Telinga kita mungkin sudah sangat familiar dengan rangkaian kalimat subḥāna rabbika rabbi al-‘izzati ‘ammā yashifūn, wa salāmun ‘alā al-mursalīn, wa al-ḥamdu lillāhi rabb al-‘ālamīn, terutama dalam penutup doa-doa yang dibaca secara berjamaah. Saya sendiri melazimkan untuk menutup doa dengan membaca kalimat-kalimat ini, yang semulanya berasal dari tiga ayat penutup QS. Al-Shāffāt,
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Maha Suci Tuhanmu, Tuhan pemilik kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan. Selamat sejahtera bagi para rasul. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Shāffāt [37]: 180-182)
Lalu, kenapa saya, dan kebanyakan ulama kita juga menutup rangkaian doa dengan tiga kalimat ini?
Terdapat sebuah riwayat dari Abu Sa’id al-Khudrī, bahwa Rasulullah ﷺ membaca tiga ayat ini di akhir salatnya atau ketika hendak beranjak. Riwayat ini pun mendapat penilaian beragam dari ahli hadis. Banyak yang melemahkannya, namun juga ada yang menguatkannya. Imam al-Haitsamī menyebut dalam al-Zawā’id bahwa para rijāl dari sanad hadis ini tsiqāt, pun demikian dengan Imam al-Munāwī yang mendukung klaim hasan dari Imam al-Suyūthī dalam Faidh al-Qadīr-nya. Artinya, riwayat ini boleh diterima, setidaknya dengan bertaklid kepada sosok-sosok Imam besar itu. ‘Alā kulli hāl, kebiasaan beliau ﷺ ini tentu menjadi alasan paling kuat mengapa kalimat tersebut kemudian diwariskan sebagai penutup doa dan majlis yang diamalkan oleh para ulama kita. Namun pertanyaan yang lebih perlu ditelusuri adalah mengapa kok tiga ayat ini, dan bukan ayat-ayat lain, yang dipilih oleh Rasulullah ﷺ sebagai penutup itu? Boleh jadi jawaban dari pertanyaan ini tersimpan dalam kandungan tiga ayat itu sendiri, yang ternyata menghimpun tiga kebutuhan terbesar setiap orang berakal dalam menjalani hidupnya.
Surah al-Shāffāt adalah surah yang panjang dan padat. Pembicaraannya bergerak dari penegasan bahwa janji Allah kepada para rasul-Nya telah ditetapkan sejak dahulu, bahwa mereka pasti ditolong dan pasukan Allah pasti menang, sampai pada perintah kepada Rasulullah ﷺ untuk bersabar dan menyaksikan apa yang akan terjadi pada orang-orang yang mendustakan-Nya. Setelah seluruh rangkaian itu selesai, surah ini ditutup dengan tiga kalimat yang merangkum seluruh isinya, dan masing-masing kalimat mewakili satu kebutuhan besar yang menjadi pokok kesempurnaan jiwa manusia.
Kebutuhan pertama adalah mengenal siapa Allah ta’ālā. Pengenalan ini dimulai dengan membersihkan pikiran dari segala gambaran keliru tentang-Nya, karena seseorang yang masih menyimpan gambaran keliru tentang Tuhannya tidak akan bisa membangun pengenalan yang benar terhadap-Nya. Kita perlu menyucikan-Nya dari penyerupaan dengan makhluk serta dari segala deskripsi yang tidak layak bagi-Nya, dan inilah inti dari kata subḥāna yang membuka ayat pertama. Setelah penyucian itu, barulah kita bisa menetapkan sifat-sifat yang memang layak bagi-Nya, yaitu bahwa Dia adalah Tuhan yang mengatur alam semesta dengan kebijaksanaan penuh dan sekaligus memiliki kekuasaan mutlak yang tidak tertandingi. Seluruh kemuliaan adalah milik-Nya, dan apa pun yang tampak dimiliki oleh selain-Nya dari jenis kemuliaan itu, kedudukannya sangat kecil (atau bisa dianggap tidak ada sama sekali secara hakikat) jika dibandingkan dengan milik-Nya.
Konsekuensi dari pemahaman ini adalah bahwa tidak ada ruang bagi kekuasaan lain yang bersifat mandiri di samping kekuasaan-Nya, sehingga keesaan-Nya terbukti dengan sendirinya. Tiga hal ini, yaitu menyucikan-Nya dari kekurangan, menetapkan kesempurnaan bagi-Nya, dan mengesakan-Nya, semuanya terhimpun dalam ayat pertama. Tanpa pengenalan semacam ini, ada kemungkinan besar bahwa kita akan tersesat dalam memahami hubungan kita dengan Tuhan dan dengan seluruh alam semesta.
Kebutuhan kedua adalah mengetahui bagaimana semestinya kita menjalani kehidupan di dunia. Akal manusia, seberapapun ampuh dan tajamnya, tidak pernah cukup untuk menjawab pertanyaan ini sendirian. Kita bisa saja merumuskan prinsip-prinsip moral berdasarkan pengalaman dan penalaran, tetapi sejarah membuktikan bahwa peradaban-peradaban yang paling maju sekalipun tetap terjerembab ke dalam berbagai bentuk kezaliman dan kesesatan ketika mereka hanya mengandalkan akal tanpa bimbingan wahyu. Para filosof Yunani, misalnya, mampu membuktikan keberadaan Tuhan melalui penalaran akal, tetapi mereka kemudian tersesat ketika mencoba memahami sifat-sifat-Nya dan hubungan-Nya dengan makhluk tanpa bimbingan wahyu. Kita membutuhkan para rasul karena merekalah yang membawa bimbingan langsung dari Allah tentang bagaimana seharusnya kehidupan ini dijalani, dan fitrah bawaan kita sendiri sebenarnya telah memandu ke arah yang sama, karena seseorang yang menyadari kekurangannya secara alami akan mencari orang yang lebih sempurna untuk dijadikan teladan.
Kita semua tentu paham bagaimana mekanisme ini bekerja. Simpelnya, ketika kita merasa lemah atau kurang dalam satu bidang tertentu yang kita anggap penting, kita cenderung akan mencari sosok lain yang memiliki keunggulan di bidang itu, dan kita mulai mengaguminya, mendengarkan pesan-pesannya, dan akan mengikuti bahkan meniru apapun yang dilakukannya, dengan harapan agar kita bisa sehebat orang itu. Sampai secara tidak sadar, kita telah “berkiblat” kepadanya. Kondisi kita sendiri, sebelum dan sesudah menemukan sosok teladan ini pasti berbeda, bahkan seandainya pun ia hanya memberikan satu wejangan saja. Kita yang sebelumnya kosong, menjadi ada isinya. Maka sangat tidak wajar kalau kita menafikan peran dan kontribusinya, meski sangat sedikit.
Sekarang mari kita geser pada sosok rasul-rasul yang dikirim Allah Swt kepada kita. Mereka adalah teladan yang menunjukkan kita tentang bagaimana cara mengenal Allah dan sebagainya, bahkan segala tindak-tanduk kita, semuanya dipandu agar tidak terjerumus dalam kesalahan-kesalahan. Mereka telah membimbing kita, baik secara konseptual maupun praktikal. Maka sudah sewajarnya kita mengakui kontribusi mereka dalam hidup kita, dan lebih pantasnya ya mengucap terima kasih sebanyak-banyaknya. Inilah hakikat salām yang disebut dalam ayat 181. Salam yang ditujukan kepada para rasul dalam ayat ini adalah pengakuan atas peran mereka yang tidak tergantikan ini, dan siapa pun yang belum mencapai derajat kesempurnaan mereka semestinya segera berjalan mengikuti jejak mereka.
Terakhir, kebutuhan ketiganya adalah mengetahui bagaimana keadaan kita setelah kematian datang. Tentu saja hal ini tidak bisa dijawab dengan pengalaman langsung karena tidak ada seorang pun yang bisa kembali dari sana untuk melaporkan apa yang ia alami dan saksikan. Namun, kita bisa menjangkau jawabannya melalui pengenalan terhadap sifat-sifat Allah yang sudah dibangun di atas dua kebutuhan sebelumnya. Tujuan akhir dari mengenal Allah dan mengikuti para rasul adalah tercapainya kebaikan di dunia dan kenikmatan yang kekal di akhirat (fī d-dunyā hasanah, wa fī l-ākhirati hasanah), dan ini merupakan bagian dari nikmat terbesar yang menuntut kita untuk memuji-Nya. Nikmat terbesar yang kita dapatkan itu adalah nikmat hidayah, karena melalui hidayah itulah kita bisa mengenal Tuhan kita, mengetahui jalan yang benar, sehingga punya kesempatan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian.
Dengan mengenali sifat-sifat Allah, kita tahu bahwa Allah Maha Kaya, tidak butuh apapun dari siapapun. Kita juga tahu bahwa Allah adalah sang Maha Adil. Kita pun juga tahu bahwa sifat-Nya yang paling dominan adalah rahmat dan kemurahan, sebagaimana Dia sendiri menetapkan atas diri-Nya bahwa rahmat-Nya mendahului murka-Nya. Pemahaman ini seminimalnya akan mengantarkan kita pada kesadaran bahwa dunia ini hanyalah panggung ujian, dan hasil dari seluruh ujian itu akan ditentukan kelak di hari akhir ketika dunia ini sudah berganti rupa. Sehingga kita bisa menjalani hidup ini dengan optimis, akan kebagian karunia Allah di dunia dan di akhirat. Kita pun juga tidak akan hidup sembarangan, karena sadar bahwa Allah Sang Maha Adil akan menilai lembar-lembar ujian kita dengan seadil-adilnya. Inilah keseimbangan antara rasa harap dan rasa takut kepada-Nya, namun kiranya kita perlu meletakkan sisi harap sedikit lebih tinggi dibanding rasa takut, mengingat bahwa Allah adalah Dzat yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Bukankah kita adalah satu dari sekian banyak sesuatu itu?
Dengan demikian, kita kini bisa memahami mengapa Rasulullah ﷺ memilih tiga ayat ini sebagai penutup, dan mengapa para ulama mewariskannya sebagai penutup doa dan majlis, mengingat ternyata tiga kebutuhan yang terhimpun di dalamnya tersusun secara hierarkis; Pengenalan yang benar terhadap Allah menjadi dasar bagi keteladanan kepada para rasul, karena seseorang yang tidak mengenal Tuhannya tidak akan tahu mengapa ia harus mengikuti utusan-Nya. Keteladanan itu kemudian menjadi jalan menuju keselamatan setelah kematian, karena mengikuti para rasul adalah jalan terbaik untuk mempersiapkan diri menghadapi apa yang ada setelah kehidupan dunia ini. Maka, menutup doa dengan tiga ayat ini berarti menutupnya dengan pengakuan atas tiga hal terpenting yang dibutuhkan oleh setiap jiwa yang berakal, dan barangkali itulah sebabnya tiga ayat ini disebut sebagai al-mikyāl al-awfā min al-ajr, takaran pahala yang paling penuh, dalam salah satu riwayat yang dinisbatkan kepada Sayyidina ‘Ali bin Abī Thālib radhiyallāhu ‘anh.
Wallāhu a‘lam
Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar