Menjadi umat Nabi Muḥammad Saw adalah bentuk karunia yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Tapi kita sering lupa, bahwa kita menjadi bagian dari umat beliau itu bukanlah soal kepintaran. Bukan pula karena orang tua kita saleh, pun tidak juga karena guru atau kiai kita alim. Kita bisa menapaki jalan ini —Islam— semata-mata karena diberi hidayah oleh Allah. Dan hidayah itu, meskipun bisa diusahakan, hakikatnya bukanlah hasil usaha manusia. Ia sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah, hanya Dia yang berhak memberi kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya —yahdī man yasyā’.
Seumpama iman itu bisa diperoleh dengan modal kedudukan, kedekatan, dan kecerdasan, mestinya Abū Lahab tidak akan tersesat. Siapa yang lebih dekat dengan Nabi selain dirinya? Ia paman Nabi, sedarah dengan Sayyidunā ʿAbdullāh, ayahanda beliau. Ketika Nabi lahir, yang membawa kabar gembira justru budaknya sendiri. Saking bahagianya, budak itu langsung dimerdekakan oleh Abū Lahab. Begitu besar rasa senangnya terhadap kelahiran Rasulullah Saw, hingga tampak mustahil orang seperti itu kelak menjadi penentang beliau.
Tapi begitulah kenyataannya. Ketika Nabi mulai berdakwah dan mengajak keluarganya untuk beriman, Abū Lahab-lah yang pertama menolak dengan terang-terangan. Bukannya tidak paham, tapi memang karena ia tidak diberi hidayah.
Hidayah tidak bisa diwariskan, tidak bisa dibeli, dan tidak bisa dipaksakan. Kita bisa mencari sebab-sebab hidayah itu, tapi kewenangannya tetap mutlak milik Allah Swt. Bahkan, seseorang yang hidup serumah dengan Nabi pun tidak akan mendapatkannya bila Allah tidak berkehendak. Kita bisa lihat kasus-kasus istri Nabi Luth dan Nuh mengenai hal ini.
Maka, kalau hari ini kita masih bisa beriman, masih mengucap shalawat, masih tersentuh ketika mendengar nama Rasul, syukurilah sungguh-sungguh. Itu bukan karena kehebatan kita, tapi karena Allah telah memilih kita—di antara sekian banyak orang yang tidak mendapat bagian dari hidayah-Nya.
Tabik,
Ibnu
* Ditulis setelah mendengarkan pengajian KH. Mustofa Bisri di Youtube

Tinggalkan komentar