-
Siapa yang Diberi Hikmah, Ia Telah Diberi Kebaikan yang Banyak
Allah ta‘ālā berfirman, وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا “Dan siapa yang diberi hikmah, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah [2]: 269) Kata ḥikmah sendiri hadir di banyak tempat dalam al-Qur’an, dan di setiap tempat itu, ia memunculkan makna yang berbeda-beda. Penelusuran terhadap penggunaan kata ini di berbagai konteks ayat menghasilkan setidaknya empat makna yang…
-
Tiga Lapis Belenggu Syahwat
Setiap manusia yang pernah mencoba menahan diri dari sesuatu yang ia inginkan tentu tahu tentang betapa sulitnya perjuangan itu. Seseorang yang sedang berdiet dan melewati restoran favoritnya tidak hanya berhadapan dengan rasa lapar, tetapi juga dengan ingatan tentang betapa nikmatnya makanan di tempat itu, dan lebih dari itu, ia juga memiliki keyakinan bahwa menikmati makanan yang enak adalah hal yang…
-
Ibadah Karena Takut dan Harap, Memangnya Kenapa?
Kita mungkin pernah mendengar ungkapan bahwa beribadah karena mengharap surga atau takut neraka adalah ibadah level bawah, ibadah para pedagang yang memperhitungkan untung-rugi, dan bahwa ibadah yang sesungguhnya adalah ibadah tanpa pamrih apa pun selain karena Allah semata. Ungkapan semacam ini tersebar luas di berbagai majlis dan buku-buku keagamaan, dan tidak jarang pula disampaikan dengan nada yang merendahkan orang-orang yang…
-
Negeri Keselamatan
Surga memiliki beberapa nama, dan salah satunya adalah Dār al-Salām. Nama ini sendiri diperkenalkan oleh Allah Swt melalui firman-Nya, salah duanya terdapat dalam QS. Al-An‘ām [6]: 127 dan QS. Yūnus [10]: 25. Penamaan ini, jika ditinjau lagi, rasanya cukup menarik karena dari sekian banyak sifat yang bisa digunakan untuk menggambarkan surga, seperti kenikmatan, keindahan, atau keagungan, Allah Swt justru memilih…
-
Belajarlah dengan Sungguh-Sungguh
Abu Hurairah pernah menyatakan bahwa mempelajari satu bab ilmu tentang perintah dan larangan lebih ia cintai daripada melakukan tujuh puluh kali ghazwah (peperangan) di jalan Allah. Nah, bagaimana mungkin duduk mempelajari hukum jual-beli atau tata cara shalat bisa lebih mulia daripada bertempur di medan jihad dengan mengorbankan jiwa dan harta? Bukankah jihad adalah puncak pengorbanan seorang muslim? Pertanyaan ini sudah…
-
Pembentukan Watak
Kita acapkali tertegun menyaksikan bagaimana seorang kawan yang dulu kita kenal santun, bicaranya lirih, dan tak pernah absen melangkahkan kaki ke surau, di kemudian hari kita dengar kabar ia melakukan perbuatan yang membuat kita sampai perlu mengelus dada. Kita pun lantas sibuk mereka-reka sebab musababnya, membayangkan perubahannya itu terjadi dalam semalam seperti lakon-lakon di panggung sandiwara. Di dunia yang fana…
-
Wafatnya Seorang Alim adalah Kematian bagi Alam
Ilmu tidak dicabut dari dada manusia seperti air yang ditimba dari sumur hingga kering sumber mata airnya. Ia hilang bersama dengan pecahnya bejana-bejana penyimpan air tersebut. Sumbernya tetap ada, namun tak ada lagi wadah yang mampu menampungnya sebagaimana mestinya. Allah, Sang Penguasa langit dan bumi, mewafatkan para ulama yang menjadi wadah ilmu itu satu per satu, hingga ketika tidak tersisa…
-
Empat Syukur di Balik Musibah
Tidak akan ada manusia yang luput dari musibah. Setiap orang pasti akan merasakannya, entah cepat atau lambat, entah ringan atau berat. Al-Qur’an sendiri sudah mengingatkan bahwa ujian adalah keniscayaan: “Sungguh Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan” (QS. al-Baqarah [2]: 155). Ujian itu pasti datang. Pertanyaannya: bagaimana kita menyikapinya? Ketika sedang kebagian jatah…
-
Wajahnya Menjadi Suram
Suatu hari, Abū ‘Amr bin ‘Ulwān keluar rumah menuju Sūq al-Raḥbah (pasar al-Rahbah) untuk suatu keperluan. Di jalan, ia melihat jenazah lewat dan memutuskan untuk mengikutinya agar bisa menyalatkan mayit. Ia menunggu hingga jenazah dimakamkan. Saat itulah, tanpa sengaja, matanya jatuh pada seorang perempuan yang kebetulan tidak menutup wajahnya. Pandangannya tertahan sejenak, lebih lama dari yang seharusnya. Begitu sadar, ia…
-
Mencuri Pencuri
Suatu ketika menjelang subuh, seorang pencuri masuk ke rumah Malik bin Dinar. Si pencuri menggeledah seluruh sudut rumah, mencari barang berharga yang bisa dibawa. Namun rupanya tidak ada satu pun barang berharga yang bisa ditemukannya. Rumah itu kosong melompong, tidak ada apa-apa disana! Kecewa dengan usahanya yang berujung sia-sia, si maling itu pun ingin segera pergi dari rumah itu. Tanpa…