Persahabatan ala Sufi

Imam al-Ghazali merumuskan bahwa setidaknya ada 4 hal yang membuat kenapa seseorang suka bersama dengan orang lain. Pertama, karena adanya kesamaan dalam diri orang itu yang sesuai dengan seleranya, entah itu hal-hal baik ataupun buruk. Kedua, orang lain itu bisa menjadi perantara untuk urusan duniawinya. Ketiga, orang itu bisa menjadi perantara tercapainya urusan non-dunia, seperti ilmu agama. Keempat, ia mencintainya karena Allah, bukan karena kepentingan apapun yang ada dalam dirinya.

Semua faktor yang menjadikan adanya ikatan “pertemanan” antara satu orang dengan orang lain bisa menjadi perantara al-hubb fillah (persahabatan yang didasari keikhlasan kepada Allah), kecuali alasan kedua. Hubb fillah inilah yang menjadi inti dari persahabatan cara sufi, yaitu persahabatan yang tidak didorong oleh faktor kepentingan apapun, hanya karena Allah dan dalam urusan yang Allah ridha.

Photo by Aman

Bersahabat dengan cara sufi ini tidak repot dan ruwet, tanpa perlu atribut dan beban-beban moral yang biasa terjadi dalam hubungan antara seseorang dengan orang lain. Hubungan persahabatan ini mengalir begitu saja, alami dan apa adanya. Persahabatan model ini tidak pernah terikat dengan makhluk dan hawa nafsu, karena ikatan dan pedoman satu-satunya adalah Allah SWT.

Imam Junayd al-Baghdadi, tokoh sufi yang ajarannya paling masyhur di dunia berkata, “Jika ada dua orang bersahabat dalam urusan Allah, lalu salah satunya merasa risih atau merasa segan kepada yang lain, maka ada yang bermasalah pada salah satunya”. Sayyidina Jakfar Shadiq mejelaskan pula bahwa teman yang paling berkesan di hatinya adalah yang tidak mendatangkan beban apa-apa. Saat bersama dengan dia tak ubahnya saat sendiri mengalir apa adanya, tak ada yang disembunyikan, tak ada yang dibuat-buat, tidak malu, tidak risih, tidak perlu bermanis muka, basa-basi dan lain sebagainya.

Syaikh Abdussalam bin Masyisy suatu ketika berpesan kepada muridnya, Imam asy-Syadzili,

“Janganlah kamu berteman dengan orang yang terbiasa mendahulukan dirinya daripada kamu, yang seperti itu adalah kekikiran. Jangan juga kamu berteman dengan orang yang terbiasa mendahulukan kamu daripada dirinya, biasanya yang seperti itu hanya teman sesaat. Bertemanlah dengan orang yang jika dilihat, membuatmu ingat pada Allah SWT.”

Jika dipahami, Syaikh Abdussalam berpesan pada muridnya, Imam Syadzili untuk menunjukkan bahwa inti dari persahabatan dengan orang lain itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu perangkatnya yaitu adalah kejujuran, tidak diruwetkan dengan upaya-upaya penyesuaian, tidak ada beban dan keterpaksaan diantara keduanya selama proses persahabatan berlangsung. Dengan demikian, persahabatan model ini berjalan murni, tidak dibangun dengan riya’, berat hati, ketidak jujuran, yang tujuannya hanya untuk menyesuaikan diri dengan selera atau status temannya.

Hal-hal seperti disebutkan diatas kemudian juga diperkuat oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya’. Beliau menyatakan bahwa salah satu cara bersahabat ala sufi adalah tidak terbebani oleh temannya, atau membebani temannya. Cara bersahabat seperti ini sudah pada maqam ‘arifin. Beberapa sufi juga menyatakan, “Jika kamu menemani ahli dunia, maka pakailah etika sosial (adab). Jika kamu menemani ahli akhirat, maka pakailah ilmu. Jika kamu menemani ‘arifin, maka lakukanlah sesuka hatimu.

Jika term persahabatan membutuhkan approval dari orang lain untuk melakukan hal yang sama, setidaknya kulo njenengan bisa mencoba menerapkan cara bersahabat ala sufi ini untuk berteman dengan orang lain. Jangan-jangan sudah diterapkan? Ya mungkin saja, wong kita memang suka loss dan gass.

Wallahu a’lam

Belajar Menjadi Biasa Saja

Beberapa waktu terakhir, netizen diramaikan dengan hal-hal yang lumayan kontroversial. Mulai dari ustadz Abdul Somad yang berpendapat bahwa permainan catur itu haram, reuni 212, komparasi Presiden Sukarno dengan Nabi oleh bu Sukmawati, hingga ceramah Gus Muwafiq yang lumayan ”seram” tentang kondisi kelahiran dan masa kecil kanjeng Nabi SAW.

Pro-kontra seperti ini sebenarnya wajar terjadi di ranah keilmuan agama (kecuali pertanyaan aneh bu Sukmawati), bukan tentang siapa yang mengatakannya, tapi tentang seberapa ilmiah pendapat itu bisa dipertanggung jawabkan. Anehnya, beberapa hal ini ramai karena menjadi perbincangan netizen yang cenderung fanatik buta dan terkesan melihat siapa yang berbicara. Jika yang berbicara adalah kelompoknya, mereka akan membela mati-matian. Tapi jika yang berbicara adalah kubu sebelah, mereka akan membullynya habis-habisan.

Dalam pepatah arab dikatakan, “Perhatikanlah apa yang diucapkan, jangan melihat siapa yang mengucapkan”. Maka jika ada seorang penceramah mengatakan sesuatu yang salah, lawan dengan ilmu. Jika apa yang dikatakannya salah menurut kita, tapi punya landasan ilmiah yang kuat, maka yang diutamakan adalah akhlak dan kelapangan dada dalam menerima perbedaan.

Contoh saja apa yang dikatakan ustad Abdul Somad tentang keharaman catur, referensi ilmiahnya kuat, mayoritas pandangan ulama’ Syafiiyyah yang mu’tabar memang juga demikian. Namun karena pandangan politik beliau berbeda, pendapat ini bisa menjadi bahan bulan-bulanan untuk waktu yang panjang. Bahkan mungkin sampai jadi meme di Twitter. Begitupula sebaliknya, kubu sebelahnya juga suka mencari-cari kesalahan Gus Muwafiq, Kiai Said, dll untuk menjustifikasi kubu lainnya.

Tradisi keilmuan yang menurun, gampang emosian, malas tabayun, merasa paling benar dan mudah mencap orang lain yang bukan kelompoknya adalah salah merupakan beberapa pangkal masalahnya. Hal-hal ini kemudian akan membentuk fanatisme sosok atau kelompok secara berlebihan. Akhirnya, fanatisme kelompok hanya akan menimbulkan perpecahan bila tidak didasari akhlak yang baik dan sikap lapang dada.

Pesantren Sidogiri adalah salah satu contoh pesantren yang sangat saya kagumi, sebagaimana mereka merespon ketidak-cocokan pandangan dengan Kiai Said Aqil dengan mengeluarkan sebuah buku yang khusus untuk menolak beberapa pemikirannya. Disisi lain Kiai Said juga terbuka mendapat kritikan ilmiah, bahkan sering mampir ke Sidogiri untuk menghadiri beberapa acara diskusi disana. Pada dasarnya, mereka yang ‘alim memang lebih mudah untuk menundukkan kepala dan mengutamakan akhlak serta kelapangan dada, sedangkan para pengikutnya yang fanatik, tidak bisa bersikap biasa saja.

Untuk menutup, Imam Syahid Said Ramadan al-Buthi dalam kitabnya Fiqh as-Sirah menyebutkan bahwa perbedaan pendapat yang bertumpu pada fanatisme adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Perbedaan pendapat antara dua orang(kelompok) seharusnya memiliki dalil ilmu yang logis.

Lha terus kudu piye? Yo ora pie-pie, biasa wae. Wallahu a’lam.

Aku Mencintaimu

Imam al-Qusyairi menuliskan salah satu riwayat dalam kitabnya, Risalah al-Qusyairiyyah yang bersumber dari Anas bin Malik bahwa beliau SAW dawuh, “Kapan aku akan bertemu para kekasihku?”.

Sontak para sahabat bertanya, “Bukankah kami ini adalah para kekasihmu ya nabi?” Nabi menjawab,”Kalian adalah para sahabatku, para kekasihku adalah mereka yang tak pernah melihatku, tetapi mereka percaya kepadaku. Dan kerinduanku kepada mereka lebih besar.”


Bagaimana mungkin kami tak rindu padamu, sedangkan engkau lebih dulu merindukan kami berabad-abad yang lalu.
Bagaimana mungkin kami tak cinta padamu, sedangkan engkau sudah mencintai kami jauh sebelum kami mengenal kata dan istilah cinta itu.


Selamat merayakan maulid Nabi Muhammad Saw.
Allahumma shalli wa sallim wa baarik ‘ala nabiyyika Muhammad 🙏🏼

Cinta, Siapa yang Tahu?

Beberapa waktu yang lalu, pengajian kitab Mukhtar al-Ahadits an-Nabawiyyah di kantor sampai pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi yang bunyinya :

أحبب حبيبك هوناما، عسى أن يكون بغيضك يوماما, وابغض بغيضك هوناما، عسى أن يكون حبيبك يوماما

Artinya: Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, bisa jadi ia akan menjadi musuhmu suatu hari nanti. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, boleh jadi ia akan menjadi kekasihmu suatu saat nanti.

fabrizio-verrecchia-bQxGg8Vx1Vc-unsplash

Hadits ini memang banyak diperdebatkan tingkat keshahihannya oleh para ahli hadits, ada yang menyebutnya gharib, ada yang mengatakan statusnya marfu’, ada juga yang men-shahih-kannya, bahkan tidak sedikit yang menyebutnya dhoif atau lemah. Perbedaan pendapat seperti ini sebenarnya sudah biasa di kalangan ahli hadits, karena sejatinya status level hadits adalah salah satu bentuk ijtihad para ahli hadits.

Terlepas dari itu semua, kita boleh saja mengambil manfaat dari hadits ini karena tidak terpaut dengah dalil hukum fiqih. Sebagaimana pendapat ulama Syafiiyah yang menyatakan bahwa menggunakan hadits dhoif pun boleh saja sebagai fadhail al-amal asalkan tidak bertentangan dengan Qur’an dan hadits sahih.

Kata ‘Asaa dalam Ranah Kehidupan Sosial

Dalam kitab suci, beberapa ditemukan kata ‘asaa (terj: bisa jadi) di beberapa surat yang berbeda. Beberapa ayat itu antara lain:

Wa ‘asaa an takrohu syai’an wahuwa khoirun lakum, wa ‘asaa an tuhibbu syai’an wahuwa syarrun lakum (Al-Baqoroh).

Artinya: “Dan boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik untuk kalian. Bisa jadi juga kalian sangan mencintai sesuatu, padahal itu buruk untuk kalian.”

Adapun di juz 28 dalam surat Al-Mumtahanah juga akan ditemui, ‘Asaa Allahu an yaj’ala baynakum wa bayna alladzina ‘adaytum minhum mawaddah. 

Artinya: “Bisa saja Allah menjadikan rasa kasih sayang diantara kalian dan orang-orang yang kalian musuhi”

Beberapa ayat diatas adalah contoh nyata bahwa manusia itu memang makhluk yang sangat dinamis, pagi sayang, malamnya sudah perang. Bagaimana mungkin? ya mungkin saja, namanya juga makhluk.

Maka akan banyak sekali dijumpai dalam kehidupan ini, awalnya cinta berubah jadi kecewa, bermula benci tapi rindu juga, dan seterusnya. Itulah kenapa mayoritas kaum sufi lebih memilih meletakkan rasa suka dan cinta pada tempat yang tepat, yaitu cinta pada rabbul ‘alamin. Karena Allah adalah dzat yang absolut dan pasti, sedangkan makhluk hanya akan selalu diliputi dengan segala ke-bisa jadi-annya dan semua ketidak pastiannya.

Lalu? simpulkan saja sendiri 🤭.
Wallahu a’lam.

Kita Seharusnya Tahu Kalau Kita Tidak Tahu (Bag 1)

Kanjeng Nabi bersabda, “Barang siapa yang dihendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya (menjadikannya ahli) dalam urusan Agama”. Hadits ini sangat terkenal, utamanya jika kita membuka kitab-kitab fiqih karya para ulama salaf, teks hadits ini biasanya diletakkan di atas bagian pembukaan kitab.

Penyebutan istilah fiqih sendiri memang berasal dari hadits ini, karena sebenarnya fiqih adalah pemahaman tentang hukum islam. Kasarnya, fiqih mengungkap pemahaman-pemahaman para ulama’ (yang sesuai persyaratan tentunya) tentang pola hukum ibadah dan muamalah berdasarkan teks induk (al-qur’an dan hadits). Fiqih kemudian dikemas secara sistematis, terstruktur dan siap saji, sehingga seorang awam pun akan dengan sangat mudah memahaminya untuk kemudian mempraktikkannya.

Image result for kitab kuning
Source: Wikipedia

Fiqih merupakan produk hukum siap saji ini dikembangkan melalui metodologi khusus, sistemik, dan konsisten yang pertama kali dirancang prosedurnya oleh Imam Syafi’i dalam kitab Ar-Risalah, kitab ushul fiqih pertama. Metode ini dibukukan disaat-saat akhir setelah produk hukum fiqih madzhab Syafi’i sudah banyak beredar, sebagai sebuah metode yang ditawarkan Imam Syafi’i kepada Abdurrahman bin Mahdi yang kala itu berada di Makkah untuk melakukan ijtihad dalam beberapa hal khusus.

Beliau (as-Syafi’i) menyebutkan 4 dasar istinbath hukum, yaitu al-qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas. Sampai beliau berpendapat dalam kitab ini bahwa “Tidak boleh bagi seseorang mengatakan suatu masalah dengan kata -ini halal dan ini haram- kecuali sudah memiliki pengetahuan (ahli) tentang hal itu. Pengetahuan tersebut adalah Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.”

Ketika seseorang menghafal hadits atau ayat al-qur’an tidak serta merta membuat orang itu bisa melakukan istinbath hukum dan menelurkan satu produk hukum terhadap masalah tertentu. Ibnul Qayyim dalam pembukaan salah satu kitabnya yang berjudul I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-‘Alamin menukil sebuah kisah yang sangat menarik, disadurnya dari riwayat Muhammad bin Abdullah bin Al-Munadi. Muhammad adalah salah satu perawi hadits yang beberapa kali menjadi “perantara sanad” bagi para Imam hadits. Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya, Al-Jami’ mengkategorikannya sebagai perawi yang tsiqah (kredibel).

Suatu ketika, Muhammad mendengar seseorang sedang bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal (Pemimpin madzhab Hanbali),

“Wahai Imam, Jika ada seseorang yang sudah hafal 100 ribu hadits, apakah ia sudah dikatakan faqih(Ahli fikih)?”
“Belum” jawab Imam Ahmad.

Kemudian orang ini bertanya lagi, “Seandainya hafal 200 ribu hadits?”,
Imam Ahmad lagi-lagi menjawab “belum”.

Sekali lagi, orang itu bertanya “Kalau hafal 300 ribu hadits?”, Imam Ahmad menanggapi lagi, “Tentu belum”.

Kemudian orang itu bertanya lagi, “Jika hafal 400 ribu hadits?”, Imam Ahmad menjawab, “Mungkin bisa.” sambil mengisyaratkan gerak tangan yang terombang-ambing.

