Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Kategori: kitab

  • Penampilan yang Menipu

    Abu Bakar bin ‘Ayyasy pernah menceritakan sebuah kejadian yang cukup memalukan. Suatu hari, dia bersama Sufyan al-Tsauri masuk ke sebuah kota. Di sana, mereka bertemu seorang pria berjenggot putih dengan pakaian yang rapi. Penampilannya sangat meyakinkan, seperti seorang ulama. Sufyan al-Tsauri kemudian mendekati pria itu, memberi salam, lalu bertanya dengan sopan, “Wahai syaikh, apakah anda punya hadis?” Pria itu menjawab…

  • Tentang Neraka, Keadilan, dan Keterbatasan Kita

    Ada satu pertanyaan yang sering terdengar di telinga kita, “apakah semua orang kafir masuk neraka?” Pertanyaan ini biasanya muncul dengan latar kegelisahan yang sama, terutama ketika menyangkut orang-orang yang secara lahiriah terlihat baik, atau bahkan berjasa besar kepada Islam. Contohnya Abu Thalib, paman Nabi Muhammad Saw yang telah melindungi dan membantu beliau begitu banyak. Mengapa ia tetap masuk neraka meski…

  • Mencintai Kebaikan untuk Orang Lain

    Ada satu hadis yang sangat masyhur, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi sallāllāhu ‘alayhi wasallam bersabda, لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidaklah (sempurna) iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” Ketika pertama kali mendengar hadis ini, banyak…

  • Mengapa Islam Muncul di Jazirah Arab?

    Langsung saja, Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi dalam Fiqh al-Sirah al-Nabawiyyah memberikan analisis yang cukup komprehensif tentang hal ini. Menurut beliau, untuk memahami pilihan Allah Swt ini, kita perlu melihat kondisi bangsa-bangsa di sekitar jazirah Arab pada masa itu. Mari kita mulai dari sana. Pada abad ke-6 Masehi, dunia dikuasai oleh dua peradaban superpower: Persia dan Romawi. Keduanya memiliki peradaban…

  • Ilmu yang Wajib Dipelajari Setiap Orang

    Hampir setiap orang tahu bahwa belajar itu penting, tapi hampir setiap orang juga bingung harus belajar apa. Kita dibombardir dengan kursus online, workshop, webinar, dan segala macam program pengembangan diri. Semuanya menjanjikan transformasi. Semuanya mengklaim sebagai “investasi terbaik.” Tapi, apakah semua itu memang penting untuk dipelajari? Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu dikategorisasikan menjadi beberapa bagian. Menurut Imam al-Nawawi dalam kitab…

  • Siapa yang Paling Mulia?

    Suatu hari, sahabat bertanya kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wasallam, “Siapa manusia yang paling mulia?” Pertanyaan ini tampak biasa saja, tapi sebenarnya menyimpan kompleksitas. Kata “mulia” bisa bermakna banyak hal. Entah itu mulia di sisi Allah subhānahu wa ta‘ālā, mulia secara keturunan, atau mulia dalam pandangan sosial. Parameter kemuliaan dari semua hal ini berbeda, tidak ada yang sama. Nah, para sahabat…

  • Empat Kemungkinan dalam Hidup

    Hidup ini sebenarnya sederhana. Setidaknya begitu yang ditunjukkan oleh hadis Nabi tentang meninggalkan yang tidak penting. Imam Ibn Ḥajar al-Haitamī dalam Fatḥ al-Mubīn membagi kehidupan manusia menjadi empat kemungkinan: melakukan yang penting, meninggalkan yang tidak penting, meninggalkan yang penting, dan melakukan yang tidak penting. Dua yang pertama adalah baik, sedang dua yang terakhir adalah buruk. Hadis ini begitu padat maknanya…

  • Orang Saleh itu Fleksibel

    Imam Junaid pernah berkata, “orang yang jujur (shādiq) bergerak/berubah dalam sehari sebanyak empat puluh kali, dan orang yang riya’ (murā’ī) menetap pada satu keadaan selama empat puluh tahun.” Terdengar aneh, kan? Bukankah konsistensi (istikamah) itu penting? Kok malah berubah-ubah? Imam Nawawi, dalam muqaddimah kitab al-Majmū‘, menjelaskan maksud ungkapan ini, bahwa orang yang jujur itu senantiasa bergerak mengikuti kebenaran, ke mana…

  • Merawat Cinta Kepada Baginda Nabi Saw

    Kata orang-orang zaman sekarang, cinta harus dirawat. Jika tidak, maka cinta itu bisa pupus, menguap, dan hilang. Seandainya cinta kepada makhluk saja harus diperlakukan seperti itu, lantas bagaimana dengan cinta kita kepada Baginda Nabi Muhammad Saw? Bukankah isyarat ini berulang kali difirmankan Allah Swt? قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ “Katakanlah…

  • Sifat-Sifat Nabi Yahya As

    Allah Swt berfirman, يايَحْيى خُذِ الكِتابَ بِقُوَّةٍ وآتَيْناهُ الحُكْمَ صَبِيًّا ۝ وحَنانًا مِن لَدُنّا وزَكاةً وكانَ تَقِيًّا ۝ وبَرًّا بِوالِدَيْهِ ولَمْ يَكُنْ جَبّارًا عَصِيًّا ۝ “(Allah berfirman,) “Wahai Yahya, ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” Kami menganugerahkan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak. (Kami anugerahkan juga kepadanya) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dia pun…