-
Tundukkan Hawa Nafsumu Pada Akalmu
Terdapat sebuah pitutur yang terekam dalam kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, dikatakan bahwa ﻃُﻮﺑﻰ ﻟِﻤَﻦْ ﻛﺎﻥ ﻋﻘﻠُﻪ ﺃﻣﻴﺮًﺍ ﻭﻫﻮﺍﻩ ﺃﺳﻴﺮًﺍ ، ﻭﻭﻳْﻞٌ ﻟﻤﻦ ﻛﺎﻥ ﻫﻮﺍﻩ ﺃﻣﻴﺮًﺍ ﻭﻋﻘﻠُﻪ ﺃﺳﻴﺮًﺍ “Beruntunglah bagi siapa saja yang menjadikan akalnya sebagai pemimpin atas hawa nafsunya, dan celakalah bagi yang menjadikan hawa nafsunya sebagai pemimpin atas akalnya” Akal adalah salah satu karunia terbesar yang…
-
Tinggalkan yang Tidak Penting
Nabi Saw pernah bersabda, “Diantara (tanda) kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak penting baginya.” (HR. al-Tirmiżī) Mari kita angen-angen (pikirkan) sabda Nabi yang pendek ini. Secara kasat mata, disana ada perintah, atau setidaknya anjuran untuk meninggalkan perkara-perkara yang tidak penting. Namun, penting atau tidak penting ini yang bagaimana? Apa ukurannya? Menurut Imam Ibn Ḥajar al-Haitamī dalam Fatḥ al-Mubīn,…
-
Menghormati Nama Allah
Mālik bin Dīnār adalah seorang ulama besar yang hidup pada masa tabi’in. Suatu pagi ia keluar dari rumahnya, hendak menunaikan salat Subuh di masjid. Di tengah perjalanan, ia menemukan seorang lelaki tergeletak di pinggir jalan dalam keadaan sangat buruk. Lelaki itu mabuk berat, tidak sadarkan diri, berdebu, dengan busa keluar dari mulutnya. Mālik bin Dīnār pun berniat mengabaikannya dan melanjutkan…
-
Agar Ilmu Menampakkan Dirinya Sendiri
Imam al-Muzanī, salah satu murid jagoan Imam al-Syāfi’ī, pernah berkata, “Aku membaca kitab al-Risālah karya Imam al-Syāfi’ī sebanyak 500 kali. Setiap kali membacanya, aku selalu menemukan faidah baru yang tidak kudapatkan pada bacaan sebelumnya.” Lima ratus kali lho. Bukan satu-dua kali. Bukan sepuluh atau dua puluh kali. Lima ratus kali membaca kitab yang sama, dan tetap menemukan sesuatu yang baru.…
-
Quranis yang Melemahkan Al-Qur’an
Ada kelompok yang menyebut diri mereka “Qur’anis” atau Quraniyyūn. Mereka mengklaim bahwa memahami agama ini cukup dengan Al-Qur’an saja, tanpa perlu hadis Nabi. Argumen utama mereka terdengar meyakinkan: bukankah Allah sudah berfirman bahwa Al-Qur’an adalah tibyānan likulli syai’ (penjelasan untuk segala sesuatu)? Kalau sudah lengkap, kenapa perlu hadis? Masalahnya, argumen ini justru menciptakan persoalan baru yang lebih besar. Ayat “wa…
-
Kaya dari Dalam
Ada cerita menarik dari Gus Mus yang saya tonton di Youtube. Beliau bercerita tentang dua kawan yang berbeda. Kawan pertama, seorang petani sederhana yang makan di galengan sawah. Menunya simpel: nasi, sambal, gereh (ikan asin), dan air dari kendi. Selesai makan, Alhamdulillahnya keras sekali sampai satu kampung kedengaran. Terlihat betul bahwa dia menikmati makanannya. Sedangkan kawan kedua, seorang teman Gus…
-
Mandiri adalah Karakter Orang Saleh
Sayyidah Aisyah Ra pernah ditanya oleh al-Aswad bin Yazid, “Apa yang dilakukan Rasulullah Saw di tengah keluarganya?” Lalu, Sayyidah Aisyah menjawab, “Beliau senantiasa membantu pekerjaan rumah istrinya. Apabila tiba waktu salat, beliau bangkit untuk melaksanakan salat.” Dalam riwayat lain, disebutkan juga bahwa Nabi Saw terbiasa menjahit pakaiannya sendiri, menambal sandalnya, dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga lainnya. Lagi-lagi, inilah Rasulullah Saw.…
-
Manusia yang Paling Baik Akhlaknya
Anas bin Malik adalah sahabat yang betul-betul mengenal seluk-beluk kehidupan Nabi Saw. Di antara sekian banyak sahabat, beliau termasuk yang paling banyak meriwayatkan hadis. Imam al-Suyuthi bahkan menempatkannya sejajar dengan Abu Hurairah, Ibn ‘Umar, Ibn ‘Abbas, Abu Sa‘id al-Khudri, Jabir, dan Siti Aisyah. Mereka adalah para sahabat yang juga menjadi sumber utama periwayatan hadis Nabi Saw —yang paling banyak riwayatnya.…
-
Kelembutan
Pada suatu ketika, sekelompok orang Yahudi datang menemui Rasulullah Saw. Mereka mengucapkan salam, tapi dengan niat menghina. Alih-alih berkata “as-salāmu ‘alaikum” — “semoga keselamatan atasmu” — mereka memelintirnya menjadi “as-sām ‘alaikum”, yang berarti “semoga engkau mati.” Kata itu terdengar hampir sama, tapi maknanya jauh berbeda. Ucapan itu dilontarkan bukan sebagai penghormatan, melainkan sebagai ejekan halus yang dibungkus kepura-puraan. Mereka tahu…
-
Hidayah Allah
Menjadi umat Nabi Muḥammad Saw adalah bentuk karunia yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Tapi kita sering lupa, bahwa kita menjadi bagian dari umat beliau itu bukanlah soal kepintaran. Bukan pula karena orang tua kita saleh, pun tidak juga karena guru atau kiai kita alim. Kita bisa menapaki jalan ini —Islam— semata-mata karena diberi hidayah oleh Allah. Dan hidayah…