Seorang kiai sedang bersalam-salaman dengan masyarakat, entah sebelum atau sesudah pengajian. Tangan sang kiai itu dicium. Wajar, wong namanya orang berilmu, pantas dihormati. Ketika adegan salaman itu selesai, terlihat ada amplop yang berpindah tangan. Ya, dari masyarakat kepada sang kiai.
Nah, itulah yang dinamakan “salam templek.” Salam itu artinya salaman, templek itu artinya menempel. Maksudnya, ada yang ditempelkan ketika salaman. Ya amplop itu. Isinya apa? apa lagi kalau bukan uang? Apa ya mungkin kalo amplop itu diisi bekas nota Indomaret? Mbok ya pantese!
Orang modern perkotaan di lingkungan saya biasanya tidak paham dengan konsep ini. Di satu sisi, mereka menganggap wajar jika seorang kiai atau ustadz itu dicium tangannya. “Itu wajar sebagai bentuk penghormatan kepada ilmu, kami tentu siap untuk merendahkan diri dan hati demi ilmu,” kata teman saya. Lalu, saya tanggapi begini saja, “Lha memangnya ndak bisa ya, kalo ‘salam templek’ itu juga dianggap seperti itu?”
Sudahlah. Teman saya yang satu ini masih lumayan, wong mau mencium tangan orang saleh. Ada lagi yang ndak mau dua-duanya. Dalihnya, mencium tangan orang lain itu fanatik dan sikap berlebih-lebihan.
Lagi-lagi, sudahlah. Saya akan coba membacakan ‘ibārah dari kitab saja, siapa tahu ini bisa membuatnya lebih masuk akal. Baik dari sudut pandang kiai yang menerima “salam templek,” maupun orang yang memberikannya.
Imām al-Sya’rānī, dalam kitabnya yang berjudul Tanbīh al-Mughtarrīn, menyebutkan bahwa diantara akhlak orang-orang salaf adalah tidak pelit kepada al-faqīh (guru) yang mengajarkan anak-anak mereka Al-Qur’an, dan mereka tidak pernah merasa berlebihan atas apa pun yang mereka berikan kepadanya di dunia.
Disana dikisahkan bahwa Abu Zayd al-Qayrawānī pernah memindahkan anaknya dari seorang guru al-Qur’an. Sebabnya apa? karena gurunya merasa ndak pantes ketika diberi uang seratus dinar oleh Abu Zayd setelah mengajarkan anaknya membaca al-Qur’an satu hizb. Menurut gurunya itu, satu hizb hanya mak crit, sedikit sekali. Apa iya pantes, saya ngajarkan sesedikit ini kok dikasih uang sebanyak itu?
Sebenarnya si guru ini pengen merendah, tawādhu‘. Dan ini adalah akhlak orang yang saleh. Tapi Abū Zayd ini juga orang yang saleh, beliau adalah seorang ulama besar. Beliau, sebagai seorang wali santri, merasa bahwa guru ini ndak bener. Dia tawādhu‘ tidak pada tempatnya. Beliau bahkan menganggapnya musytahīn bi al-Qur’ān, meremehkan al-Qur’an. Tidak menghargai al-Qur’an dengan “harga yang tinggi.”
Kalau dipikir-pikir lagi, ekspresi suka dan cinta itu memang bebas. Selama tidak melanggar syariat, ya sah-sah saja. Ada orang yang cukup mengekspresikan cintanya kepada kiai dengan mencium tangan. Ada yang dengan rutin sowan. Ada pula yang memilih cara lain seperti membangunkan rumah, membelikan kendaraan, atau sekadar “salam templek” tiap kali berjabat tangan. Wong duit itu ya duitnya dia. Terserah dia mau dipakai untuk apa, asal halal. Apa iya kita berhak mengatur bagaimana orang mengekspresikan rasa cintanya kepada orang saleh?
Lagi pula, kiai yang betul-betul kiai—yang saleh, yang bertakwa, yang istikamah—tidak akan mudah goyah hanya karena amplop. Amalan hati itu tidak bisa diukur dengan apa yang tampak di luar. Jangan-jangan, justru mereka yang sibuk berprasangka itu yang hatinya sedang keropos. “Kalau ada kiai naik Alphard bagaimana?” Ya biar saja tho. Apa lantas derajat ilmunya turun gara-gara Alphard? Mbok ya jangan hasud begitu lah.
Di sini, penting untuk mengingat lagi apa yang ditekankan oleh Imām al-Sya’rānī diatas. Kalau di zaman dulu saja orang saleh bisa “nyangoni” orang saleh lainnya, kenapa kok kita yang modern ini malah minder memberi hanya karena takut disebut riya’, takut dituduh transaksional? Jangan-jangan, alih-alih menjaga keikhlasan, kita justru sedang terjatuh pada sikap meremehkan ilmu. Persis seperti kritik Abū Zayd kepada guru Qur’an tadi, tawadhu‘ yang salah tempat, hingga jatuhnya malah merendahkan martabat ilmu itu sendiri.
Masalahnya, kita juga sering punya standar ganda. Kalau ada kiai dapat uang, langsung dianggap buruk. Katanya, “wah, agamanya ditukar dengan dunia.” Tapi kalau ada artis, selebgram, atau bahkan orang yang kerjanya maksiat jelas-jelas pamer kekayaan, kita anggap normal-normal saja. Tepuk tangan, like, subscribe. Mbelgedhes! Kok bisa-bisanya ulama yang hidupnya dicurahkan untuk ilmu malah dipandang dengan tatapan sinis ketika mendapat rezeki.
Mari kita pakai logika sederhana. Kiai itu tidak minta-minta. Tidak keliling mengemis. Mereka belajar bertahun-tahun, mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya. Lalu mereka mengajarkan ilmu itu kepada masyarakat. Bukankah itu juga “kerja”? Bedanya, kerja mereka bukan di kantor, bukan di pabrik, tapi di masjid, di pesantren, di majelis ilmu. Memangnya kita kuat, rela tidak bekerja seperti kebanyakan orang, lalu hidup hanya untuk belajar dan mengajar yang butuh ongkos seabrek itu? Kalau merasa gampang, coba saja jalani.
Jadi, salah besar kalau ada yang mengira setiap amplop adalah gratifikasi duniawi. Kadang justru sebaliknya. Ia adalah simbol penghormatan pada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang itu sendiri—ilmu.
Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar