Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Tidak Seberat Itu

Kita sering membayangkan sebuah pekerjaan begitu sulit, bahkan sebelum memulainya. Rasanya sudah berat, padahal baru sebatas bayangan di kepala. Entah mengapa, pikiran kita punya kebiasaan memperbesar (dan memperburuk) sesuatu yang belum tentu terjadi. Akhirnya, kita capek duluan, padahal tubuh bahkan belum bergerak.

Al-Mutanabbī, seorang sastrawan Arab kondang tempo dulu, pernah menulis satu bait yang menurut saya sangat menggambarkan keadaan ini. “Kullu mā lam yakun min al-ṣa‘ab fī al-anfusi, sahl fīhā iżā huwa kānā,” begitu ucapnya. Jika diterjemahkan bebas, artinya “segala sesuatu yang tidak terasa sulit bagi jiwa, akan menjadi ringan ketika benar-benar terjadi.”

Melalui satu bait ini, al-Mutanabbī seolah ingin mengatakan bahwa banyak beban lahiriah sebenarnya terasa berat hanya karena jiwa kita belum siap. Ada semacam mental block yang menghambat pikiran kita, sehingga kondisi jiwa seakan tidak pernah siap. Padahal, ketika dihadapkan dengan keadaan yang memaksa kita siap, semuanya akan terjadi begitu saja.

Kalau kita mau jujur, sebenarnya rasa malas dan rasa takut itulah yang biasanya lebih besar dari pekerjaan itu sendiri. Menulis satu halaman, misalnya. Selama berjam-jam kita bisa menundanya, membayangkan betapa susahnya merangkai kata-kata. Namun, ketika akhirnya menulis, sepuluh menit saja bisa menghasilkan beberapa paragraf. Inilah kenyataannya, terkadang pekerjaan yang kita lakukan tidak seberat itu.

Di titik ini, kita bisa belajar bahwa keteguhan jiwa ternyata lebih sering dikoyak oleh pikiran kita sendiri daripada oleh kenyataan. Pikiran itulah yang mengajak kita untuk terus menunda, berandai-andai, dan berulang kali memproyeksikan kegagalan sebelum mencoba. Padahal, begitu langkah pertama diambil, semuanya berjalan biasa saja. Kadang malah kita terheran-heran sendiri, “lho kok cuma begini?”

Saya tidak menafikan kesulitan yang akan hadir setelah kita mengambil langkah pertama. Kesulitan pasti ada. Tapi, kesulitan yang dihadapi setelah kita melangkah adalah kesulitan yang nyata. Ia bukanlah “drama” yang kita buat-buat sendiri. Setidaknya, melawan sesuatu yang nyata dan benar-benar ada di hadapan kita jauh lebih mudah daripada melawan sesuatu yang sebenarnya tidak ada, kan?

Maka, jika suatu saat kita kembali menghadapi kekalutan pikiran lagi, ingat-ingat saja mantra ini:

Suatu perkara itu terasa berat bagi jiwa hanya sebelum terjadinya. Jika sudah terjadi, maka ia menjadi (lebih) ringan.

Semoga dua baris mantra ini bisa membantu. Kalaupun tidak, ya tidak apa-apa. Namanya juga mantra, kadang ya mujarab, kadang ya tidak hehe.

Tabik,
Ibnu

* Tulisan ini telah saya publish di Medium pada 24 September 2024

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts