Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Waktu yang Terlupa dan Sisa Hidup yang Terbuang

Siapa dari kita yang luput dari jerat lupa dan lalai? Pagi menjelang hanya dilewati dalam kelalaian, seolah waktu yang terhidang adalah persediaan tak berujung. Malam tiba, menjadi satu tarikan panjang dalam tidur yang membuai, menutup mata dari segala upaya dan perjuangan. Kita seolah berjalan di atas bumi tanpa pernah menyadari bahwa kematian, sang akhir yang pasti, adalah tetangga terdekat yang senantiasa menanti. Ia adalah janji yang tak mungkin diingkari, selalu menyertai, bahkan ketika tawa paling riang sedang membahana.

Sungguh, alangkah mirisnya melihat manusia berlelah-lelah mengumpulkan segala sesuatu yang kelak hanya akan mendatangkan penyesalan. Setiap tetes keringat yang jatuh, setiap hela napas yang dihembus, dihabiskan untuk mengejar hal-hal fana yang ujungnya akan kita benci kelak di kemudian hari. Kita terlampau sibuk membangun istana ilusi dan menjunjung tinggi segala pencapaian duniawi, padahal semua itu akan berakhir menjadi beban yang memberatkan saat tirai keabadian dibukakan.

Pola hidup semacam ini tak ubahnya seperti seekor hewan ternak yang hanya mengenal makan, tidur, dan mengikuti nalurinya tanpa pernah mengerti makna dari kehidupan yang sedang ditempuhnya. Mengapa kita yang dianugerahi akal dan nurani, justru memilih hidup dalam kerangkeng kekeliruan yang kita ciptakan sendiri?

Para bijak terdahulu telah berbisik, mengingatkan kita tentang hakikat waktu dan tipu daya dunia yang begitu memikat. Mereka berujar, dengan untaian kata yang menyentuh relung jiwa,

نَهارُك يا مَغْرُورُ سَهْوٌ وغَفْلَةٌ … ولَيْلُكَ نومٌ، والرَّدَى لك لازمُ
وتتعب فيما سوف تَكرَهُ غِبَّهُ … كَذَلِكَ في الدُّنيا تعيشُ البَهَائِمُ

“Wahai insan yang tertipu, siangmu adalah abai dan lalai, dan malammu adalah tidur semata; sedangkan kehancuran telah pasti menyertaimu. Engkau bersusah payah demi sesuatu yang kelak akan kau benci akibatnya, seperti itulah di dunia ini hidupnya para hewan.”

Betapa pedihnya teguran itu merongrong kesombongan kita yang selalu merasa punya kendali penuh atas hari esok. Inilah cerminan betapa timpangnya prioritas hidup yang selama ini kita jalani. Kita menukar waktu berharga yang seharusnya digunakan untuk memuliakan diri, dengan tumpukan kesibukan yang sia-sia, dan semua itu dilakukan dengan kesadaran penuh akan konsekuensinya.

Maka, sudah waktunya bagi kita untuk menengok ke dalam diri. Berapa banyak dari waktu kita yang benar-benar kita gunakan untuk kebaikan sebagai bekal di hari akhir, dan bukan sekadar menuruti tuntutan ego yang tak pernah merasa cukup? Kita perlu sadar bahwa setiap detik yang terlewat tidak akan pernah kembali, dan setiap usaha yang kita lakukan harus memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada sekadar memuaskan hawa nafsu sesaat. Oleh sebab itu, jadikanlah setiap hembusan napas sebagai saksi dari kesungguhan kita dalam menjalani hidup ini, agar penyesalan tidak menjadi kado pahit yang harus kita terima di penghujung hari. Jadi, perbanyaklah saksi yang kelak akan meringankan tuntutan di pengadilan akhir.

Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts