamkan mental miskin inilah yang sebaiknya diamalkan. Sehingga, dalam kondisi apapun kita akan siap dengan konsekuensi kehidupan dunia dan sadar betul bahwa semua yang kita lakukan bertujuan untuk menghamba pada-Nya. Kalo sudah begini, insyaAllah wali lah. Hehehe

Tabik,

Ibnu Masud

Ajaran Tasawuf yang Membumi adalah Puncak Peradaban Islam

Siapa yang tidak kenal dengan Umar bin Abdul Aziz? Beliau adalah satu-satunya khalifah yang diakui oleh para sejarawan sebagai khalifah kelima setelah sayyidina Ali karramAllahu wajhah. Beliau juga dikenang sebagai khalifah yang disayang rakyatnya, yang menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk mencapai kemajuan bersama. Selain itu, beliau juga tergolong orang yang mempraktikkan ajaran zuhud, inti dari maqamat (tangga-tangga spiritual) tasawuf.

Umar bin Abdul Aziz atau yang juga disebut sebagai Umar tsani (kedua) memimpin umat Islam hanya sebentar saja, kurang lebih selama 3 tahun. Beliau juga tergolong masih muda -34 tahun- saat ditunjuk sebagai khalifah oleh pendahulunya, Sulayman bin Abd al-Malik. Dalam masa kepemimpinan yang sesaat itu, beliau mampu mempersatukan umat Islam dan menanamkan nilai-nilai inti dari ajaran tasawuf hingga menjadi ruh yang mewarnai kehidupan bermasyarakat penduduk Dinasti Umayyah saat itu.

Photo by Anna K on Unsplash

Sebagai pemimpin, beliau memberikan contoh secara nyata kepada masyarakatnya dengan mempraktikkan ajaran utama tasawuf, yaitu zuhud. Beliau sadar betul bahwa sejak dilahirkan, manusia sudah berpotensi mati. Sebagaimana dalam sebuah hadits diterangkan:

“Banyak-banyaklah kalian mengingat kematian! Sebab mengingat mati bisa membersihkan dosa-dosa dan bisa membuat kalian hidup zuhud di dunia. Jika kalian mengingat mati di saat kalian sedang kaya, niscaya (kalian sadar bahwa) kematian itu bisa memporak-porandakan kekayaan kalian. Dan jika kalian mengingat mati saat kalian hidup miskin, maka yang demikian itu bisa membuat kalian ridha dengan kehidupan kalian.”
– HR. Ibnu Abi al-Dunya dari Anas bin Malik

Manusia yang paripurna seharusnya sudah sangat sadar bahwa status-status keduniaan tidak ada yang pernah abadi. Saat seseorang kaya, kematian akan merenggut statusnya sebagai orang kaya. Sedangkan saat seseorang miskin, maka kematian pula lah yang akan melepas dan menghapuskan status kemiskinannya.

Dengan memberikan contoh yang nyata pada masyarakatnya tentang kezuhudan, beliau menjadi pemimpin yang sangat dicintai umatnya. Bahkan sangat masyhur terdengar cerita bahwa tidak ada seorangpun yang mau menerima zakat di seantero negeri yang beliau pimpin. Apakah karena semua penduduknya kaya? Tentu saja tidak. Mereka hanya merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Sekiranya hari itu masih bisa makan dan memenuhi kebutuhan keluarganya, mereka tidak mau menerima zakat dari pemerintah.

Istimewanya, mereka yang menolak pemberian zakat itu akan menyarankan petugas zakat untuk mencari orang lain yang lebih membutuhkannya. Saat petugas zakat berkunjung ke kediaman orang lain, penolakan serupa juga dialami. Bahkan mereka menyarankan hal yang sama. Kejadian ini berulang terus hingga seluruh penjuru negeri disambangi, dan tidak ada seorang pun yang tidak berkata demikian.

Hal ini lagi-lagi tidak lepas dari peran ajaran tasawuf yang membumi, sehingga semua orang merasa tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari orang lain. Zuhud dalam praktik kehidupan secara otomatis akan mengikis sedikit demi sedikit sifat ananiyah (egois/aku-sentris) seorang pelaku zuhud, sehingga seseorang akan lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri.

Peradaban seperti inilah yang menurut para mutashawwifah menjadi puncak peradaban Islam. Besarnya peradaban bukan hanya dinilai dari luasnya kekuasaan, bukan pula pada besarnya perpustakaan dan jutaan kitab yang diproduksi oleh para ulama, namun puncak peradaban Islam adalah ketika nilai-nilai inti ajaran Islam sudah membumi dan sulit dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat.