Kemudian dari sumber yang lain Abul Husain pernah bertanya pada kakeknya tentang jumlah hafalan hadits Imam Ahmad bin Hanbal, hingga sang kakek menjawab “Sekitar 600 ribu hadits”. Sedangkan ada beberapa pendapat lain dari Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar al-‘Alam an-Nubalaa sebagaimana diriwayatkan dari Abu Zur’ah ketika berbicara dengan Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan “Bapakmu (Ahmad bin Hanbal) itu hafal satu juta hadits”.

Selain terkenal sebagai seorang mujtahid fiqih, Imam Ahmad juga merupakan salah satu imam hadits. Ada satu kitab hadits yang pernah ditulisnya berjudul Musnad Imam Ahmad, di dalamnya ‘hanya’ terdapat sekitar 27 ribu hadits yang sempat beliau tuliskan.

Maka kita sebagai orang awam hendaklah cukup berpegang pada ayat Allah,

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

Bertanyalah kepada Ahli Dzikir (orang yang mengetahui/ulama) jika kalian tidak mengetahui“. (QS An-Nahl: 34)

Wafatnya Seorang Alim adalah Musibah Terbesar Dunia

Pada suatu kesempatan KH Ma’ruf Amin dawuh “mautul ‘alim mautul ‘alam”. Meninggalnya seorang alim seperti matinya dunia. Pagi ini ada kabar yang sangat menghentak, seorang ‘alim besar Indonesia yang telah terbukti mencetak puluhan ribu kader ulama nusantara meninggal dunia. Hadratu as-Syaikh Maimoen Zubair namanya, bukan saja ‘alim, juga ‘allamah dan faqih. Pengasuh pondok pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Beliau meninggal dalam rangkaian prosesi persiapan haji, di Makkah al-Mukarramah.

Dalam surah Ar-Ra’d ayat 41 Allah berfirman,

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا ۚ وَاللَّهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ ۚ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami mendatangi daerah-daerah (orang yang ingkar kepada Allah), lalu Kami kurangi (daerah-daerah) itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; Dia Mahacepat perhitungan-Nya.

Sedikit penjelasan dalam kitab tafsir Ibnu Katsir yang dinukil dari perkataan Ibnu Abbas dan Mujahid. Berikut adalah kutipannya,

وقال ابن عباس في رواية : خرابها بموت فقهائها وعلمائها وأهل الخير منها . وكذا قال مجاهد أيضا : هو موت العلماء

“Berkata Ibnu Abbas dalam satu riwayat: Berkurangnya bumi adalah dengan kematian fuqaha dan ulama’-nya, serta para ahlul khair darinya. Demikian pula Imam Mujahid mengatakan juga: Berkurangnya bumi adalah kematian ulama’.”

Dalam suatu hadits yang mulia juga Nabi bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Namun, Ia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Ia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinanpimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Saat ini dunia sedang diguncang salah satu bencana terbesarnya, yaitu mautu al-‘alim, sebaik-baik manusia ketika datang kepadanya suatu musibah adalah mereka yang mengatakan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”. Dan sebagaimana dawuh Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin, generasi penerus ulama’ harus tetap meletakkan harapan setinggi-tingginya sehingga mampu menambal lubang di dalam agama ini.

إذا مات العالم ثلم في الإسلام ثلمة لا يسدها الا خلف منه

“Jika satu ulama wafat, maka ada sebuah lubang dalam Islam yang tak dapat ditambal kecuali oleh generasi penerusnya.”

Wallahu A’lam

*Mohon do’a dan fatihah sebanyak-banyaknya untuk Hadratu as-Syaikh Maimoen Zubair

Menilai Maqom Keimanan Kita

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya yang sangat fenomenal, Ihya’ Ulumiddin mengemukakan bahwa ada 3 tingkatan iman bagi orang yang beriman. Tentu saja tingkatan ini bukan untuk menghakimi orang lain, tapi lebih untuk mengukur seberapa dalam kadar keimanan yang kita miliki, atau sampai manakah ketahanan iman kita sebagai kaum mukminin.

Dalam Ihya’ juz 3 halaman 21 (Cetakan DKI), disebutkan oleh Al-Ghazali bahwa 3 tingkatan iman itu adalah, imannya orang awam, imannya ahli kalam, dan yang tertinggi adalah imannya para ‘arifin. Ketiga tingkatan ini berurutan mulai level yang paling bawah yaitu imannya orang awam, hingga puncaknya adalah imannya para ‘arifin, yaitu level iman para nabi dan auliya (para wali Allah).

Image by David Monje
3 Maqom Iman

Iman Orang Awam adalah imannya para muqollid. Pada maqom ini orang mengimani Allah dengan cara yang sangat simpel, yaitu ikut-ikutan. Sebagaimana dicontohkan, seseorang akan mempercayai bahwa Zaid ada di dalam rumahnya karena ada orang membawakan kabar itu (tentunya orang awam ini mempercayai si pembawa kabar itu).

Iman Ahli Kalam adalah imannya para ahlul ‘ilm. Mereka mengimani Allah karena memiliki berbagai macam petunjuk dan argumen bahwa memang hanya Allah sajalah yang patut diimani.

Jika pada kabar pertama tadi orang awam langsung percaya bahwa Zaid ada di dalam rumahnya, maka orang pada level ahli kalam ini pasti akan mengecek tanda-tanda kebenaran bahwa Zaid benar-benar ada di dalam rumah. Bagaimana? beragam cara, bisa karena melihat ada sandal Zaid di teras rumahnya, atau bahkan mendengar suara Zaid dari dalam, atau melihat kendaraan yang biasa dikendarai Zaid terparkir rapi di depan rumahnya, dan lain sebagainya.

Model iman seperti inilah yang kemudian oleh imam ahlussunnah, Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dianggap sebagai iman yang ideal. Seorang mukmin haruslah memiliki argumentasi logis dan ilmiah tentang keimanannya, meskipun itu hanya mengikuti bermacam bukti atau petunjuk yang sudah ada.

Iman Para ‘Arifin adalah level imannya para nabi dan auliya. Bagaimana tidak, para ‘Arifin ini sudah benar-benar membuktikan bahwa memang hanya Allah saja lah yang layak diimani. Mereka telah melihat Allah dengan nur yaqin.

Jika disambungkan dengan proses pembuktian bahwa Zaid ada dirumahnya, orang pada maqom ini sudah membuktikan secara nyata bahwa Zaid memang ada di dalam rumahnya. Orang ini mengalami pengalaman nyata dengan melihat Zahid dan mungkin sampai bersalaman dan mengobrol dengannya.

Menakar Ketahanan Iman

Jika diurutkan ulang, imannya orang awam ini adalah level iman yang paling mudah diraih tapi juga paling mudah hilang. Semua tergantung lagi pada siapa orang ini bergaul, karena memang iman pada maqom ini sangat mengikuti orang yang dipercayainya.

Bagaimana dengan iman para ahli kalam? Orang pada maqom ini akan butuh waktu lebih lama untuk percaya, tapi sekali ia mendapatkan petunjuk/argumen, ia akan mempertahankannya hingga ada petunjuk lain yang membuktikan sebaliknya.

Lalu apa yang akan terjadi dengan orang pada maqom ‘arifin? Apakah mungkin orang ini akan mengalami naik-turunnya iman? Tidak. Orang seperti ini sudah benar-benar membuktikan dan mengalami wahdatu asy-syuhud, sebuah fenomena penyaksian spiritual yang benar-benar membuktikan bahwa sesungguhnya hanya Allah yang penting, selainnya bukanlah apa-apa.

Fenomena spiritual inilah yang kadang menjadi kontroversi saat mulai diucapkan atau dituliskan dengan kata-kata. Karena memang tidak ada kata-kata yang mampu menceritakan peristiwa batin seseorang sesuai dengan kejadian sebenarnya. Kemudian muncullah beberapa auliya yang sampai mengatakan kata-kata kontroversi seperti Abu Mansur al-Hallaj, Abu Yazid Busthomi, dll.

Bagaimana dengan kita yang amatiran ini? Setidaknya ingat selalu doa yang diajarkan kanjeng nabi pada kita, “Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbiy ‘ala diinik”. Wallahu a’lam.