Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


  • Membeli Versi Ideal dari Diri Kita

    Saya sering melakukan proyeksi masa depan, terutama untuk hal-hal yang tampaknya sedang saya butuhkan. Saya pikir, ini adalah sebuah aktivitas yang lumrah dialami oleh manusia lainnya. Saya menulis ini ketika sedang menunggu istri scaling di klinik gigi yang tidak jauh dari rumah. Di ruang tunggu, saya sempat melamun karena dua…

    Baca lebih lanjut: Membeli Versi Ideal dari Diri Kita
  • Seolah-Olah Benar

    Tidak semua penjelasan yang terdengar masuk akal itu benar. Mungkin kita selama ini cenderung gampang percaya dengan berbagai informasi yang tersaji dengan rapi, dilengkapi data, grafik, dan dibumbui dengan istilah-istilah “keren.” Padahal, kerapian penyajian informasi (dalam bentuk apapun) tidak me-lazim-kan kebenaran isinya. Ndak jarang juga, semakin rapi dan meyakinkan suatu…

    Baca lebih lanjut: Seolah-Olah Benar
  • Tafsir Surah al-Kāfirūn dalam Tafsir al-Ṭabarī

    Surah al-Kāfirūn memuat perintah Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw untuk menolak ajakan kaum musyrik Makkah yang menawarkan pertukaran praktik ibadah. Menurut Imam al-Ṭabarī dalam Jāmi‘ al-Bayān, sekelompok pemuka Quraisy mengusulkan agar mereka dan Nabi Saw saling menyembah tuhan masing-masing secara bergiliran dalam jangka waktu tertentu. Usulan ini disertai dengan…

    Baca lebih lanjut: Tafsir Surah al-Kāfirūn dalam Tafsir al-Ṭabarī
  • Ketidaktahuan Adalah Priviledge

    Sebenarnya, ketidaktahuan itu tidak selalu buruk. Selama ini kita diajarkan bahwa tahu itu lebih baik daripada tidak tahu. Kalau ada yang mengaku tidak tahu sesuatu, langsung dianggap kurang pintar atau malas. Padahal, ada banyak situasi dimana tidak mengetahui sesuatu justru lebih menguntungkan. Coba bayangkan kalau kita bisa tahu kapan akan…

    Baca lebih lanjut: Ketidaktahuan Adalah Priviledge
  • Pujian dan Kritik al-Tabari Terhadap Mufassir Salaf

    Sebagai penutup muqaddimahnya, al-Ṭabarī menyampaikan catatan evaluatif terhadap para mufassir yang hidup sebelum atau sezaman dengannya. Catatan yang ia rekam ini merupakan penerapan langsung dari kriteria metodologis yang telah ia uraikan sebelumnya. Al-Tabari mengategorikan para mufassir berdasarkan kualitas keilmuan mereka, keabsahan jalur periwayatan, dan kredibilitas metodologi mereka. Bagian ini sangat…

    Baca lebih lanjut: Pujian dan Kritik al-Tabari Terhadap Mufassir Salaf
  • Larangan Tafsir bi al-Ra’y dan Batasannya

    Setelah menetapkan kerangka metodologis tafsir, al-Tabari menghadapi isu yang sangat sensitif: larangan menafsirkan al-Quran dengan ra’y (opini pribadi). Al-Tabari menyajikan berbagai hadis dan atsar yang melarang tafsir bi al-ra’y, kemudian memberikan analisis tentang makna sebenarnya dari larangan tersebut. Ia berusaha menunjukkan bahwa larangan ini tidak berarti menutup pintu ijtihad dalam…

    Baca lebih lanjut: Larangan Tafsir bi al-Ra’y dan Batasannya
  • Metodologi Tafsir dan Tingkatan Makna al-Quran

    Setelah membahas aspek teologis al-Quran, al-Tabari beralih pada isu metodologis yang fundamental dalam ilmu tafsir: bagaimana cara yang benar untuk memahami al-Quran? Ia mengembangkan kerangka metodologis yang sistematis dengan membagi ayat-ayat al-Quran ke dalam tiga kategori berdasarkan cara memahaminya. Selain itu, al-Tabari juga menegaskan peran sentral Rasulullah Saw sebagai mubayyin…

    Baca lebih lanjut: Metodologi Tafsir dan Tingkatan Makna al-Quran
  • Makna “Tujuh Pintu Surga” dalam Hadis al-Quran

    Setelah membahas aspek linguistik dan sejarah kodifikasi al-Quran, al-Tabari mengalihkan perhatian pada dimensi teologis yang lebih detail tentang keistimewaan al-Quran. Ia membahas hadis yang menyebutkan bahwa al-Quran “turun dari tujuh pintu surga” dan menganalisis berbagai riwayat yang menjelaskan aspek-aspek kandungan al-Quran. Al-Tabari berusaha mengharmonisasikan pemahaman tentang “tujuh huruf” dengan konsep…

    Baca lebih lanjut: Makna “Tujuh Pintu Surga” dalam Hadis al-Quran
  • Sejarah Kodifikasi Mushaf dan Kebijaksanaan Utsman ibn Affan

    Setelah menjelaskan konsep sab’ah ahruf, al-Tabari menghadapi pertanyaan penting selanjutnya: bagaimana proses kodifikasi al-Quran berlangsung dalam sejarah? Al-Tabari memberikan penjelasan historis yang cukup komprehensif tentang proses kodifikasi al-Quran, dimulai dari masa Abu Bakar hingga kebijakan unifikasi yang dilakukan Utsman ibn Affan. Ia menggambarkan bagaimana para sahabat, dengan kebijaksanaan dan visi…

    Baca lebih lanjut: Sejarah Kodifikasi Mushaf dan Kebijaksanaan Utsman ibn Affan
  • Dialek Arab dan Konsep Sab’ah Ahruf

    Setelah menetapkan bahwa al-Quran seluruhnya berbahasa Arab, al-Tabari menghadapi pertanyaan yang lebih kompleks: dialek Arab manakah yang digunakan dalam al-Quran? Bangsa Arab, meskipun memiliki nama kolektif yang sama, memiliki variasi dialek yang berbeda-beda dalam pengucapan dan struktur bahasa. Al-Tabari membahas konsep “sab’ah ahruf” (tujuh huruf) yang disebutkan dalam berbagai hadis…

    Baca lebih lanjut: Dialek Arab dan Konsep Sab’ah Ahruf