Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Tinggalkan yang Tidak Penting

Nabi Saw pernah bersabda,

“Diantara (tanda) kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak penting baginya.” (HR. al-Tirmiżī)

Mari kita angen-angen (pikirkan) sabda Nabi yang pendek ini. Secara kasat mata, disana ada perintah, atau setidaknya anjuran untuk meninggalkan perkara-perkara yang tidak penting. Namun, penting atau tidak penting ini yang bagaimana? Apa ukurannya?

Menurut Imam Ibn Ḥajar al-Haitamī dalam Fatḥ al-Mubīn, yang dimaksud “penting” di sini adalah hal-hal yang benar-benar terkait dengan kebutuhan hidup dan keselamatan akhirat. Makan sekedarnya ketika lapar, minum untuk menghilangkan dahaga, pakaian untuk menutup aurat —semua itu termasuk yang penting. Begitu juga dengan Islam, iman, dan ihsan. Sisanya? Bisa jadi hanya pengisi waktu yang tidak benar-benar memberi manfaat bagi kita.

Masalahnya, yang tidak penting itu jumlahnya jauh lebih banyak. Jauh lebih menggoda. Dan jauh lebih mudah dikonsumsi. Misalnya, kita bisa menghabiskan berjam-jam scrolling media sosial tanpa sadar, tapi merasa berat untuk duduk lima menit membaca Al-Qur’an. Kita bisa asyik membicarakan urusan orang lain, tapi malas memperbaiki diri sendiri. Kita pun bisa mengerahkan segala daya dan upaya untuk mengejar jabatan, pujian, dan pengakuan, tapi lupa bahwa semua itu tidak akan dibawa mati.

Imam Ibn Ḥajar menegaskan, orang yang membatasi diri hanya pada yang penting akan selamat dari berbagai bencana. Entah itu dalam bentuk gosip, konflik, pamer, dan semua jenis pemborosan waktu. Ia akan terjaga dari hal-hal yang merusak hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Hidupnya jadi lebih ringan, karena ia tidak lagi terbebani oleh urusan yang tidak perlu.

Tentu saja ini bukan berarti kita harus hidup seperti robot yang hanya bekerja dan beribadah. Bercanda boleh, istirahat juga perlu, bahkan hobi pun tidak masalah. Persoalan utamanya adalah kadar dan prioritas. Ketika hal-hal yang tidak penting mulai menggeser yang penting, maka disitulah masalah muncul.

Bayangkan jika ada orang yang begitu sibuk mengurusi drama di grup WhatsApp sampai lupa salat. Ada juga yang menghabiskan energi untuk tampil sempurna di media sosial, sementara hubungannya dengan keluarga berantakan. Sedangkan lainnya, terus-menerus mengejar harta dan jabatan, padahal hatinya tetap saja kosong dan gelisah ketika harta serta jabatan sudah di genggaman. Semua itu contoh nyata bagaimana kita sering terjebak pada yang tidak penting.

Lalu, bagaimana caranya memilah mana yang penting dan mana yang tidak? Menurut Imam Ibn Ḥajar, kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah aktivitas ini akan membawa manfaat untuk akhirat atau tidak? Jika jawabannya tidak, atau bahkan meragukan, berarti itu termasuk yang sebaiknya ditinggalkan.

Dalam syarahnya terhadap hadis ini, beliau juga menyinggung hadis lain,

“Rasa malu kepada Allah ialah menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya, menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan mengingat kematian serta kehancuran (tubuh). Maka barang siapa melakukan itu, sungguh ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” (HR. Al-Tirmiżī)

Rasa malu inilah yang bisa mengontrol kita untuk menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia. Maka, siapa yang punya rasa malu kepada Allah, ia akan lebih tahu tentang prioritas hidupnya. Biar bagaimanapun, meninggalkan yang tidak penting bukan hanya soal mengosongkan jadwal atau mengurangi aktivitas. Ini tentang memilih cara hidup yang lebih bermakna, yang tujuannya jelas. Seperti menjaga hubungan dengan Allah, keluarga, amal saleh, dan ilmu yang bermanfaat. Sehingga tidak mudah terjebak dalam pusaran mengejar berbagai hal yang ujung-ujungnya hanya membuat lelah tanpa manfaat yang jelas.

Kalau saja kita mau jujur, banyak hal dalam hidup kita yang sebenarnya tidak penting. Kita hanya terbiasa menganggapnya penting karena semua orang di sekitar kita juga melakukannya. Tapi kebiasaan banyak orang bukan jaminan kebenaran. Kita punya pilihan untuk berbeda dan lebih selektif. Agar kita bisa lebih bijak dalam menggunakan waktu yang terbatas ini.

Makanya, dalam hadis di atas disebutkan bahwa meninggalkan hal yang tidak penting ini termasuk tanda kesempurnaan Islam seseorang. Karena Islam mencakup seluruh amal lahiriyah, baik yang berupa tindakan (menjalankan perintah) maupun menahan diri (meninggalkan sesuatu). Maka, meninggalkan yang tidak berguna termasuk bagian dari Islam, sebut Imam Ibn Ḥajar.

Maka, mulai sekarang, kita perlu sering-sering bertanya pada diri sendiri: apa yang sebenarnya penting bagi saya? Apakah yang sedang saya kejar hari ini akan membawa manfaat di akhirat nanti? Atau hanya sekadar pengisi waktu yang tidak ada manfaatnya sama sekali?

Alā kulli hāl, kita punya kehendak untuk memilih segala tindakan lahiriyah kita. Semuanya kembali pada diri kita masing-masing. Intinya, tinggalkan perkara yang tidak penting. Fokus saja pada yang benar-benar memberikan manfaat bagi kita. Waktu yang terbatas ini terlalu berharga —dan singkat— untuk dihabiskan dengan sia-sia.

Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts