Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Puasanya Orang Pamitan

Nabi ﷺ pernah bersabda: “Ṣallū ṣalāta muwaddi’”—salatlah seperti orang yang berpamitan. Maksudnya, salatlah seolah-olah itu adalah salat terakhirmu. Orang yang sedang salat Zuhur tidak memiliki jaminan bahwa ia akan sempat salat Asar. Hidup bisa berakhir kapan saja.

Prinsip yang sama juga berlaku untuk Ramadan. Siapapun yang sedang menjalani Ramadan tahun ini, tidak memiliki jaminan bahwa ia akan bertemu Ramadan tahun depan. Maka seharusnya ia menjalani Ramadan ini seperti orang yang sedang berpamitan, yakni dengan kesungguhan seseorang yang tidak akan menjumpainya lagi.

Nabi ﷺ bersabda di akhir bulan Sya’ban:

أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرُ بَرَكَةٍ، يَغْشَاكُمُ اللهُ فِيهِ، فَيُنْزِلُ الرَّحْمَةَ، وَيَحُطُّ الْخَطَايَا، وَيَسْتَجِيبُ فِيهِ الدُّعَاءَ، ويباهي بكم ملائكته، يَنْظُرُ اللهُ إِلَى تَنَافُسِكُمْ فِيهِ، فَأَرُوا اللهَ مِنْ أَنْفُسِكُمْ خَيْرًا، فَإِنَّ الشَّقِيَّ مَنْ حُرِمَ فِيهِ رَحْمَةَ اللهِ

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan keberkahan. Allah meliputi kalian di dalamnya, menurunkan rahmat, menghapus kesalahan, mengabulkan doa, dan membanggakan kalian kepada malaikat-Nya. Allah melihat perlombaan kalian di dalamnya, maka tunjukkanlah kepada Allah kebaikan dari diri kalian. Sesungguhnya orang yang celaka adalah yang terhalang dari rahmat Allah di bulan ini.” (HR. Thabarani)

Mari kita perhatikan kalimat terakhir yang disebutkan setelah keutamaan-keutamaan yang berpotensi kita dapatkan dalam bulan Ramadan, “fa inna al-syaqiyya man ḥurima fīhi raḥmatallāh”—orang yang celaka adalah yang terhalang dari rahmat Allah di bulan Ramadan. Mengapa disebut celaka? Karena rahmat di bulan ini begitu melimpah sehingga orang yang gagal mendapatkannya pasti memiliki masalah serius dalam dirinya.

Maka kita perlu memahami hubungan kita dengan Ramadan. Mari bayangkan seseorang memberi kita hadiah yang sangat berharga. Apa yang layak kita lakukan ketika disodorkan hadiah seperti itu? Tentu saja menerimanya dengan senang hati dan menggunakannya dengan baik. Menolaknya atau mengabaikannya adalah bentuk ketidaksopanan yang agaknya sulit dimaafkan.

Ramadan adalah hadiah dari Allah. Di dalamnya ada lailatulkadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Seribu bulan itu setara dengan 83 tahun plus plus—lebih panjang dari usia kebanyakan manusia. Satu malam saja, jika bertepatan dengan lailatulkadar dan diisi dengan ibadah yang benar, pahalanya berpotensi melebihi ibadah seumur hidup kita.

Lalu bagaimana jika seseorang melewatkan malam-malam itu dengan hal-hal yang tidak penting? Bukankah itu seperti menolak hadiah yang sudah disodorkan kepadanya? Bukankah itu bentuk ketidaksopanan kepada Pemberi hadiah?

Lailatulkadar berada di salah satu malam ganjil pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Bisa malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, atau ke-29. Tidak ada yang tahu pasti malam yang mana. Oleh karena itu, Nabi ﷺ beri’tikaf di sepuluh malam terakhir untuk memastikan beliau tidak melewatkannya.

Bagi yang tidak mampu beri’tikaf, minimal ia memperlakukan sepuluh malam terakhir ini sebagai zona darurat. Dari Maghrib hingga Subuh, sebaiknya jangan ada urusan dunia yang boleh mengganggunya. Undangan makan malam bisa ditunda. Bersosial yang tidak penting-penting amat bisa dijadwalkan ulang. Hiburan bisa ditinggalkan sama sekali. Sepuluh malam ini terlalu berharga untuk dikorbankan demi hal-hal yang bisa dilakukan di waktu lain.

Nabi ﷺ bersabda bahwa Jibril mendoakan kecelakaan bagi orang yang mendapati Ramadan namun tidak diampuni. Jibril tidak menyebutkan syarat-syarat yang rumit. Ia tidak berkata: “Barang siapa mendapati Ramadan lalu tidak melakukan ini dan itu, namun tidak diampuni…” Ia hanya berkata: “Barang siapa mendapati Ramadan namun tidak diampuni.” Seolah-olah sekadar mendapati Ramadan saja sudah cukup untuk mendapatkan ampunan, karena begitu banyak pintu ampunan yang terbuka di bulan ini.