Wallahu a’lam

Persahabatan ala Sufi

Imam al-Ghazali merumuskan bahwa setidaknya ada 4 hal yang membuat kenapa seseorang suka bersama dengan orang lain. Pertama, karena adanya kesamaan dalam diri orang itu yang sesuai dengan seleranya, entah itu hal-hal baik ataupun buruk. Kedua, orang lain itu bisa menjadi perantara untuk urusan duniawinya. Ketiga, orang itu bisa menjadi perantara tercapainya urusan non-dunia, seperti ilmu agama. Keempat, ia mencintainya karena Allah, bukan karena kepentingan apapun yang ada dalam dirinya.

Semua faktor yang menjadikan adanya ikatan “pertemanan” antara satu orang dengan orang lain bisa menjadi perantara al-hubb fillah (persahabatan yang didasari keikhlasan kepada Allah), kecuali alasan kedua. Hubb fillah inilah yang menjadi inti dari persahabatan cara sufi, yaitu persahabatan yang tidak didorong oleh faktor kepentingan apapun, hanya karena Allah dan dalam urusan yang Allah ridha.

Photo by Aman

Bersahabat dengan cara sufi ini tidak repot dan ruwet, tanpa perlu atribut dan beban-beban moral yang biasa terjadi dalam hubungan antara seseorang dengan orang lain. Hubungan persahabatan ini mengalir begitu saja, alami dan apa adanya. Persahabatan model ini tidak pernah terikat dengan makhluk dan hawa nafsu, karena ikatan dan pedoman satu-satunya adalah Allah SWT.

Imam Junayd al-Baghdadi, tokoh sufi yang ajarannya paling masyhur di dunia berkata, “Jika ada dua orang bersahabat dalam urusan Allah, lalu salah satunya merasa risih atau merasa segan kepada yang lain, maka ada yang bermasalah pada salah satunya”. Sayyidina Jakfar Shadiq mejelaskan pula bahwa teman yang paling berkesan di hatinya adalah yang tidak mendatangkan beban apa-apa. Saat bersama dengan dia tak ubahnya saat sendiri mengalir apa adanya, tak ada yang disembunyikan, tak ada yang dibuat-buat, tidak malu, tidak risih, tidak perlu bermanis muka, basa-basi dan lain sebagainya.

Syaikh Abdussalam bin Masyisy suatu ketika berpesan kepada muridnya, Imam asy-Syadzili,

“Janganlah kamu berteman dengan orang yang terbiasa mendahulukan dirinya daripada kamu, yang seperti itu adalah kekikiran. Jangan juga kamu berteman dengan orang yang terbiasa mendahulukan kamu daripada dirinya, biasanya yang seperti itu hanya teman sesaat. Bertemanlah dengan orang yang jika dilihat, membuatmu ingat pada Allah SWT.”

Jika dipahami, Syaikh Abdussalam berpesan pada muridnya, Imam Syadzili untuk menunjukkan bahwa inti dari persahabatan dengan orang lain itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu perangkatnya yaitu adalah kejujuran, tidak diruwetkan dengan upaya-upaya penyesuaian, tidak ada beban dan keterpaksaan diantara keduanya selama proses persahabatan berlangsung. Dengan demikian, persahabatan model ini berjalan murni, tidak dibangun dengan riya’, berat hati, ketidak jujuran, yang tujuannya hanya untuk menyesuaikan diri dengan selera atau status temannya.

Hal-hal seperti disebutkan diatas kemudian juga diperkuat oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya’. Beliau menyatakan bahwa salah satu cara bersahabat ala sufi adalah tidak terbebani oleh temannya, atau membebani temannya. Cara bersahabat seperti ini sudah pada maqam ‘arifin. Beberapa sufi juga menyatakan, “Jika kamu menemani ahli dunia, maka pakailah etika sosial (adab). Jika kamu menemani ahli akhirat, maka pakailah ilmu. Jika kamu menemani ‘arifin, maka lakukanlah sesuka hatimu.

Jika term persahabatan membutuhkan approval dari orang lain untuk melakukan hal yang sama, setidaknya kulo njenengan bisa mencoba menerapkan cara bersahabat ala sufi ini untuk berteman dengan orang lain. Jangan-jangan sudah diterapkan? Ya mungkin saja, wong kita memang suka loss dan gass.

Wallahu a’lam

Cinta, Siapa yang Tahu?

Beberapa waktu yang lalu, pengajian kitab Mukhtar al-Ahadits an-Nabawiyyah di kantor sampai pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi yang bunyinya :

أحبب حبيبك هوناما، عسى أن يكون بغيضك يوماما, وابغض بغيضك هوناما، عسى أن يكون حبيبك يوماما

Artinya: Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, bisa jadi ia akan menjadi musuhmu suatu hari nanti. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, boleh jadi ia akan menjadi kekasihmu suatu saat nanti.

fabrizio-verrecchia-bQxGg8Vx1Vc-unsplash

Hadits ini memang banyak diperdebatkan tingkat keshahihannya oleh para ahli hadits, ada yang menyebutnya gharib, ada yang mengatakan statusnya marfu’, ada juga yang men-shahih-kannya, bahkan tidak sedikit yang menyebutnya dhoif atau lemah. Perbedaan pendapat seperti ini sebenarnya sudah biasa di kalangan ahli hadits, karena sejatinya status level hadits adalah salah satu bentuk ijtihad para ahli hadits.

Terlepas dari itu semua, kita boleh saja mengambil manfaat dari hadits ini karena tidak terpaut dengah dalil hukum fiqih. Sebagaimana pendapat ulama Syafiiyah yang menyatakan bahwa menggunakan hadits dhoif pun boleh saja sebagai fadhail al-amal asalkan tidak bertentangan dengan Qur’an dan hadits sahih.

Kata ‘Asaa dalam Ranah Kehidupan Sosial

Dalam kitab suci, beberapa ditemukan kata ‘asaa (terj: bisa jadi) di beberapa surat yang berbeda. Beberapa ayat itu antara lain:

Wa ‘asaa an takrohu syai’an wahuwa khoirun lakum, wa ‘asaa an tuhibbu syai’an wahuwa syarrun lakum (Al-Baqoroh).

Artinya: “Dan boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik untuk kalian. Bisa jadi juga kalian sangan mencintai sesuatu, padahal itu buruk untuk kalian.”

Adapun di juz 28 dalam surat Al-Mumtahanah juga akan ditemui, ‘Asaa Allahu an yaj’ala baynakum wa bayna alladzina ‘adaytum minhum mawaddah. 

Artinya: “Bisa saja Allah menjadikan rasa kasih sayang diantara kalian dan orang-orang yang kalian musuhi”

Beberapa ayat diatas adalah contoh nyata bahwa manusia itu memang makhluk yang sangat dinamis, pagi sayang, malamnya sudah perang. Bagaimana mungkin? ya mungkin saja, namanya juga makhluk.

Maka akan banyak sekali dijumpai dalam kehidupan ini, awalnya cinta berubah jadi kecewa, bermula benci tapi rindu juga, dan seterusnya. Itulah kenapa mayoritas mutahashowwifah (para sufi) lebih memilih meletakkan rasa suka dan cinta pada tempat yang tepat, yaitu cinta pada rabbul ‘alamin. Karena Allah adalah dzat yang absolut dan pasti, sedangkan makhluk hanya akan selalu diliputi dengan segala ke-bisa jadi-annya dan semua ketidak pastiannya.

Lalu? simpulkan saja sendiri 🤭.
Wallahu a’lam.

Wafatnya Seorang Alim adalah Musibah Terbesar Dunia

Pada suatu kesempatan KH Ma’ruf Amin dawuh “mautul ‘alim mautul ‘alam”. Meninggalnya seorang alim seperti matinya dunia. Pagi ini ada kabar yang sangat menghentak, seorang ‘alim besar Indonesia yang telah terbukti mencetak puluhan ribu kader ulama nusantara meninggal dunia. Hadratu as-Syaikh Maimoen Zubair namanya, bukan saja ‘alim, juga ‘allamah dan faqih. Pengasuh pondok pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Beliau meninggal dalam rangkaian prosesi persiapan haji, di Makkah al-Mukarramah.

Dalam surah Ar-Ra’d ayat 41 Allah berfirman,

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا ۚ وَاللَّهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ ۚ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami mendatangi daerah-daerah (orang yang ingkar kepada Allah), lalu Kami kurangi (daerah-daerah) itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; Dia Mahacepat perhitungan-Nya.

Sedikit penjelasan dalam kitab tafsir Ibnu Katsir yang dinukil dari perkataan Ibnu Abbas dan Mujahid. Berikut adalah kutipannya,

وقال ابن عباس في رواية : خرابها بموت فقهائها وعلمائها وأهل الخير منها . وكذا قال مجاهد أيضا : هو موت العلماء

“Berkata Ibnu Abbas dalam satu riwayat: Berkurangnya bumi adalah dengan kematian fuqaha dan ulama’-nya, serta para ahlul khair darinya. Demikian pula Imam Mujahid mengatakan juga: Berkurangnya bumi adalah kematian ulama’.”

Dalam suatu hadits yang mulia juga Nabi bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Namun, Ia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Ia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinanpimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Saat ini dunia sedang diguncang salah satu bencana terbesarnya, yaitu mautu al-‘alim, sebaik-baik manusia ketika datang kepadanya suatu musibah adalah mereka yang mengatakan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”. Dan sebagaimana dawuh Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin, generasi penerus ulama’ harus tetap meletakkan harapan setinggi-tingginya sehingga mampu menambal lubang di dalam agama ini.

