Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Pandangan Allah Kepada Hamba-Nya di Malam Pertama Bulan Ramadan

Malam pertama Ramadan memiliki nama khusus, yaitu Lailat al-Naẓrah—Malam Pandangan. Nama ini berasal dari hadis yang menyebutkan bahwa ketika malam pertama Ramadan tiba, Allah memandang kepada hamba-hamba-Nya. Dan siapa yang dipandang Allah, tidak akan diazab selama-lamanya.

Nabi ﷺ bersabda bahwa umat beliau diberikan lima hal di bulan Ramadan yang tidak diberikan kepada umat nabi mana pun sebelumnya. Ini adalah keistimewaan yang datang melalui perantaraan beliau, karena sebagaimana sabda beliau sendiri: “Innamā anā qāsim wallāhu yu’ṭī”—aku hanyalah qāsim (pembagi), dan Allah-lah yang memberi. Kedudukan seorang nabi terlihat dari apa yang diterima umatnya, dan betapa tinggi kedudukan Nabi Muhammad ﷺ hingga umatnya menerima pemberian sebesar ini.

Pemberian pertama adalah pandangan Allah di malam pertama Ramadan. Ketika Allah memandang seorang hamba dengan pandangan kasih sayang, pandangan rahmat, dan pandangan pemberian, hamba itu tidak akan merasakan azab—baik di dunia maupun di akhirat. Azab di sini bukan hanya siksaan neraka. Kesempitan adalah azab, kemiskinan yang mencekik juga merupakan bentuk lain dari azab, hingga kebutuhan yang tidak terpenuhi dan perasaan selalu kekurangan, juga merupakan azab. Ketika Allah sudah memandang seseorang dengan pandangan rahmat-Nya, semua bentuk azab ini terangkat darinya.

Sa’d bin ‘Ubadah, pemimpin kaum Anshar, bermunajat dengan doa yang sangat indah terkait hal ini. Ia berucap, “Allāhumma innaka ta’lamu annī lā aṣluḥu li al-faqr wa lā yaṣluḥu al-faqru lī, fa aghnini bi ḥalālika ‘an ḥarāmik, wa bi ṭā’atika ‘an ma’ṣiyatik, wa bi faḍlika ‘amman siwāk”—Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku tidak cocok untuk kemiskinan dan kemiskinan tidak cocok untukku, maka cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu dari yang haram, dengan ketaatan kepada-Mu dari kemaksiatan, dan dengan karunia-Mu dari selain-Mu.

Doa ini bukanlah doa orang yang tamak pada dunia. Ini adalah doa orang yang memahami bahwa hanya kecukupan dari Allah lah yang dapat menjaga kehormatan seorang hamba. Ketika Allah membuka pintu rezeki-Nya, seorang hamba tidak perlu mengulurkan tangan kepada selain-Nya. Ia tidak pula perlu untuk menundukkan kepala kepada makhluk dan tidak perlu merasa bergantung pada siapa pun selain Penciptanya. Sa’d bin ‘Ubadah sendiri menjadi bukti terkabulnya doa ini, dengan fakta bahwa setiap hari minimal ada delapan puluh tamu yang datang dan makan di rumahnya. Allah membuka rizki itu untuknya, melalui dirinya, hingga meluas bagi sekelilingnya.

Pemberian kedua adalah malaikat yang memohonkan ampunan bagi orang-orang yang berpuasa. Sepanjang hari kita menahan lapar dan dahaga, para malaikat di langit sedang berdoa untuk kita. Mereka yang tidak pernah bermaksiat memohonkan ampunan bagi kita yang penuh dosa. Ini adalah kehormatan yang luar biasa besar.

Pemberian ketiga adalah seruan Allah kepada surga, “Yā jannatī tazayyanī li ‘ibādī, awshakū an yastarīḥū min ‘anā’ al-dunyā ilā jannatī wa dāri karāmatī”—wahai surga-Ku, berhiaslah untuk hamba-hamba-Ku, mereka hampir beristirahat dari kepayahan dunia menuju surga-Ku dan negeri kemuliaan-Ku. Surga sedang mempersiapkan diri untuk kita. Ia berhias menunggu kedatangan orang-orang yang berpuasa. Dunia dengan segala kelelahannya adalah perjalanan sementara, dan surga adalah tempat peristirahatan abadi yang telah menanti kita.

Pemberian keempat adalah bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kasturi. Bau yang mungkin tidak sedap menurut ukuran manusia justru menjadi wewangian terindah di sisi Allah. Ini karena bau itu adalah bukti pengorbanan, tanda bahwa seorang hamba telah rela menanggung ketidaknyamanan demi menjalankan perintah Tuhannya.

Pemberian kelima adalah pembebasan dari neraka di setiap malam Ramadan. Allah memiliki hamba-hamba yang Dia bebaskan dari neraka setiap malam di bulan ini, dan ketika tiba malam terakhir Ramadan, Dia membebaskan sebanyak yang Dia bebaskan sepanjang bulan itu. Malam terakhir menjadi malam pembebasan massal, malam penghapusan dosa secara besar-besaran.

Dari kelima pemberian ini, kita bisa melihat bahwa Ramadan memiliki tiga malam yang sangat istimewa. Malam pertama adalah Malam Pandangan—ketika Allah memandang hamba-hamba-Nya. Kemudian ada Malam Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Dan terakhir adalah malam terakhir Ramadan—Malam Pahala, ketika Allah memberikan ganjaran kepada orang-orang yang telah berpuasa.

Jika malam pertama sudah berlalu, masih ada dua malam istimewa yang menanti. Jangan sampai keduanya terlewatkan begitu saja. Malam-malam ini adalah kesempatan yang tidak datang dua kali dalam setahun. Ia datang sekali, dan siapa yang melewatkannya, ia harus menunggu setahun penuh untuk mendapatkan kesempatan serupa.

Ketika Allah memandang seorang hamba, mustahil hamba itu merasa asing di dunia ini. Mustahil ia merasa sesak dan sempit. Mustahil ia merasa miskin dalam arti yang sebenarnya, karena kekayaan sejati adalah ketika hati merasa cukup dengan Allah. Orang yang sudah dipandang Allah tidak akan menengadahkan tangan kecuali kepada-Nya, tidak akan menundukkan kepala kecuali kepada-Nya, dan tidak akan takut kecuali kepada-Nya. Inilah kemerdekaan sejati yang menjadi buah dari pandangan kasih sayang Allah di malam pertama Ramadan.

Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts