Semalam, saya menghabiskan waktu menjelang tahun baru di rumah kakak ipar. Ketika istri berangkat, saya sedang menulis di depan laptop. Selang beberapa saat, ketika saya telah bersiap untuk berangkat, mak bresss hujan deras turun. Saya yang berencana ngonthel (bersepeda) untuk berangkat, terpaksa mengurungkan niat tersebut sejenak.
Sambil menunggu hujan reda, saya menonton salah satu anime favorit yang sepertinya akan mendekati episode finalnya, Bleach. Satu episode berlalu, rintikan hujan yang biasanya bersuara nyaring akibat bertabrakan dengan kanopi galvalum tidak lagi terdengar. Ketika melihat keluar, gerimis tipis masih tampak melewati sorot lampu jalan. Saya pun menunggu lagi sampai bingung mengganti-ganti channel televisi.
Akhirnya, saya memutuskan untuk menerobos gerimis tipis itu. Bermodalkan mantel plastik khas Indomaret berwarna hijau dan topi, saya mencoba menerjang jalanan kotor sejauh kurang lebih satu setengah kilometer dengan mengayuh sepeda. Untungnya, lampu depan dan belakang sepeda saya cukup mumpuni. Jalan pintas gelap berpasir dan banyak genangan air dengan mudah bisa saya atasi, meskipun harus mengorbankan kecepatan.
Ketika sampai di tujuan, saya langsung makan nasi panas berlauk ayam goreng dengan sambalnya yang luar biasa enak. Karena belum makan sejak pagi, saya imbuh sekali lagi. Makan, ngobrol, dan menonton Nassar di Youtube mewarnai malam tahun baru itu. Belum sampai tengah malam, saya sudah angop berkali-kali. Setelah kenyang, saya dan istri pun pamit pulang. Saya kembali mengayuh sepeda, diikuti istri yang mengendarai sepeda motornya.
Sampai di rumah, saya naik ke studio. Ngleleng, ndak ngapa-ngapain. Saya mencoba membaca dan menandai beberapa kata-kata menarik dari sebuah jurnal desain untuk memfinalisasi rasa kantuk yang sedikit hilang karena ngonthel. Tak lama kemudian, suara kembang api terdengar nyaring saling bersautan. “Oh, sudah tahun baru,” gumam batin saya. Beberapa menit berikutnya, saya hanya diam, sesekali meneguk air putih di meja. Betul-betul tidak ngapa-ngapain. Saya pun sudah lupa sedang memikirkan apa ketika melamun itu.
Lamunan saya buyar ketika istri datang menghampiri di studio dan mengajak untuk beristirahat. Sebelum tidur, kami sedikit ngobrol tentang hubungan kami di tahun 2024, dan rencana-rencana di tahun 2025. Satu hal yang saya ingat dari obrolan itu, Januari 2025 bertepatan dengan bulan Rajab yang merupakan bulan kami menikah hampir delapan tahun lalu. Artinya, 10 Januari akan bertepatan dengan 10 Rajab. Persis delapan tahun usia pernikahan kami menurut kalender Hijriah. Tak terasa juga ya…
Kami juga sedikit membahas tentang memasuki usia kepala tiga di tahun ini. Ya, kami berdua akan resmi berusia 30 tahun di 2025. Kadang saya coba mengingat apa yang terjadi ketika mulai memasuki usia 20an, sepuluh tahun yang lalu. Tapi ingatan saya hanya kembali pada masa-masa bekerja keras untuk bertahan hidup, yang saya rasa tidak terlalu saya khawatirkan hari ini. Entahlah, mungkin setiap fase kehidupan memiliki struggle-nya masing-masing. Semoga saya tidak termasuk orang yang lupa dari mana asal saya setelah semua ini.
Jadi, selamat datang Tahun 2025 beserta rangkaian keresahan, masalah, dan juga kebahagiaan yang akan kau hadirkan. Saya, kami, akan bersiap menyambutnya!

Tinggalkan komentar