Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Mandiri adalah Karakter Orang Saleh

Sayyidah Aisyah Ra pernah ditanya oleh al-Aswad bin Yazid, “Apa yang dilakukan Rasulullah Saw di tengah keluarganya?” Lalu, Sayyidah Aisyah menjawab, “Beliau senantiasa membantu pekerjaan rumah istrinya. Apabila tiba waktu salat, beliau bangkit untuk melaksanakan salat.”

Dalam riwayat lain, disebutkan juga bahwa Nabi Saw terbiasa menjahit pakaiannya sendiri, menambal sandalnya, dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga lainnya.

Lagi-lagi, inilah Rasulullah Saw. Pemimpin umat, penerima wahyu dan risalah, dan tentu sudah dijamin masuk surga. Beliau adalah sosok manusia terbaik yang pernah terlahir di atas muka bumi ini. Ternyata beliau rajin mengurus dirinya sendiri. Entah bagaimana, beliau mau langsung turun tangan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil dan “sepele” itu.

Di zaman sekarang, kita sering mendengar istilah pendelegasian tugas. Biasanya, yang didelegasikan adalah tugas-tugas mikro dan “kurang penting.” Maksudnya ya menyuruh orang lain untuk melakukannya. Pertimbangannya, ada tugas lain yang lebih penting, lebih prioritas, dan lebih berpotensi menghasilkan.

Misalnya, saya adalah seorang pekerja yang mendapat bayaran Rp 50.000,00 per jamnya. Di saat yang sama, saya punya pakaian kotor yang menumpuk. Saya tahu bahwa harga jasa laundry terima beres adalah Rp 10.000,00 per kilogram-nya. Maka, akan lebih masuk akal bagi saya untuk me-laundry-kan pakaian kotor itu, daripada mengorbankan dua jam untuk mencuci. Setidaknya, seratus ribu rupiah bisa membayar sepuluh kilo gram jatah cuci.

Contoh seperti ini teramat masuk akal bagi kita. Daripada kita hanya mendapatkan “lelah,” lebih baik kita bekerja yang pasti mendapatkan uang. Intinya, alokasi waktu harus jelas dan produktif. Jangan sampai membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak produktif.

Kembali ke hadis di atas, Imam al-Munawi dalam Fayd al-Qadīr menjelaskan bahwa sikap Nabi saw ini adalah bentuk arahan untuk bersikap rendah hati dan meninggalkan kesombongan. Padahal, beliau adalah sosok yang dimuliakan dengan wahyu, kenabian, mukjizat, dan risalah. Kalau mencari-cari alasan untuk “dilayani,” tentu Nabi saw punya alasan paling kuat. Tapi justru di situlah keistimewaan beliau. Kemuliaan beliau tidak membuatnya bergantung pada orang lain untuk urusan-urusan pribadi.

Lebih jauh lagi, ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin besar sekalipun seharusnya tetap (berusaha) mengurus urusannya sendiri. Dan ini adalah kebiasaan orang-orang saleh, terang Imam al-Munawi.

Kita bisa melihat riwayat lain yang lebih detail, seperti riwayat Imam Ahmad dan Ibn Hibban. Sayyidah Aisyah menceritakan bahwa Nabi saw menjahit baju, menambal sandal, dan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan laki-laki di rumah mereka. Ada riwayat lain yang menambahkan: beliau menambal ember, memerah (susu) kambing, bahkan membersihkan kutu di pakaiannya sendiri.

Daftar pekerjaan ini seharusnya sangat bisa didelegasikan. Wong beliau punya khādim (pelayan). Tapi kenapa Nabi Saw justru memilih melakukan hal-hal ini sendiri? Padahal ini bukan pekerjaan yang “wah,” pun bukan yang “heroik.” Bukankah ada pekerjaan yang lebih prioritas? Nabi Saw ini orang terpenting di kalangan umat Islam lho.

Inilah mungkin sunnah yang sering terabaikan, dan sangat tidak populer. Kemandirian dalam melakukan hal-hal kecil, terutama terkait urusannya sendiri, adalah bagian dari kesalehan yang dicontohkan Nabi Saw. Bukannya apa-apa, Ibn Baṭṭāl, sebagaimana dikutip oleh Ibn Hajar dalam Fath al-Bārī, menuturkan bahwa diantara akhlaknya para nabi adalah bersikap rendah hati, menjauhi kemewahan, dan bersedia untuk melayani diri sendiri. Apa tujuannya? Agar umat bisa meneladani para nabi dalam hal ini, dan agar umat tidak tenggelam dalam kenyamanan yang tercela.

