Nabi ﷺ tidak menyambut Ramadan secara tiba-tiba. Beliau mempersiapkan diri jauh sebelum bulan itu tiba—baik secara ruhani maupun jasmani. Barangkali, ini adalah salah satu pelajaran penting dari segmen kehidupan Nabi yang jarang kita highlight. Kenapa? Karena umumnya kita menganggap Ramadan seperti tamu yang datang mendadak, dengan seloroh seperti “eh, udah puasa lagi aja nih.” Padahal kita semua juga sudah tahu, bahwa bulan ini akan datang sejak setahun yang lalu.
Galibnya, kita adalah manusia yang lalai —dan sering melalaikan diri. Mungkin karena itu pula Allah mengaruniakan porsi rahmat-Nya dalam berbagai momen yang kita lalui sepanjang hidup. Seolah Allah tidak membiarkan hamba-Nya tanpa kesempatan untuk mendekat kepada-Nya. Sepanjang tahun, berbagai pintu rahmat itu terus terbuka dalam berbagai bentuknya. Dalam hitungan harian, ada salat Subuh dan Isya yang disaksikan oleh para malaikat, serta waktu-waktu mustajab setelah setiap salat fardu. Dalam hitungan mingguan, ada hari Jumat dengan sā‘ah al-istijābah-nya yang tersembunyi, dimana doa pada waktu itu tidak tertolak. Dalam hitungan bulanan, ada bulan-bulan haram (Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab), Sya’ban, dan puncaknya adalah Ramadan.
Rahmat Allah berembus dan terus mengalir tanpa henti bagi siapa saja yang mau menghadapkan dirinya kepadanya. Entah ini berkah atau musibah, berkah karena ternyata Allah menyediakan begitu banyak jalan agar kita mendekat kepada-Nya, atau musibah karena banyaknya jalan itu rupanya tidak membuat kita bergerak barang sedikitpun.
Nabi sendiri adalah orang yang paling tekun menghadapkan diri kepada embusan-embusan rahmat ini. Tidak ada manusia yang lebih taat beribadah daripada beliau. Di siang hari, beliau menjaga salat-salat dan dzikir-dzikir yang diajarkannya. Di malam hari, beliau berdiri hingga kedua kakinya bengkak, bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang tidak ada seorang pun mengetahui kadar syukur yang sempurna untuknya kecuali Allah sendiri. “Afalā akūnu ‘abdan syakūra?“, ucap beliau. Bahkan, beliau masih membiasakan diri berpuasa di hari Senin dan Kamis, dan terkadang menyambung puasa beberapa hari berturut-turut. Beliau juga mempersiapkan diri untuk hari Jumat dan mengajarkan para sahabatnya untuk melakukan hal yang sama.
Adapun persiapan beliau untuk Ramadan, dimulai sejak bulan Rajab. Ketika Rajab tiba, perhatian beliau mulai tertuju kepada Ramadan yang tinggal dua bulan lagi. Lalu ketika Sya’ban masuk, beliau berpuasa hampir sepanjang bulan, dengan hanya menyisakan beberapa hari saja untuk tidak berpuasa. Para sahabat sampai mengira bahwa beliau tidak akan berbuka di bulan itu karena begitu intensnya beliau berpuasa. Ini semua adalah persiapan untuk menyambut Ramadan, agar ketika bulan itu tiba, ruh dan jasad sudah dalam kondisi siap untuk beribadah dengan optimal. Bandingkan dengan kita, apa yang kita persiapkan untuk menyambut bulan ini selain bertambahnya kelalaian?
Lalu ketika Ramadan benar-benar datang, beliau mencurahkan seluruh kemampuannya untuk beribadah. Berbagai jenis ibadah: dzikir, doa, tilawah, sedekah, salat malam—semuanya dilakukan dengan intensitas yang tidak ditemukan di bulan-bulan lain. Namun yang paling menakjubkan adalah sepuluh malam terakhir. Di saat kebanyakan orang mulai kelelahan dan menurunkan ritme ibadahnya, beliau justru meningkatkannya. Beliau “mengencangkan” sarungnya, menghidupkan malamnya, dan menggerakkan keluarganya. Semua itu untuk mengejar lailatulkadar, sekaligus menunjukkan kepada umatnya bagaimana seharusnya malam-malam itu dihidupkan.
Inilah potret Nabi ﷺ dalam menyambut dan menjalani Ramadan. Beliau tidak menunggu Ramadan tiba baru mulai bersiap-siap. Persiapan itu sudah dimulai berbulan-bulan sebelumnya. Dan ketika Ramadan berlangsung, beliau tidak membiarkan satu pun malam atau siang berlalu tanpa diisi dengan ibadah yang maksimal. Bagi kita yang mengaku sebagai umatnya, tidak ada pilihan lain kecuali meneladani beliau. Akses pada Sirah beliau sudah mudah. Hadis-hadis beliau sudah sampai kepada kita. Al-Qur’an yang menjadi mukjizat beliau masih ada di tangan kita. Maka, apa lagi yang tersisa selain kemauan untuk mengikuti jejak beliau? Jikapun masih terasa berat, setidaknya mari kita tampakkan sedikit saja kesungguhan untuk menunaikan hak beliau atas kita: penghormatan, pengagungan, dan yang terpenting, ketaatan.
Allahumma salli ‘ala sayyidina Muhammad
Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar