Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Ketika Hari Kiamat Tiba-Tiba Menyapa

Mari kita membayangkan satu pagi yang damai, seperti pagi-pagi kita selama ini. Kita sedang duduk santai menunggu waktu sarapan tiba, eh seketika sesuatu yang dahsyat terjadi. Kita pun tidak sempat bertanya “apa ini?,” apa lagi bersiap-siap. Seketika itu pula, hanya rasa takut yang bisa kita rasakan. Rasa takut yang amat sangat, dibarengi dengan jantung yang berdebar kencang, pandangan yang tiba-tiba buram, dan akal yang tidak bisa bekerja normal seperti biasanya. Kita hanya peduli pada diri sendiri, yang penting selamat.

Itulah gambaran kiamat yang disampaikan oleh Allah Swt dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُم بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya guncangan hari Kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar. Pada hari kamu melihatnya (guncangan itu), semua perempuan yang menyusui melupakan anak yang disusuinya, setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya dan kamu melihat manusia mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Akan tetapi, azab Allah itu sangat keras.” (QS. Al-Ḥajj [22]: 1-2)

Dalam ayat lain, Allah juga menggambarkan betapa mengerikannya hari itu. Saat “suara yang memekakkan” datang, manusia akan lari meninggalkan saudaranya sendiri, meninggalkan ibunya, bapaknya, bahkan istri dan anak-anaknya. Setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri.

Kengerian ini memang akan kita alami. Entah kita masih hidup saat kiamat terjadi, atau sudah meninggal lalu dibangkitkan dari kubur dan digiring menuju padang mahsyar. Tidak ada seorang pun yang punya kuasa untuk menghindar.

Sayangnya, kita sering lalai. Hidup nyaman sehari-hari membuat kita lupa bahwa ada hari dimana semua ini akan berakhir. Kita sibuk mengejar ini-itu, padahal ujungnya ya sama saja. Semua akan kembali kepada Allah.

Maka dari itu, orang yang berakal adalah mereka yang menjadikan kiamat sebagai pengingat. Dengan mindset itu, hidup tidak lagi dijalani secara sembarangan. Mereka tahu bahwa kiamat pasti datang, jadi mereka mempersiapkan bekal dari sekarang. Bekalnya bukan harta atau jabatan, tapi amal saleh dan takwa. Watazawwadū, fa inna khayra al-zād al-taqwā, wattaqūnī yā ulī al-albāb —Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.

Amal saleh dan ketakwaan inilah yang akan meringankan ketakutan kita saat kiamat tiba. Bahkan, bisa jadi amal saleh dan ketakwaan itu memberikan rasa “ayem,” alias rasa tenang dan damai bagi kita, di hari yang penuh kengerian itu. Kalau sudah begitu, kebahagiaan abadi bukan lagi mimpi.

Jadi, sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk hari itu?

Hari kiamat itu pasti datang, yang tidak pasti adalah kesiapan kita untuk menghadapinya.

Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.