Diakui atau tidak, kenyamanan memang sering menipu. Semakin kita terbiasa dilayani, semakin kita merasa “berhak” untuk dilayani. Lama-kelamaan, kemandirian memudar. Kita jadi tidak tahu cara mengurus diri sendiri, bahkan untuk hal-hal paling sederhana. Padahal, kemampuan mengurus diri adalah salah satu tanda kedewasaan.

Makanya, banyak diantara orang saleh yang punya sifat mandiri. Mereka tidak suka “ngerepoti” orang lain. Tidak suka meminta tolong untuk hal-hal yang sebenarnya bisa mereka lakukan sendiri. Secara umum, ini adalah gambaran orang-orang yang tidak mudah menggantungkan urusan hidupnya kepada orang lain, kepada makhluk.

Kebiasaan menggantungkan diri pada orang lain akan menyulitkan ketika kita harus menghadapi situasi dimana tidak ada yang sedang bisa membantu. Takutnya, kebiasaan ini justru menjerumuskan kita pada hal-hal berlebihan. Seperti perasaan tidak dipedulikan orang lain, kesepian, dan sejenisnya. Padahal, orang lain juga punya prioritas-prioritas dalam hidupnya masing-masing.

Selain itu, kemandirian juga melatih kita untuk lebih menghargai pekerjaan orang lain. Ketika kita tahu betapa melelahkannya menjahit baju yang robek atau menambal sandal yang rusak, kita tidak akan meremehkan orang yang melakukan pekerjaan serupa. Kita jadi lebih peka terhadap jerih payah orang lain.

Nabi saw, meskipun beliau adalah pemimpin umat, tidak pernah merasa bahwa pekerjaan-pekerjaan kecil itu “di bawah martabatnya.” Justru beliau menunjukkan bahwa tidak ada pekerjaan yang hina selama halal dan bermanfaat. Yang hina adalah sikap malas dan merasa terlalu tinggi untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi saw adalah manusia yang paling lembut dan paling mulia, tapi beliau juga “seperti salah seorang dari kalian.” Artinya, beliau tidak membuat jarak dengan keumuman menjadi manusia itu sendiri. Beliau tidak menciptakan ilusi bahwa kemuliaan itu berarti harus dilayani sepanjang waktu.

Maka, jika kita ingin meneladani Nabi saw, salah satu yang perlu kita perhatikan adalah sikap mandiri dalam hal-hal kecil. Jangan biasakan diri untuk selalu bergantung pada orang lain, apalagi untuk urusan-urusan yang sebetulnya bisa kita kerjakan sendiri. Menjahit baju, memasak, mencuci piring, merapikan tempat tidur—semua itu adalah bagian dari melatih kemandirian.

Bersikap mandiri juga bukan berarti kita tidak boleh meminta tolong atau menerima bantuan. Bukan pula kita harus mengerjakan semuanya sendirian sampai kelelahan. Kemandirian adalah sikap batin yang menunjukkan bahwa kita tidak merasa entitled untuk dilayani, dan kita tidak merasa rendah ketika harus mengerjakan hal-hal sepele.

Jika ada hal-hal diluar kemampuan kita, maka tidak masalah jika kita mendelegasikannya kepada orang lain yang lebih mampu. Bagaimanapun, dalam setiap perkara itu ada ahlinya. Jika suatu urusan diurus bukan oleh ahlinya, maka tunggu saja akibatnya —iżā wusida al-amr ilā ghayri ahlih, fantaẓir al-sā‘ah.

Maka, boleh saja kita me-laundry pakaian dan sebagainya. Tapi, sesekali kita perlu mencuci sendiri. Agar kita terbiasa merendah dan tidak jumawa. Barang kali, inilah salah satu ibadah yang sangat mudah. Mengurus diri sendiri dengan niat yang baik bisa jadi bentuk syukur atas nikmat sehat dan nikmat kemampuan yang Allah berikan. Intinya, sisakan saja, barang sedikit hal, untuk ditandangi dewe —untuk dilakukan sendiri.

Kita hidup di zaman yang serba mudah. Tinggal pesan, barang datang. Tinggal klik, makanan tiba. Tapi kemudahan itu jangan sampai membuat kita lupa bahwa kemandirian adalah bagian penting dari karakter manusia unggul. Paling tidak, jangan sampai kita jadi generasi yang tidak bisa apa-apa tanpa bantuan orang lain.

Rasulullah Saw saja, dengan segala kemuliaan yang beliau miliki, masih mau menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri. Lalu siapa kita, yang jauh dari sempurna, untuk merasa terlalu tinggi melakukan hal yang sama?

Kemandirian adalah salah satu karakter orang saleh, dan karakter itu dibangun dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari.

Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.