Ada sebuah perumpamaan yang layak untuk kita renungkan, tentang seekor ikan tua dan para ikan muda. Suatu waktu, seekor ikan tua melihat ikan-ikan muda berenang menuju umpan yang mengambang di air. Ia memperingatkan mereka: “Jangan dimakan. Itu bukan makanan biasa. Di dalamnya ada kail yang tersembunyi, dan kail itu terhubung dengan tali pancing, dan tali pancing itu dipegang oleh pemancing di atas sana. Kalau kalian memakannya, kalian akan tersangkut dan ditarik keluar.”

Ikan-ikan muda menertawakannya. Mereka tidak melihat kail. Mereka tidak melihat tali. Mereka tidak percaya ada kehidupan di luar air. Bagi mereka, umpan itu hanyalah makanan lezat yang kebetulan mengapung. Maka mereka berebut memakannya, dan satu per satu mereka tersangkut dan ditarik ke atas.

Ketika sudah berada di atas, barulah mereka melihat segalanya dengan jelas. Rupanya ada si pemancing, istrinya, anaknya, sampai kucingnya yang tak sabar menunggu tulang-tulang mereka, dan penggorengan yang sudah panas. Tapi sudah terlambat. Mereka tidak bisa kembali untuk memperingatkan yang lain.

Dunia ini penuh dengan umpan-umpan yang tampak menggiurkan. Kesenangan yang ditawarkannya terlihat nyata, sementara bahayanya tersembunyi. Orang-orang yang sudah meninggal dunia kini melihat segalanya dengan jelas. Mereka tahu persis nilai setiap Ramadan yang pernah mereka lalui. Mereka tahu persis harga setiap malam yang mereka sia-siakan. Tapi mereka tidak bisa kembali untuk memberitahu kita.

Oleh sebab itu, mari kita lalui Ramadan ini dengan perencanaan yang baik. Ramadan bukan bulan untuk mengalir begitu saja tanpa arah. Ia membutuhkan rencana yang jelas. Berapa juz al-Qur’an yang akan dibaca setiap hari? Salat sunnah apa saja yang akan dijaga? Sedekah berapa yang akan dikeluarkan? Kebiasaan buruk apa yang akan ditinggalkan?

Tiga juz sehari adalah target yang realistis untuk kebanyakan orang. Dengan kecepatan baca normal, itu membutuhkan sekitar satu setengah jam. Dalam sebulan, itu berarti tiga kali khatam. Bagi yang sudah terbiasa membaca al-Qur’an setiap hari sepanjang tahun, tentu bisa lebih dari itu.

Namun yang lebih penting dari kuantitas adalah konsistensi. Orang yang membaca satu juz setiap hari selama sebulan penuh lebih baik daripada orang yang membaca sepuluh juz di awal bulan lalu berhenti total di pertengahan. Ramadan adalah maraton, bukan sprint. Yang dibutuhkan adalah stamina, daya juang, dan mentalitas yang mumpuni untuk menjaga ritmenya hingga garis finish.

Dan jangan lupa bahwa Ramadan juga bulan untuk memperbaiki akhlak, bukan hanya menambah ibadah ritual semata. Orang yang berpuasa seharusnya menjadi lebih sabar, lebih lembut, dan lebih mudah memaafkan. Jika puasanya justru membuatnya lebih mudah marah dan lebih sulit diajak bicara, barangkali ada yang salah dengan caranya berpuasa.

Jika kita tilik generasi salaf, mereka memiliki hubungan yang sangat intens dengan Ramadan. Mereka berdoa enam bulan sebelum Ramadan agar dipertemukan dengannya, lalu berdoa enam bulan setelahnya agar amal mereka diterima. Sepanjang tahun, hati mereka tidak pernah lepas dari Ramadan.

Kita mungkin tidak bisa mencapai level seperti itu. Tapi minimal kita bisa memulai Ramadan dengan tekad yang sungguh-sungguh dan mengakhirinya dengan harapan yang besar. Tekad untuk menunjukkan kepada Allah versi terbaik dari diri kita. Harapan agar Allah menerima apa pun yang mampu kita persembahkan, meskipun itu masih jauh dari kata sempurna.

Semoga Allah tidak mengeluarkan kita dari Ramadan kecuali dalam keadaan sudah diridhai dan diampuni. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang menjalani Ramadan seperti orang yang berpamitan—dengan kesungguhan penuh, tanpa penyesalan di kemudian hari.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts