Menjadi Wali di Zaman Edan

Wali sering diceritakan sebagai tokoh-tokoh relijius yang punya berbagai macam karamah dan kesaktian. Ini tidak salah, memang kebanyakan cerita yang beredar di masyarakat kita seperti itu. Hingga kemudian banyak orang menganggap bahwa menjadi wali di era ini adalah suatu hal yang mustahil.

Model wali jalur karamah ini memang sudah tidak laku lagi saat ini. Bukan karena susah, saya yakin banyak wali yang punya karamah-karamah istimewa di luar sana. Tapi saya juga yakin, para wali itu menyembunyikan kewaliannya dengan sangat rapi. Disisi lain, masyarakat juga mungkin trauma dengan wali-wali palsu yang seakan-akan punya karomah luar biasa, jebul mblenjani. Seperti kasus di Probolinggo dulu.

Apakah seorang wali selalu identik dengan karamah-karamah yang aneh? Tidak juga. Setidaknya dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa “Alaa inna auliya Allahi laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanun”. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut bagi mereka, dan tidak pula mereka bersedih. Ayat ini menunjukkan bahwa ciri utama seorang wali adalah tidak ada rasa takut/khawatir akan masa depan, juga tidak merasa sedih atas apa yang sudah berlalu.

Ketika dua hal ini menyatu dan terealisasikan dalam hati seseorang secara kontinyu, sudah pasti ia akan menjadi wali. Maka tidak salah juga ungkapan para ahli hikmah, “Istiqamah khairun min alfi karamah”. Bahwasanya istiqamah itu lebih baik dibandingkan dengan 1000 karomah.

Menjadi Wali Jalur Fans MU, AC Milan, dan Arsenal

Photo by Denilo Vieira on Unsplash

Menjadi wali itu banyak jalurnya, inilah yang disepakati oleh para ulama. Ada yang jalur rajin dzikir, ada jalur sadaqah, ada jalur syukur, ada jalur menjaga nafsu, dll. Jalur-jalur ini, dalam kitab-kitab tasawuf biasa disebut sebagai maqamat.

Maqamat ini bisa dilakukan semuanya, tapi biasanya seseorang yang menapaki tangga-tangga maqomat ini akan menonjol di satu maqam tertentu saja. Kenapa? Ya karena dalam kehidupannya banyak mengalami sesuatu yang sama, hingga akhirnya secara otomatis ilmu tentang maqamat para wali ini teraplikasikan dengan apik.

Contoh saja para fans MU, AC Milan, dan Arsenal. Cobaan dalam hidupnya selalu datang bertubi-tubi. Meskipun tidak melulu kalah, kejadian-kejadian gagal menang inilah yang membuat para fansnya mak deg mak ser. Tentu lebih menyedihkan lagi kalo tim jagoannya kalah. Tapi bagaimana cara mengelola dan menangani kesedihan dan kekecewaan itu adalah kunci menjadi wali.

Menjadi fans dari sebuah klub besar yang sering gagal menang adalah sebuah riyadhah (latihan jiwa) tersendiri. Banyak aspek ilmu hati digunakan, sebut saja sabar, syukur, iman terhadap takdir, dll. Ketika kalah berarti harus sabar, saat imbang berarti saatnya untuk bersyukur, jika menang harus percaya bahwa ini adalah takdir dan karunia Tuhan. Sampai pada level ini, seorang fans sudah pasti sadar betul bahwa pemain-pemain dan pelatih klub kesayangannya benar-benar tidak memiliki kuasa dan tidak bisa diandalkan laiknya Tuhan. Sudah pasti para fans ini tidak pernah menggantungkan harapan pada makhluk yang lemah.

Gonta-ganti pemain dan pelatih berkualitas ternyata juga bukan jaminan bahwa sebuah tim bola akan mudah melaju dan meraih kemenangan demi kemenangan. Sesuatu yang terlihat siap, ketika diuji dengan ujian sebenarnya ternyata masih bisa gagal. Ujungnya tentu kembali pada kehidupan manusia, banyak pelajaran yang bisa diambil dari fans-fans setrong ini.

Jika poin-poin kesalehan dan pola-pola pikir ruhaniyah ini semakin dipraktikkan, sudah pasti peluang menjadi wali semakin besar. Melihat banyaknya jumlah fans dari tiga klub ini, jika separuhnya saja sukses jadi wali, insyaAllah kiamat masih lama. Apalagi kalo ketiga tim itu istiqomah dalam kondisi seperti ini, mungkin wali-wali jalur fans ketiga klub ini akan semakin membeludak.

Wallahu a’lam

Penulis: Ibnu Mas'ud

Santri yang bekerja sebagai desainer UX/UI.

One thought on “Menjadi Wali di Zaman Edan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.