إذا مات العالم ثلم في الإسلام ثلمة لا يسدها الا خلف منه

“Jika satu ulama wafat, maka ada sebuah lubang dalam Islam yang tak dapat ditambal kecuali oleh generasi penerusnya.”

Wallahu A’lam

*Mohon do’a dan fatihah sebanyak-banyaknya untuk Hadratu as-Syaikh Maimoen Zubair

Menghijrahkan Hijrah, Lahiriyah Menuju Batiniyah

Ada sebuah kisah menarik yang sangat bisa kita ambil hikmahnya, mengingat fenomena hijrah hari ini juga semakin digandrungi masyarakat kita. Kisah ini terdokumentasi dalam kitab berjudul Hayat al-Salaf baina al-Qaul wa l-‘Amal yang ditulis oleh Ahmad Nasir Tayyar, yaitu tentang hijrahnya seorang Syaqiq bin Ibrahim dari hiruk pikuk ramainya dunia menuju jalan sunyi para sufi.

Foto oleh Nathan McBride

Syaqiq berujar, “Dahulu aku adalah seorang penyair yang bergelimang harta, kemudian Allah memberikan padaku rizki yang lebih besar, taubat. Dan aku melepaskan diri dari kehidupan mewahku, kurelakan 300 ribu dirham demi untuk berpakaian shuf (pakaian lusuh dari wol) selama 20 tahun. Sungguh, aku tidak pernah merasa setertipu ini hingga aku bertemu dengan Abdul Aziz bin Abi Rawwad.”

Kemudian Abdul Aziz berkata pada Syaqiq, “Tidak penting, jika kamu hanya menyibukkan diri dengan memakan jerawut dan memakai pakaian shuf. Hal yang seharusnya penting adalah saat engkau mengenal Allah dalam dadamu dan tidak menyekutukannya dengan suatu apapun, dan hendaknya kamu ridho dengan segala ketentuan-Nya, hingga engkau lebih yakin dengan apa yang datang dari Allah daripada apa yang datang dari tangan manusia”

Tampaknya kisah ini cukup relevan di zaman sekarang, tentu saja meskipun saat ini jalur hijrah yang ditempuh bukan jalur sufi seperti yang dilakukan Syaqiq. Tapi jika ditarik benang merah, Syaqiq meninggalkan dunianya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sayangnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk fokus pada pakaiannya, apa yang sepertinya terlihat oleh manusia.

Nyatanya beberapa tahun kebelakang juga terjadi fenomena seperti kisah diatas, bahkan dalam konteks masyarakat luas. Bagaimana banyak artis, tokoh masyarakat, hingga orang awam melakukan hijrah, sampai-sampai muncul komunitas hijrah dan semacamnya. Jika mau ditarik lebih dalam lagi, hijrah sebagai sebuah komoditas pun sudah memiliki nilai yang sangat besar.

Bukankah ini sebuah pertanda bahwa islam semakin mudah diterima sebagai pilihan jalan hidup manusia? Betul sekali, setidaknya kesadaran beragama semakin hidup di tengah masyarakat kita. Bukankah ini hal yang selalu diinginkan oleh para ulama’ nusantara terdahulu? Dimana agama bisa mewarnai seluruh sendi-sendi kehidupan manusia, sebagai apapun dia.

Sayangnya, ada setitik tinta di kain putih suci ini. Seperti beberapa laku sebagian kaum “muhajirin” yang merasa bahwa jalannya adalah satu-satunya jalan kebenaran. Sebagian lain yang sangat bersemangat mulai menyeru ke “jalan Allah” dengan modal ilmu yang sangat sedikit.

Jika kembali ke kisah diatas, masa-masa seperti ini akan habis dengan sendirinya, dan mereka mau mengambil pelajaran dari semua yang dilaluinya. Sehingga, alangkah baiknya langkah awal kehidupan pasca hijrah juga diimbangi dengan banyak-banyak mengambil ilmu dari ulama’, agar hasilnya bukan tampilan lahir semata. Tapi juga pensucian ruhani, sehingga tumbuh keyakinan bahwa Allah adalah rabb semesta alam, tidak ada sekutu bagiNya. Hingga puncaknya, tumbuh keyakinan seyakin-yakinnya bahwa Tuhan maha mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia.

Saat keyakinan itu tumbuh, pastilah ia tidak akan memikirkan apa yang datang dari manusia, baik itu penglihatannya, maupun pujian-pujiannya. Sehingga muncul keridhaan atas apa yang telah ditetapkan Tuhan. Jika seorang Syaqiq bin Ibrahim yang terkenal dengan kesufiannya saja pernah terjebak di fase ruwet selama 20 tahun, lalu bagaimana dengan manusia zaman sekarang? Sebelum semuanya ruwet, mari segera kita hijrahkan hijrah kita. Wallahu a’lam.

Tabik,

Ibnu Masud