Ajaran Tasawuf yang Membumi adalah Puncak Peradaban Islam

Siapa yang tidak kenal dengan Umar bin Abdul Aziz? Beliau adalah satu-satunya khalifah yang diakui oleh para sejarawan sebagai khalifah kelima setelah sayyidina Ali karramAllahu wajhah. Beliau juga dikenang sebagai khalifah yang disayang rakyatnya, yang menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk mencapai kemajuan bersama. Selain itu, beliau juga tergolong orang yang mempraktikkan ajaran zuhud, inti dari maqamat (tangga-tangga spiritual) tasawuf.

Umar bin Abdul Aziz atau yang juga disebut sebagai Umar tsani (kedua) memimpin umat Islam hanya sebentar saja, kurang lebih selama 3 tahun. Beliau juga tergolong masih muda -34 tahun- saat ditunjuk sebagai khalifah oleh pendahulunya, Sulayman bin Abd al-Malik. Dalam masa kepemimpinan yang sesaat itu, beliau mampu mempersatukan umat Islam dan menanamkan nilai-nilai inti dari ajaran tasawuf hingga menjadi ruh yang mewarnai kehidupan bermasyarakat penduduk Dinasti Umayyah saat itu.

Photo by Anna K on Unsplash

Sebagai pemimpin, beliau memberikan contoh secara nyata kepada masyarakatnya dengan mempraktikkan ajaran utama tasawuf, yaitu zuhud. Beliau sadar betul bahwa sejak dilahirkan, manusia sudah berpotensi mati. Sebagaimana dalam sebuah hadits diterangkan:

“Banyak-banyaklah kalian mengingat kematian! Sebab mengingat mati bisa membersihkan dosa-dosa dan bisa membuat kalian hidup zuhud di dunia. Jika kalian mengingat mati di saat kalian sedang kaya, niscaya (kalian sadar bahwa) kematian itu bisa memporak-porandakan kekayaan kalian. Dan jika kalian mengingat mati saat kalian hidup miskin, maka yang demikian itu bisa membuat kalian ridha dengan kehidupan kalian.”
– HR. Ibnu Abi al-Dunya dari Anas bin Malik

Manusia yang paripurna seharusnya sudah sangat sadar bahwa status-status keduniaan tidak ada yang pernah abadi. Saat seseorang kaya, kematian akan merenggut statusnya sebagai orang kaya. Sedangkan saat seseorang miskin, maka kematian pula lah yang akan melepas dan menghapuskan status kemiskinannya.

Dengan memberikan contoh yang nyata pada masyarakatnya tentang kezuhudan, beliau menjadi pemimpin yang sangat dicintai umatnya. Bahkan sangat masyhur terdengar cerita bahwa tidak ada seorangpun yang mau menerima zakat di seantero negeri yang beliau pimpin. Apakah karena semua penduduknya kaya? Tentu saja tidak. Mereka hanya merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Sekiranya hari itu masih bisa makan dan memenuhi kebutuhan keluarganya, mereka tidak mau menerima zakat dari pemerintah.

Istimewanya, mereka yang menolak pemberian zakat itu akan menyarankan petugas zakat untuk mencari orang lain yang lebih membutuhkannya. Saat petugas zakat berkunjung ke kediaman orang lain, penolakan serupa juga dialami. Bahkan mereka menyarankan hal yang sama. Kejadian ini berulang terus hingga seluruh penjuru negeri disambangi, dan tidak ada seorang pun yang tidak berkata demikian.

Hal ini lagi-lagi tidak lepas dari peran ajaran tasawuf yang membumi, sehingga semua orang merasa tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari orang lain. Zuhud dalam praktik kehidupan secara otomatis akan mengikis sedikit demi sedikit sifat ananiyah (egois/aku-sentris) seorang pelaku zuhud, sehingga seseorang akan lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri.

Peradaban seperti inilah yang menurut para sufi menjadi puncak peradaban Islam. Besarnya peradaban bukan hanya dinilai dari luasnya kekuasaan, bukan pula pada besarnya perpustakaan dan jutaan kitab yang diproduksi oleh para ulama, namun puncak peradaban Islam adalah ketika nilai-nilai inti ajaran Islam sudah membumi dan sulit dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat.

Wallahu a’lam

Kita Seharusnya Tahu Kalau Kita Tidak Tahu (Bag 1)

Kanjeng Nabi bersabda, “Barang siapa yang dihendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya (menjadikannya ahli) dalam urusan Agama”. Hadits ini sangat terkenal, utamanya jika kita membuka kitab-kitab fiqih karya para ulama salaf, teks hadits ini biasanya diletakkan di atas bagian pembukaan kitab.

Penyebutan istilah fiqih sendiri memang berasal dari hadits ini, karena sebenarnya fiqih adalah pemahaman tentang hukum islam. Kasarnya, fiqih mengungkap pemahaman-pemahaman para ulama’ (yang sesuai persyaratan tentunya) tentang pola hukum ibadah dan muamalah berdasarkan teks induk (al-qur’an dan hadits). Fiqih kemudian dikemas secara sistematis, terstruktur dan siap saji, sehingga seorang awam pun akan dengan sangat mudah memahaminya untuk kemudian mempraktikkannya.

Image result for kitab kuning
Source: Wikipedia

Fiqih merupakan produk hukum siap saji ini dikembangkan melalui metodologi khusus, sistemik, dan konsisten yang pertama kali dirancang prosedurnya oleh Imam Syafi’i dalam kitab Ar-Risalah, kitab ushul fiqih pertama. Metode ini dibukukan disaat-saat akhir setelah produk hukum fiqih madzhab Syafi’i sudah banyak beredar, sebagai sebuah metode yang ditawarkan Imam Syafi’i kepada Abdurrahman bin Mahdi yang kala itu berada di Makkah untuk melakukan ijtihad dalam beberapa hal khusus.

Beliau (as-Syafi’i) menyebutkan 4 dasar istinbath hukum, yaitu al-qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas. Sampai beliau berpendapat dalam kitab ini bahwa “Tidak boleh bagi seseorang mengatakan suatu masalah dengan kata -ini halal dan ini haram- kecuali sudah memiliki pengetahuan (ahli) tentang hal itu. Pengetahuan tersebut adalah Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.”

Ketika seseorang menghafal hadits atau ayat al-qur’an tidak serta merta membuat orang itu bisa melakukan istinbath hukum dan menelurkan satu produk hukum terhadap masalah tertentu. Ibnul Qayyim dalam pembukaan salah satu kitabnya yang berjudul I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-‘Alamin menukil sebuah kisah yang sangat menarik, disadurnya dari riwayat Muhammad bin Abdullah bin Al-Munadi. Muhammad adalah salah satu perawi hadits yang beberapa kali menjadi “perantara sanad” bagi para Imam hadits. Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya, Al-Jami’ mengkategorikannya sebagai perawi yang tsiqah (kredibel).

Suatu ketika, Muhammad mendengar seseorang sedang bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal (Pemimpin madzhab Hanbali),

“Wahai Imam, Jika ada seseorang yang sudah hafal 100 ribu hadits, apakah ia sudah dikatakan faqih(Ahli fikih)?”
“Belum” jawab Imam Ahmad.

Kemudian orang ini bertanya lagi, “Seandainya hafal 200 ribu hadits?”,
Imam Ahmad lagi-lagi menjawab “belum”.

Sekali lagi, orang itu bertanya “Kalau hafal 300 ribu hadits?”, Imam Ahmad menanggapi lagi, “Tentu belum”.

Kemudian orang itu bertanya lagi, “Jika hafal 400 ribu hadits?”, Imam Ahmad menjawab, “Mungkin bisa.” sambil mengisyaratkan gerak tangan yang terombang-ambing.

Kemudian dari sumber yang lain Abul Husain pernah bertanya pada kakeknya tentang jumlah hafalan hadits Imam Ahmad bin Hanbal, hingga sang kakek menjawab “Sekitar 600 ribu hadits”. Sedangkan ada beberapa pendapat lain dari Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar al-‘Alam an-Nubalaa sebagaimana diriwayatkan dari Abu Zur’ah ketika berbicara dengan Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan “Bapakmu (Ahmad bin Hanbal) itu hafal satu juta hadits”.

Selain terkenal sebagai seorang mujtahid fiqih, Imam Ahmad juga merupakan salah satu imam hadits. Ada satu kitab hadits yang pernah ditulisnya berjudul Musnad Imam Ahmad, di dalamnya ‘hanya’ terdapat sekitar 27 ribu hadits yang sempat beliau tuliskan.

Maka kita sebagai orang awam hendaklah cukup berpegang pada ayat Allah,

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

Bertanyalah kepada Ahli Dzikir (orang yang mengetahui/ulama) jika kalian tidak mengetahui“. (QS An-Nahl: 34)