Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Manusia yang Paling Baik Akhlaknya

Anas bin Malik adalah sahabat yang betul-betul mengenal seluk-beluk kehidupan Nabi Saw. Di antara sekian banyak sahabat, beliau termasuk yang paling banyak meriwayatkan hadis. Imam al-Suyuthi bahkan menempatkannya sejajar dengan Abu Hurairah, Ibn ‘Umar, Ibn ‘Abbas, Abu Sa‘id al-Khudri, Jabir, dan Siti Aisyah. Mereka adalah para sahabat yang juga menjadi sumber utama periwayatan hadis Nabi Saw —yang paling banyak riwayatnya.

Bagaimana tidak, ketika Rasulullah tiba di Madinah, Ummu Sulaym (ibunda Anas) segera “menyowankan” putranya yang saat itu masih berusia sepuluh tahun. Ummu Sulaym matur kepada Nabi Saw, “Wahai Rasulullah, ini adalah Anas, anak yang cerdas dan siap melayanimu.” Sejak saat itu, Anas bin Malik nderek Nabi. Beliau ikut tinggal bersama Nabi Saw selama sepuluh tahun, hingga wafatnya Nabi Saw. Dalam rentang waktu itu, Anas tentu saja melayani Nabi Saw, namun beliau juga menjadi saksi hidup keseharian Rasulullah Saw. Beliau betul-betul merekam bagaimana cara Nabi bertutur, berjalan, menatap, sampai menegur.

Selama masa itu pula, menurut kesaksian Anas, Nabi Saw tidak pernah mengucapkan kata “uff”—ungkapan kecil tanda kesal atau jengkel. Beliau bahkan tidak pernah berkata, “Kenapa kau lakukan ini?” atau “Mengapa tidak kau lakukan itu?” Kesaksian ini direkam oleh Imam Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya.

Coba bayangkan, sepuluh tahun hidup bersama seseorang yang melayani kita, tentu sangat sulit untuk tidak sekali pun menampakkan rasa kesal atau kecewa. Mustahil menutupi semua reaksi spontan manusiawi. Tapi Nabi Saw berbeda. Beliau tidak pernah memarahi, tidak pernah mengubah wajahnya menjadi masam, dan tidak pernah meninggikan suaranya. Inilah akhlak luar biasa beliau yang lembut terhadap murid dan sabar terhadap pelayannya. Beliau menunjukkan kasihnya, tanpa kehilangan kewibawaan.

Apalagi, Anas saat itu masih dalam usia remaja—antara sepuluh hingga dua puluh tahun. Tentu ada masa lalai, terlambat, atau keliru. Namun Rasulullah selalu menanggapinya dengan sabar. Jangankan teguran keras, sekadar “uff” pun tidak pernah keluar dari lisan mulianya. Menurut Imam Nawawi, kata “uff” adalah bentuk paling ringan dari keluh kesah, ekspresi spontan yang muncul dari kejengkelan kecil. Menariknya, bahkan pada kadar yang paling ringan pun, Nabi mampu menahannya. Seolah ingin menunjukkan bahwa akhlak mulia bukan hanya perlu ditampilkan ketika kondisi yang menyulut amarah besar, tapi juga pada hal-hal kecil yang menguji kesabaran.

Begitulah Nabi Saw menata hubungan. Beliau adalah pemimpin, guru, dan panutan umat, tapi kepada seorang anak muda yang menjadi pelayan, beliau memperlakukannya bukan sebagai bawahan, melainkan sebagai keluarga. Beliau menghadirkan kedekatan hati dalam setiap interaksinya, bukan justru menampilkan gap kekuasaan dan kewenangan.

Benarlah testimoni Anas bin Malik ketika menuturkan, “Rasulullah adalah manusia yang paling baik akhlaknya.” Ya, ini adalah pujian, tapi bukan sebatas pujian saja. Ini adalah kesimpulan dari pengalaman hidupnya membersamai Nabi Saw dalam rentang waktu yang panjang. Kebaikan akhlak Nabi tidak hanya terpancar melalui kata, tapi juga dalam lelampah keseharian yang benar-benar bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.

Padahal, masa itu adalah masa ketika perbudakan dan hierarki sosial begitu kuat. Tapi Nabi justru tampil sebagai sosok teladan dalam memanusiakan manusia. Beliau memperlakukan orang lain dengan kelembutan yang konsisten. Imam Nawawi menggambarkan bahwa kesempurnaan akhlak beliau tampak dalam seluruh tindakannya, baik di rumah, pasar, medan perang, dan majelis ilmu. Selalu ada keseimbangan antara kelembutan dan ketegasan. Lembut tanpa kehilangan wibawa, tegas tanpa kehilangan kasih.

Satu hal yang lebih luar biasa lagi, beliau punya kemampuan untuk menampilkan kesempurnaan akhlak seperti itu, ketika memiliki kekuasaan. Beliau punya otoritas penuh atas orang-orang di sekitarnya, tapi justru tidak pernah “menekan” mereka, tidak pula “memanfaatkan” mereka untuk kepentingan beliau. Seandainya pun beliau menginginkannya, pasti para sahabat saling berebut untuk memberikan yang terbaik untuk baginda Nabi.

Cukuplah kesempurnaan akhlak Rasulullah Saw sebagai salah satu mukjizat terbesar kenabiannya. Kita sebagai umatnya pun seharusnya patut berbangga, punya figur pemimpin ber-akhlak mulia. Apakah berbangga saja cukup? Belum. Kita perlu meniru Rasulullah. Barangkali, inilah salah satu sunnah terbesar yang beliau wariskan, karena salah satu misi utama beliau adalah “ndandani” akhlak umat manusia.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi)

Inilah yang perlu kita usahakan. Memperbaiki diri, berlemah lembut kepada orang lain, menunaikan hak-hak orang lain, tidak memancing permusuhan, dan seterusnya. Menghias diri dengan akhlak yang mulia adalah menjalankan sunnah-nya, sekaligus mengharap kedekatan dengan baginda Nabi Saw. Sebagaimana beliau bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi)

Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts