Nama lengkapnya adalah Abu al-Khayr ‘Abdullāh bin ‘Umar bin Muḥammad bin ‘Ali al-Baiḍāwi al-Syāfi’i.1 Nama populernya adalah Imam al-Baiḍāwi. Beliau adalah seorang imam sekaligus seorang qaḍi di Syirāz dan dikenal dengan gelar Nāṣir al-Dīn (penolong agama). Tidak diketahui secara pasti kapan beliau dilahirkan, namun semua ahli sejarah sepakat bahwa beliau lahir di kota Baiḍā’, wilayah Persia pada saat itu.2
Imām al-Baiḍāwi tumbuh di Baiḍā’ dan mulai belajar disana. Beliau mempelajari fikih dan ilmu lainnya dari ayahnya, Qaḍi Umar. Setelah itu beliau menghabiskan sebagian besar hidupnya di Syirāz dan belajar dari para ulama besar disana. Disebutkan bahwa beliau sempat bermulazamah dan mengambil ilmu kepada Syaikh Muḥammad Katahtā’i hingga mengarang kitab tafsir atas isyarat dari gurunya tersebut.3
Beliau berhasil menulis beberapa kitab dalam berbagai fan keilmuan seperti al-Ṭawāli’ dan al-Miṣbāh dalam bidang akidah, al-Gāyah dalam bidang fikih, al-Minhāj dalam bidang ushul fikih, Syarh al-Maṣābih dalam bidang hadiṣ, serta Ma’ālim al-Tanzīl wa Asrār al-Ta’wīl dalam bidang tafsir.4 Beliau juga mengarang kitab al-Maṭāli’ dalam bidang mantiq dan selainnya yang tersebar ke seluruh penjuru negeri.5
Terjadi perbedaan pendapat tentang tahun wafat Imām al-Baiḍāwi, al-Ṣafadi dan Ibnu Kaṡīr menyatakan bahwa beliau wafat di Tibrīz pada tahun 685 H dan dimakamkan disana.6 Sedangkan al-Yāfi’i mengatakan bahwa Imām al-Baiḍāwi wafat pada tahun 692 H.7
Tafsīr Ma’ālim al-Tanzīl wa Asrār al-Ta’wīl 8
Tafsir karya Imām al-Baiḍāwi ini merupakan kitab tafsir berukuran sedang yang menggabungkan metode tafsir dan ta’wil sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab. Selain itu, kitab Tafsir ini juga menekankan dan menetapkan dalil-dalil yang menjadi pondasi bagi ajaran ahl al-sunnah wa al-jamā’ah.
Kitab tafsir ini merupakan bentuk ringkasan dari tafsir al-Kasysyāf karya al-Zamakhsyari yang beraliran mu’tazilah. Akan tetapi Imām al-Baiḍāwi meninggalkan segala ketergelinciran al-Zamakhsyari, utamanya dalam akidah. Meskipun kadangkala beliau manyepakati pendapat al-Zamakhsyari yang tergolong keliru, seperti menampilkan hadis-hadis mauḍū` terkait keutamaan surat per surat dalam al-Qur’ān.
Selain mengacu pada kitab al-Kasysyāf, Imām al-Baiḍāwi juga mengacu pada penafsiran Imām al-Rāzi dalam kitab Mafātīh al-Ghaib atau dikenal dengan tafsir al-Kabīr. Beliau juga menjadikan tafsir karya Rāghib al-Asfihāni sebagai referensi dalam penulisan tafsirnya.
Kitab tafsir karangan Imām al-Baiḍāwi mendapatkan respon yang baik dari para cendekiawan muslim setelahnya. Hal ini terbukti dari beberapa hāsyiah yang ditulis untuk menjelaskan lebih rinci apa yang ada dalam kitab ini. Diantara beberapa hāsyiah yang populer adalah karya Qāḍi Zādah, Syihāb al-Khafāji, dan al-Qūnawi.
Dr. Muḥammad Ḥusayn al-Żahabi menyatakan bahwa kitab tafsir karangan Imām al-Baiḍāwi merupakan salah satu induk dari kitab-kitab tafsir. Sehingga kitab ini sangat diperlukan bagi siapa saja yang ingin memahami rahasia dan makna al-Qur’ān. Kitab ini juga telah dicetak dan diterbitkan di berbagai penjuru dunia dengan berbagai variasi cetakannya.
Tabik,
Ibnu Mas’ud
Catatan Kaki:
1 Tāj al-Dīn al-Subki, Ṭabaqāt al-Syāfi’iyyah al-Kubrā vol. 4 (Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyyah, 2012), hal. 325.
2 ‘Alā’ Jamīl Abu ‘Unzah, “al-Baiḍāwi wa Juhūduhu al-Balāghiyyah fī Ḍau’i Tafsīrih”(Tesis, Jurusan Bahasa Arab Fakultas Adab The Islamic University Gaza, 2015), hal. 9.
3 ‘Alā’ Jamīl Abu ‘Unzah, “al-Baiḍāwi wa Juhūduhu al-Balāghiyyah…”, hal. 9.
4 Tāj al-Dīn al-Subki, Ṭabaqāt al-Syāfi’iyyah al-Kubrā vol. 4, hal. 325.
5 Abdullah al-Yāfi’i, Mir’āt al-Jinān vol. 4 (Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), hal. 165.
6 Ṣalāḥ al-Dīn al-Ṣafadi, al-Wāfi bi al-Wafiyāt vol. 17 (Beirut: Dār al-Ihya’ al-Turaṡ, 2000), hal. 206. Lihat juga: Ibn Kaṡīr, al-Bidāyah wa al-Nihāyah vol. 17 (Giza: Hijr, 1998), hal. 606.
7 Abdullah al-Yāfi’i, Mir’āt al-Jinān vol. 4, hal. 165.
8 Muḥammad Ḥusayn al-Żahabi, Al-Tafsīr wa al-Mufassirūn vol. 1 (Kairo: Dār al-Hadiṡ, 2012), hal. 254-259.

Tinggalkan komentar